Darah dan Revolusi

Inilah jaman ketika arus revolusi sedang berkecamuk. Banyak manusia Indonesia ikut serta atau terseret dalam arus revolusi ini. Mereka rela berkorban apa pun, termasuk berkorban nyawa, demi cita-cita kemerdekaan. Mereka sering disebut sebagai “manusia Revolusi”.

Salah satunya adalah Sudarto (Del Juzar). Sebelum revolusi kemerdekaan berkobar, dia bekerja sebagai seorang guru sekolah. Begitu revolusi berkobar, Sudarto memilih bergabung dalam perjuangan bersenjata. Sampai akhirnya ia berpangkat Kapten di sebuah kesatuan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pasca perjanjian Renville, pasukannya ditempatkan di Sarangan, sebuah daerah di kaki gunung Lawu, Jawa Timur. Pada saat itu meletus “peristiwa Madiun”. Bagi Sudarto, peristiwa Madiun adalah perpecahan di kalangan kekuatan revolusi. Ia pun mengalami tekanan batin.

Tidak hanya itu, peristiwa Madiun jadi ajang balas dendam pihak-pihak tertentu. Kapten Sudarto bertindak tegas: ia memecat orang-orang yang menjadikan tentara sebagai ajang balas dendam.

Tetapi Kapten Sudarto juga “manusia biasa”. Ia tak bisa menutupi keadaan keluarganya yang berantakan. Di tengah-tengah gemuruh revolusi, ia terkadang merasa “kesepian”. Ia pun jatuh cinta dengan Connie, gadis keturunan Jerman yang baru saja kehilangan ayahnya.

Tetapi “hubungan asmara” itu jadi bahan cerita banyak orang. Maklum, revolusi punya hukumnya sendiri: tidak ada tempat selain perjuangan. Adam, kawan seperjuangan Sudarto, juga tak setuju dengan hubungan itu. Adam merupakan tipe manusia Indonesia yang sedang terbakar api revolusi.

Pasukan Sudarto mendapat perintah ke Jawa Barat. Inilah perjalanan (longmarch) yang penuh darah dan air mata itu. Setiap saat mereka harus bersiap-siap diberondong oleh musuh. Itulah revolusi! Darah dan air mata datang silih berganti, sebagai harga yang harus dibayar demi kebebasan, kemerdekaan, dan keadilan.

Di perjalanan ini, Sudarto bertemu dengan seorang petugas palang merah. Namanya Widya. Keduanya pun segera saling jatuh-cinta. Sayang, hubungan keduanya kembali ditentang oleh kawan-kawannya. Gara-gara ini, Sudarto kembali bertentangan dengan Adam. Bahkan, Adam sempat mengadukan kasus ini ke markas besar militer di Jogjakarta.

Tetapi rintangan tak berhenti. Di sebuah desa, Sudarto dan pasukannya diserang oleh pasukan DI/TII. Sudarto tertembak di bagian lengan. Belum lagi serangan pasukan Belanda. Dalam sebuah pertempuran, Adam dan Widya tertembak. Keduanya gugur dalam perjuangan bagi negerinya.

Inilah film “Darah Dan Doa”, karya Usmar Ismail. Film ini dibuat tahun 1950, ketika perang kemerdekaan baru saja usai. Tampak Usmar Ismail ingin berusaha menampilkan komplikasi karakter manusia dalam revolusi: ada yang tergerak oleh idealisme, ada juga karena sekedar ikut-ikutan, dan tak sedikit yang berusaha mengambil untung.

Lewat film ini, Usmar Ismail juga menunjukkan bagaimana revolusi bisa mempersatukan manusia yang beragam demi kemerdekaan. Namun, revolusi juga menceraikan saudara, teman, dan sesama rakyat karena perbedaan politik dan tujuan. “Anak bunuh bapak, saudara bunuh saudara,” hal semacam itu sulit diterima oleh Sudarto.

Tetapi Usmar Ismail juga menyuguhkan sisi lain. Ia menyelipkan pesan: tak semua orang yang terseret revolusi punya idealisme sempurna. Diceritakan, misalnya, seorang prajurit yang kerjanya hanya mencari perempuan setiap memasuki desa atau perkampungan. Juga, tentang seorang perwira yang tega makan sendiri di tengah pasukannya yang kelaparan.

Di dalam revolusi banyak cobaan. Tidak sedikit yang goyah jiwa revolusionernya. Mereka pun mengalami demoralisasi. Kejadian-kejadian ini juga diselipkan oleh Usmar Ismail dalam film ini.

Yang menarik adalah sosok manusia revolusi ala Sudarto. Ia tak pernah menyerah dalam memperjuangkan cita-citanya. Pada upacara penguburan kawan-kawannya yang gugur, Sudarto berucap, “marilah kita lanjutkan perjuangan mereka dengan penuh keyakinan. Masih jauh jalan sebelum sampai pada apa yang kita cita-citakan: kemerdekaan, kemakmuran, dan kebahagiaan seluruh rakyat.”

Pada suatu ketika Sudarto ditangkap. Ia dijebloskan ke penjara. Di dalam penjara, Sudarto menyaksikan pejuang-pejuang yang tertangkap bersiap menghadapi hukuman mati. Sekeluarnya dari penjara, situasi sudah berubah: Belanda sudah mengakui kedaulatan Republik Indonesia.

Begitu bebas, ia mendapat panggilan petinggi militer Jogja. Karena menolak panggilan, Sudarto mendapat sanksi pemecatan. Sudarto, si “manusia Revolusi” itu, harus menerima nasib berbeda. Ia menyaksikan beberapa anak-buahnya sudah berubah pasca pengakuan kedaulatan.

Ironisnya lagi, menjelang penyambutan Bung Karno di Jakarta, Sudarto justru menemui panggilan Tuhan. Ia tertembak oleh seorang seorang aktivis komunis yang menuntut balas atas kematian kawan-kawannya dalam peristiwa Madiun.

Sudarto mewakili tak sedikit manusia revolusi yang berakhir tragis. Dia rela mengorbankan hidupnya bagi revolusi. Namun, belum sempat mencicipi hasil dari revolusi, Sudarto justru mati dibunuh oleh revolusi itu sendiri.

“Aku sudah berjuang, dilempar ke dalam buih, segala derita sudah kulalui. Sekarang, aku dilemparkan ke dalam keranjang sampah,” tutur Sudarto di pengujung film.

“Darah dan Doa” merupakan film pertama Indonesia merdeka. Hari pertama pengambilan gambar film ini, 30 Maret 1950, ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. Sebelumnya, pada 1926, ketika masih bernama Hindia-Belanda, ada film yang diproduksi orang Indonesia berjudul “Loetoeng Kasaroeng”.

Film ini sangat relevan untuk melihat kembali dinamika revolusi Indonesia, yang tak satu warna, yang kompleks, dengan segala dinamikanya. Film ini juga bisa menjadi pengingat, bahwa kemerdekaan diperjuangkan dengan darah dan air mata, demi sebuah harapan mulia: Indonesia yang merdeka, adil dan makmur.

Jangan sia-siakan pengorbanan mereka: para pejuang kemerdekaan.

MAHESA DANU

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid