Angin Populisme Merembet ke Perancis?

Hari minggu (29/1) lalu, pemilihan Calon Presiden dari Partai Sosialis membawa kejutan. Benoît Hamon, kandidat yang tidak diunggulkan, terpilih sebagai orang yang akan diusung Partai Sosialis sebagai Calon Presiden di Pemilu Perancis pada April mendatang.

Hamon, yang dianggap “sayap kiri” di Partai Sosialis, mendapatkan suara 58 persen. Sedangkan pesaingnya, Manuel Valls, Perdana Menteri Perancis saat ini, hanya mendapat 42 persen. Kemenangan Hamon diluar prediksi semua lembaga survei.

“Malam ini kiri berhasil menegakkan kepala kembali,” kata Hamon kepada pendukungnya, seperti dikutip New York Times, Jumat (29/1/2016).

Kemangan Hamon mengejutkan khalayak. Dia adalah politisi biasa-biasa saja yang mendadak diperhitungkan. Kemunculannya disamakan dengan Jeremy Corbyn di Inggris dan Bernie Sanders di Amerika Serikat.

Di sebuah negeri dimana ide-ide kiri tumbuh subur sepanjang sejarahnya, kehadiran Hamon di Pemilu Perancis tentu tidak terlalu istimewa. Tetapi keberhasilan Hamon merebut tampuk kepemimpinan Partai Sosialis, partai terkuat dan berkuasa di Perancis saat ini, tentu menakjubkan.

Tahun 2012 lalu, Partai Sosialis menang pemilu, dan berhasil menghantarkan François Hollande sebagai Presiden. Sayang, begitu berkuasa, Holande sangat neoliberal. Banyak pemilih sosialis menuding Hollande telah meninggalkan agenda sosialis. Dukungan terhadap Hollande anjlok: tingkat kepuasan terhadap pemerintahannya hanya 4 persen.

Di pemerintahan Hollande, Hamon sempat menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Namun, pada Agustus 2014, dia mengundurkan diri karena menganggap sang Presiden sudah menghianati cita-cita sosialisme. Di partai Sosialis, Hamon menjadi dirigen faksi sayap kiri.

“Negeri ini butuh kiri, tetapi kiri yang modern dan inovatif,” ujar Hamon.

Dalam kampanyenya, Hamon berjanji akan memberi gaji kepada setiap warga Perancis sebesar 750 euro atau 805 USD per bulan. Konsep ini disebut pendapatan dasar universal (universal basic income).

Dia juga berjanji akan menerapkan “pajak robot”, melegalkan mariyuana, dan mengurangi jam kerja perminggu dari 35 jam menjadi 32 jam. Tidak hanya itu, politisi berusia 49 tahun ini juga berkomitmen pada perlindungan lingkungan dan menentang segala bentuk diskriminasi.

Angin populisme

Kemunculan Hamon di Perancis kini, setelah Jeremy Corbyn di Inggris, Bernie Sanders di AS, Syiriza di Yunani, dan Podemos di Spanyol, adalah respon terhadap sistim ekonomi-politik yang terus-menerus memelihara ketidakadilan.

Kondisi serupa juga yang melahirkan Donald Trump di AS dan lonjakan suara partai-partai ultra-kanan di Eropa.

Di perancis sendiri, Marine Le Pen dan partainya, Front Nasional, sedang meroket naik. Padahal, Le Pen satu garis ideologi dengan Donald Trump: anti-imigran, islamphobia, xenophobia, rasis dan anti-demokrasi.

Untuk memenangkan pemilu, Le Pen banyak belajar dari keberhasilan Trump: menjual jargon nasionalisme sempit, proteksionisme, anti-elit mapan dan janji memberi pekerjaan kepada rakyat Perancis.

Dan sekarang Le Pen di atas angin. Berbagai jajak pendapat mengunggulkannya di tempat pertama dengan perolehan suara sekitar 25-26 persen. Tempat kedua diduduki oleh kandidat sayap kanan dari Partai Republikan, François Fillon.

Tempat ketiga diduduki oleh seorang politisi muda yang sedan naik daun, Emmanuel Macron. Dia bekas kader partai Sosialis yang kini maju dengan gerakan politik baru berhaluan sosial-liberal: En Marche! (Maju).

Hamon sendiri diprediksi hanya menempati posisi keempat, di tengah melorotnya dukungan terhadap partai Sosialis dan pemerintahan Hollande. Banyak yang menyebut perjuangan Hamon merebut kursi Presiden Perancis sebagai “mission impossible”.

Perjuangan Hamon memang berat. Pertama sekali, dia harus berhasil menyatukan kembali partainya, Sosialis, yang tengah terpecah dalam dua faksi: sayap kiri dan kiri tengah. Selanjutnya, dia harus bisa menyatukan barisan kiri Perancis yang berbaris sendiri-sendiri.

Selain Hamon, kaum kiri Perancis juga punya pilihan lain. Salah satunya yang terkuat adalah Jean-Luc Mélenchon, bekas anggota partai Sosialis yang kini memimpin partai Kiri (Parti de Gauche). Di pemilu 2012 lalu, Mélenchon menempati urutan keempat dengan perolehan 11,1 persen suara.

Kandidat sayap kiri lainnya adalah Philippe Poutou dari Liga Komunis Revolusioner (LCR). Kemudian ada juga Nathalie Arthaud dari Lutte Ouvrière (Perjuangan Buruh). Kemudian ada Partai Komunis Perancis (PCF).

Tentu bukan perjuangan yang gampang, tetapi bukan tidak mungkin!

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid