Di Hadapan Globalisasi, Pilihan Kita: Bertahan atau Tergilas!

Perkembangan globalisasi, yang juga disertai dengan perkembangan teknologi informasi dan pasar bebas, membawa imbas terhadap para pekerja seni dan budaya.

“Kita hanya diberi pilihan; bertahan agar tetap survive atau dilibas geraknya,” kata Ketua Umum Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker), Tejo Priyono, dalam dalam diskusi Kopi Darat Pembaca Berdikari Online bertajuk “Memperkuat Kebudayaan Nasional” di kedai kopi Damarbhumi Bukit Duri, Selasa (14/6/2016).

Tejo mengungkapkan, banyak pekerja seni yang gulung tikar karena mempertahankan idealismenya. Alhasil, ungkap Tejo, banyak seniman yang masih berjiwa kerakyatan terpaksa harus nyambi sebagai pembuat patung malaikat atau taman rumah-rumah orang kaya.

Namun, lanjut Tejo, globalisasi neoliberal tidak hanya berdampak pada kehidupan pekerja seni-budaya, tetapi juga menggerus kepribadian nasional. Mulai dari bahasa hingga produk-produk kebudayaan lainnya.

“Dalam hal berbahasa, misalnya, kita seperti terlihat keren dan meyakinkan bila berbicara  atau beragumen campur-campur dengan bahasa Inggris,” ujarnya.

Namun demikian, tidak semua pekerja seni menyerah pada gempuran globalisasi. Kata dia, ada beberapa pekerja seni yang berhasil mensiasati efek globalisasi tersebut.

Dia mencontohkan keberhasilan Bondan Prakoso dan Fade 2 Black, yang berhasil mengawinkan antara rap dengan keroncong melalui lagu “Kroncong Protol”. Juga keberhasilan Manthous yang tekun mencipta hingga menemukan formula musik dan kemudian terkenal dengan Campursari.

“Manthous padukan itu alat musik saron, demung, gendher, kendang, siter, gong dengan keyboard, ukulele, cak, cuk juga bass elektrik,” ungkapnya.

Tejo juga mengapresiasi usaha sejumlah sineas yang melahirkan film-film mendidik dan nasionalis, seperti Garin Nugroho dengan karyanya Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2014), Hanung Bramantyo dengan Sang Pencerah (2010), Soekarno: Indonesia Merdeka (2013), dan lain-lain.

Dalam rangka merumuskan program dan strategi kebudayaan kedepan, kata Tejo, Jaker akan menyelenggarakan Konferensi Nasional (Konfernas) pada akhir Agustus mendatang.

Dia mengajak pekerja seni budaya di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi di acara tersebut.

Mahesa Danu

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid