Etik dan Sebongkah Hati yang Kecil

Untuk melihat orang yang tak dapat “legawa,” pewayangan Jawa cukup mengetengah lakon Aswatama Nglandhak. “Legawa” pada dasarnya merupakan istilah Jawa yang memiliki makna yang agung. Ia berkaitan dengan sebongkah hati, yang menurut al-Ghazali, berperan sebagai pusat komando.

Dalam bahasa Arab, padanan kata yang tepat atas istilah “legawa” adalah “ridha” yang setingkat lebih tinggi dari iklhas atau di Jawa disebut sebagai “rila.” Maka, lazimnya, dalam kebudayaan Jawa dua istilah itu digabungkan ketika terdapat hasrat ingin menandaskan: “rila legawa.”

Aswatama adalah salah satu tokoh pewayangan yang masih hidup seusai perang besar Bharatayudha. Rasa sakit hati Kurawa atas kekalahan perang kemudian dilanjutkan dan diubah menjadi sebuah gerakan yang terstruktur oleh anak Rsi Drona itu, yang secara permukaan kentara dengan sanksi-sanksi sosial yang cukup memakan banyak korban.

Membandingkan kisah Aswatama dan drama “etika” atau “etik” di sepanjang pilpres 2024 memang cukup menarik, untuk kemudian menggunakannya sebagai kacamata dalam melihat bagaimana “barisan-barisan sakit hati” yang dulu pernah dikalahkan Jokowi masih tersisa bahkan pun dalam transformasinya yang, barangkali, di luar bayangan orang.

Ibarat perang Bharatayudha, pada dasarnya, dengan melihat pola-pola dan struktur-struktur yang ada, kita tengah hidup di masa pasca perang besar itu. Ketika pun ada orang yang merasa berperang atau mau berperang, sebenarnya ia tengah melangsungkan sebuah perang “kecil” yang memang berefek, yang dalam lakon wayang Aswatama Nglandhak, disebut sebagai kegiatan “nglandhak.”

Dalam kegiatan nglandhak-nya itu sang putra Drona, yang beribukan pelacur dengan kiasan “kuda sembrani,” berhasil membakar sebagaian loyalis Kurawa dan membunuh beberapa tokoh penting di pihak Pandawa. Alasan Aswatama dalam mengobarkan perang kecil yang dianggapnya dapat melipurkan laranya adalah, meskipun sebenarnya ia bukanlah anggota keluarga Kurawa dan orang Hastina, “etika” atau “etis” sudah tak dijunjung lagi.

Bagaimana pun Kurawa adalah kerabat Pandawa sendiri. Bagaimana pun Drona adalah guru Kurawa sekaligus Pandawa. Bagaimana pun Banuwati juga melahirkan seorang anak “patungan,” Lesmana Mandrakumara, antara Prabu Duryodana dan Pangeran Arjuna. Bagaimana pun Bhisma adalah seorang yang suci lagi agung. Maka, dalam pandangan Aswatama, etiskah perang besar Bharatayudha itu?

Demikianlah, ketaketisan kemudian perlu mendapatkan juga ketaketisan. Dan nglandhak, karena bukanlah sebuah peperangan yang membutuhkan landasan kesepakatan, undang-undang ataupun hukum, dipandang etis untuk dikobarkan.

Nglandhak, sebagai penyikapan etis Aswatama dan barisan-barisan sakit hatinya, pada dasarnya adalah juga sebentuk sikap yang menyisakan banyak pertanyaan etis. Etiskah seorang Aswatama yang bukan anggota keluarga Kurawa dan orang asli Hastina menuntaskan dendam mereka? Etiskah pandangan Aswatama atas prinsip etisnya untuk nglandhak yang sama sekali tak berlandaskan kesepakatan, undang-undang ataupun hukum, dalam perang dan berperang? Etiskah pembunuhan dalam gelap yang dilakukannya pada Banuwati, Srikandi, Trusthajumena, dan percobaan pembunuhannya pada Parikesit yang masih bayi? Etiskah ketakrelaan dan ketakridhaan Pangeran Sokalima itu atas kekalahan perang yang jelas-jelas sudah tersurat di Jitabsara, berlandaskan hukum dan undang-undang?

Namun, itulah yang pada kenyataannya terjadi, bagi Aswatama yang sudah sesak, ketaketisan memang mesti pula mendapatkan ketaketisan. Ketika hukum dirasa sudah dapat dipermainkan, maka etika dan sanksi etis yang berupa sanksi-sanksi sosial, yang jelas-jelas tak berdasarkan hukum atau sesuatu yang pasti sifatnya, etislah untuk kemudian dihunjamkan.

Sialnya, etika, pada sepanjang sejarah yang ada, adalah serupa kondom yang bisa ditiup dan dibentuk sedemikian rupa, sesuai dengan modal sosial-budaya, perspektif, dan juga jalur-jalur yang pernah ditempuh seseorang.

Sanksi-sanksi sosial yang direncakan bisa pula justru akan membuahkan ganjaran-ganjaran sosial karena sifat kelenturan “etika” atau “etis” yang menjadi lakon politik tahun 2024 ini. Bisa pula sanksi-sanksi sosial yang direncanakan itu berbalik, dibalikkan, atau dihadapi dengan sanksi-sanksi sosial tandingan.

Maka, di sinilah letak berbahanya “etika” atau “etik” daripada hukum. Pembelahan masyarakat atau golongan yang dapat terjadi akan justru dapat terlestarikan, seperti peristiwa nglandhak yang merupakan lanjutan kekecewaan belaka dari perang besar Bharatayudha.

Penulis : Heru Harjo Hutomo

Ilustrasi, Perang Bharatayudha merupakan peperangan yang melibatkan sesama saudara, yakni antara Pandawa dengan Kurawa. (Foto: perpusda.boyolali.go.id).

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid