Larangan Imigrasi Trump Ilegal

Hari Jumat (27/1/2017) lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meneken perintah eksekutif yang melarang imigran dari tujuh negara Islam, yakni Irak, Suriah, Libya, Yaman, Iran, Sudan dan Somalia. Perintah ini berlaku selama 90 hari, tetapi bisa diperluas menjadi larangan tanpa batas.

David J. Bier, pengamat kebijakan imigrasi dari Cato Institute’s Center for Global Liberty and Prosperity, menganggap kebijakan Presiden Trump itu sangat diskriminatif dan ilegal.

“Tapi perintah itu ilegal. Lebih dari 50 tahun yang lalu, Kongres melarang diskriminasi berdasarkan asal-usul kebangsaan,” tulis David di The New York Times, Jumat (27/1).

David menceritakan, larangan kongres itu diberlakukan setelah sejarah panjang Negeri Paman Sam mendiskriminasi para pendatang berdasarkan asal-usul kebangsaan.

Di akhir abad ke-19, keluar Undang-Undang yang melarang semua orang Tionghoa, Jepang dan seluruh Asia. Kebijakan itu disebut “zona terlarang Asia”.

Kemudian, pada tahun 1924, Kongres menciptakan apa yang disebut “sistem asal-usul yang komprehensif”, yang mengatur kuota imigrasi yang mengutungkan Eropa Barat, tetapi mendiskriminasi Eropa timur, Asia dan Afrika.

“Tuan Trump kelihatannya mau mengembalikan ‘zona terlarang Asia’ jenis baru dengan perintah eksekutif,” kata David.

Masalahnya, kata David, UU imigrasi dan kebangsaan 1965 melarang segala bentuk diskriminasi terhadap imigran berdasarkan asal-usul kebangsaan.

Tetapi, kelihatannya berlindung di balik UU 1952 yang memungkinkan seorang Presiden punya kewenangan membuat penagguhan terhadap setiap pendatang asing yang dianggap mengancam kepentingan AS.

“Tetapi Presiden (Trump) mengabaikan fakta bahwa Kongres membatasi kewenangan ini di tahun 1965,” tegas David.

Dalam keputusannya Kongres menyatakan “tidak seorang pun boleh didiskriminasi dalam penerbitan visa imigran karena ras, jenis kelamin, kebangsaan, tempat kelahiran maupun tempat tinggal.

Kanada Buka Pintu

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau bereaksi atas kebijakan Presiden Donald Trump melarang imigran dari negara-negara Islam.

“Mereka yang melarikan diri dari penganiayaan, teror dan perang, Kanada akan menerima anda, terlepas apapun keyakinan anda. Keragaman adalah kekuatan kami,” tulis Trudeau melalui akun twitternya, Sabtu (28/1).

Tidak hanya itu, Trudeau juga memposting foto dirinya menyambut anak perempuan pengungsi dari Suriah di bandara Toronto pada akhir 2015 lalu. Saat itu Trudeau menyambut kedatangan lebih dari 39.000 pengungsi Suriah.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid