Nirwan Arsuka: Jangan Sepelekan Kerja Kebudayaan

Pengamat budaya Nirwan Ahmad Arsuka mengatakan, faktor kebudayaan semakin berpengaruh dalam mendorong perubahan masyarakat.

“Memang kadang-kadang (kebudayaan) tampil sebagai bagian dari kelas penguasa, tetapi seringkali justru tampil sebagai pembebas,” kata Nirwan dalam diskusi Kopi Darat Pembaca Berdikari Online bertajuk “Memperkuat Kebudayaan Nasional” di kedai kopi Damarbhumi Bukit Duri, Selasa (14/6/2016).

Alumunus teknik nuklir Universitas Gajah Mada (UGM) ini mengingatkan, kebudayaan juga berguna dalam memasok imajinasi tentang masyarakat yang lebih baik.

“Suatu masyarakat akan punah jika tidak ada lagi imajinasi tentang dunia masa depan yang lebih baik. Dan itu berasal dari kebudayaan,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Nirwan, kebudayaan seringkali dipakai untuk mendorong penyelesaian konflik. Terutama setelah pendekatan ekonomi dan politik gagal menyelesaikan konflik.

Tidak hanya itu, ungkap dia, kebudayaan juga seringkali dipakai untuk mendorong partisipasi luas masyarakat. Dia mencontohkan pengalamannya menggerakkan Pustaka Bergerak di daerah Mandar di Sulawesi Barat.

“Di sana kami menggunakan perahu, yang notabene merupakan simbol kebudayaan masyarakat mandar,” terangnya.

Lebih jauh lagi, Nirwan mengatakan, pengalaman budaya juga hadir di kepala Bung Karno saat merumuskan Trisakti, yaitu berdaulat di bidang politik, berdikari di lapangan ekonomi dan berkepribadian secara budaya.

“Tiga-tiganya itu tidak bisa dipisahkan. Tidak mungkin bisa berdaulat secara politik dan berdikari secara ekonomi, kalau kita tidak berkepribadian secara budaya. Begitu juga sebaliknya,” jelasnya.

Dia menilai, sekarang ini orang Indonesia banyak bicara kebudayaan, tetapi pengetahuan tentang kebudayaan sendiri sangat lemah. Dia mencontohkan ketiadaan museum tempe dan tahu sebagai sumbangsih kuliner Indonesia pada dunia.

“Ini kan makanan rakyat, dan itu perlu museum untuk mengetahui sejarah makanan itu dan menyimpan artefak kulturalnya,” ujarnya.

Menurutnya, orang sering bicara budaya, bahkan mengagumkan kebudayaan nasional, tetapi kurang merawat artefak-artefak kebudayaan masa lalu.

Karena itu, menurut Nirwan, salah satu kerja kebudayaan kedepan adalah kerja mendokumentasikan kebudayaan. Untuk tahap awal, kerja pendokumentasian itu bisa dilakukan secara virtual.

“Kita mungkin bikin museum virtual dulu dengan melibatkan berbagai pihak,” imbuhnya.

Nirwan menegaskan, aspek penting dari berkepribadian secara budaya adalah mengenali kebudayaan kita, mengumpulkan pencapaian budaya dalam khasanah kita, dan melakukan pembaruan-pembaruan kebudayaan.

Mahesa Danu

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid