Agus Jabo Dan Sekolah Rakyat: Dari Aktivis Jalanan Yang Kini Mengawal Transformasi Sosial Negara

Di tengah derasnya sorotan terhadap berbagai program pemerintah, Program Sekolah Rakyat menghadirkan wajah berbeda dalam tata kelola kebijakan sosial nasional. Program ini bukan sekadar proyek pendidikan, melainkan upaya besar negara untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan berasrama bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Di balik program tersebut, sosok Agus Jabo Priyono muncul sebagai figur sentral yang membawa warna kepemimpinan berbeda di lingkungan Kementerian Sosial.

Agus Jabo bukan pejabat yang lahir dari ruang birokrasi yang nyaman. Ia datang dari jalan panjang perjuangan aktivisme rakyat. Lahir dari keluarga sederhana di Magelang, Jawa Tengah, ia tumbuh dalam keterbatasan ekonomi dan merasakan langsung sulitnya mengakses pendidikan. Pengalaman hidup itu membentuk cara pandangnya terhadap kemiskinan, bahwa kemiskinan bukan hanya soal kekurangan uang, tetapi juga soal sempitnya kesempatan dan lingkungan yang tidak mendukung seseorang untuk berkembang.

Jauh sebelum dikenal sebagai Wakil Menteri Sosial maupun Ketua Partai Rakyat Adil Makmur atau Partai Prima, Agus Jabo dikenal sebagai aktivis garis keras dari Partai Rakyat Demokratik atau PRD. Pada era Orde Baru, PRD dikenal sebagai salah satu kelompok oposisi paling keras terhadap pemerintah. Partai ini aktif menyuarakan isu demokrasi, ketimpangan sosial, hak buruh, hingga kritik terhadap sentralisasi kekuasaan negara. Dalam sejarah politik Indonesia, PRD bahkan pernah dicap sebagai gerakan radikal karena keberaniannya melawan rezim saat itu.

Agus Jabo tumbuh dalam atmosfer perjuangan tersebut. Ia terlibat langsung dalam dinamika gerakan mahasiswa dan aksi-aksi jalanan pada masa Reformasi 1998. Pengalaman itu membentuk karakter politiknya, keras terhadap ketidakadilan sosial tetapi tetap dekat dengan persoalan rakyat kecil. Dari jalanan demonstrasi hingga ruang pemerintahan, Agus Jabo membawa identitas sebagai aktivis yang lahir dari gerakan akar rumput.

Perjalanan politik Agus Jabo kemudian berlanjut melalui kepemimpinannya di Partai Prima. Partai ini lahir dengan semangat melanjutkan politik kerakyatan yang dahulu diperjuangkan PRD, tetapi dengan pendekatan yang lebih modern dan kontekstual. Prima membawa agenda keadilan sosial, industrialisasi nasional, penguatan UMKM, reforma ekonomi kerakyatan, hingga keberpihakan terhadap masyarakat bawah yang selama ini merasa jauh dari pusat kekuasaan. Kehadiran Agus Jabo di pemerintahan hari ini dipandang sebagai transformasi seorang aktivis oposisi menjadi bagian dari negara untuk melakukan perubahan dari dalam sistem.

Latar belakang itu pula yang membuat pendekatan Agus Jabo di Kemensos terasa ideologis sekaligus praktis. Ia memandang bantuan sosial tidak cukup hanya bersifat konsumtif dan jangka pendek. Negara, menurutnya, harus hadir lebih jauh untuk membangun kualitas sumber daya manusia sejak dini. Dari sinilah konsep Sekolah Rakyat mendapatkan pijakan yang kuat, yakni pendidikan gratis berbasis asrama yang memungkinkan negara mendampingi anak-anak miskin selama 24 jam penuh, mulai dari pendidikan formal, pembentukan karakter, hingga pemenuhan gizi dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Dalam berbagai kesempatan, Agus Jabo menegaskan bahwa banyak anak dari keluarga miskin sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi gagal berkembang karena lingkungan sosial yang tidak mendukung. Sekolah reguler dianggap belum cukup kuat memutus rantai kemiskinan jika setelah pulang sekolah anak-anak kembali ke rumah dengan kondisi serba terbatas, minim gizi, dan tanpa ruang belajar yang layak. Karena itu, konsep boarding school dipilih agar negara benar-benar hadir secara penuh dalam membentuk masa depan mereka.

Di bawah pengawalan Kemensos, Sekolah Rakyat berkembang cepat menjadi salah satu program prioritas nasional. Ratusan titik sekolah mulai dibangun dan dioperasikan di berbagai daerah dengan target menjangkau puluhan ribu anak dari keluarga prasejahtera. Program ini tidak hanya menyediakan pendidikan gratis, tetapi juga kebutuhan dasar siswa seperti makan, asrama, pakaian, perlengkapan sekolah, hingga pembinaan karakter dan disiplin.

Namun sebagaimana program besar lainnya, perjalanan Sekolah Rakyat tidak lepas dari ujian. Sorotan publik mengemuka ketika pengadaan sepatu siswa senilai Rp27 miliar menjadi polemik nasional. Dalam situasi seperti itu, Agus Jabo memilih tampil langsung di depan, bukan menghindar dari kritik. Bersama Menteri Sosial, ia memimpin investigasi internal dan membuka ruang evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengadaan barang dan jasa di Kemensos.

Yang menarik, pendekatan Agus Jabo dalam merespons polemik ini justru memperlihatkan gaya kepemimpinan yang relatif terbuka. Ia mengakui adanya potensi maladministrasi yang dipicu oleh besarnya volume pengadaan, tekanan waktu pelaksanaan program, serta keterbatasan SDM pengadaan di lingkungan Kemensos. Alih-alih defensif, ia memilih menjadikan polemik tersebut sebagai momentum pembenahan internal birokrasi.

Pada akhirnya, perjalanan Agus Jabo memperlihatkan transformasi politik yang menarik. Dari aktivis PRD yang dahulu dikenal keras mengkritik negara, kini ia berada di dalam pemerintahan dengan misi membangun transformasi sosial melalui kebijakan publik. Sekolah Rakyat menjadi salah satu panggung terbesar pembuktian itu, bahwa perjuangan kerakyatan tidak selalu berhenti di jalanan, tetapi juga bisa diwujudkan lewat keberanian mengubah sistem dari dalam negara itu sendiri.

Budi Prasetyo Hadi, Penulis Merupakan Tenaga Ahli Mentri Sosial RI

[post-views]