Disebut Kader PKI, Nezar Patria Somasi Alfian Tanjung

Pemimpin Redaksi The Jakarta Post Digital sekaligus anggota Dewan Pers, Nezar Patria, melayangkan teguran hukum (somasi) kepada Alfian Tanjung, Senin (30/1/2017).

Nezar menuntut Alfian segera menghentikan penyebaran fitnah berupa kabar bohong tentang dirinya dan mencabut seluruh pernyataan yang mengatakan bahwa dirinya sebagai kader Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Kami menolak dan sangat berkeberatan dengan ucapan serta perkataan Saudara Alfian Tanjung yang saat ini beredar luas menjadi viral di media sosial,” ujar Kuasa Hukum Nezar, Jamalul Kamal Farza melalui siaran pers.

Sebagaimana banyak diberitakan media massa dan beredar luas di media sosial, pada hari Sabtu, 1 Oktober 2016, di Mesjid Jami’ Said Tanah Abang, Alfian Tanjung melontarkan tuduhan bahwa Nezar adalah orang PKI.

“Mereka (PKI) sudah menguasai Istana, hampir sebulan ini tak ada lagi konsultan tentara. Rapat-rapat di istana negara sekarang ini dipimpin oleh orang yang namanya Teten Masduki, Urip Supriyanto, Budiman Sudjatmiko, Waluyo Jati, Nezar Patria, dan sederet kader-kader PKI, yang mereka menjadikan istana tempat rapat rutin mereka tiap hari kerja di atas jam delapan malam ke atas. Keren ya, jadi istana negara sekarang jadi sarangnya PKI sejak bulan Mei 2016,” ujar Alfian dalam ceramahnya saat itu.

Kamal Farza menyesalkan ucapan Alfian Tanjung yang menyebutkan nama Nezar Patria dalam ceramahnya itu. Menurutnya, hal yang dilakukan Alfian adalah fitnah yang keji.

“Nezar sebagai generasi yang lahir dan besar di zaman Orde Baru jelas tidak pernah menjadi anggota apalagi kader PKI,” ujar Kamal Farza.

Kamal menambahkan, Alfian seakan mengajak umat Islam untuk mempercayai analisis yang dia buat, sehingga rangkaian isi ceramahnya itu berpotensi menempatkan Nezar seakan menjadi ancaman untuk umat islam.

“Sebagai Muslim, Nezar mustahil memusuhi Islam, yang telah menjadi agama serta identitas budayanya sebagai seorang yang lahir dan besar di Aceh, sebuah daerah yang kental tradisi Islamnya di nusantara,” tuturnya.

Kamal melanjutkan, tuduhan bahwa Nezar dan sejumlah aktivis “memimpin rapat malam di Istana” sebagai tuduhan yang sama sekali tak berdasar fakta dan merupakan kabar bohong yang dikarang oleh Alfian.

“Selama delapan belas tahun ini Nezar berprofesi sebagai wartawan profesional, dan dia tak pernah masuk dalam arena politik apalagi menjadi pejabat di Istana. Sebagai wartawan dia menjunjung tinggi sikap obyektif, tak memihak, dan terbukti independen dalam melakukan tugasnya,” ujar Kamal.

Menurut Kamal Farza, meski didera oleh fitnah keji, kliennya masih beritikad baik melayangkan somasi karena mempertimbangkan kemungkinan Alfian sedang khilaf dan salah sasaran.

“Tetapi jika Alfian tidak menggubris somasi ini, maka kami akan melakukan tuntutan hukum,” ujar Kamal Farza.

Karena itu, Kamal dan kawan-kawan memberikan waktu selama 3 x 24 jam kepada Alfian untuk segera mencabut ucapan, perkataan, dan menghentikan penyebaran fitnahnya baik lewat media cetak maupun elektronik, serta membuat pernyataan maaf di media massa nasional.

Risal Kurnia

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid