5 Fakta tentang “Pemberontakan Paskah” di Irlandia

SERATUS LIMA tahun yang lalu, atau tepatnya 24 April 1916, rakyat Irlandia melancarkan pemberontakan bersenjata menentang penjajahan Inggris. Letusan pemberontakan itu bertepatan dengan perayaan Paskah. Makanya disebut “ pemberontakan Paskah”.

Nah, berikut ini lima fakta tentang pemberontakan rakyat itu. Dibaca ya, Kak.

Pertama, sebuah pukulan untuk penjajah Inggris

Selama Minggu Paskah 1916, kaum revolusioner Irlandia bangkit untuk memproklamirkan kemerdekaan sekaligus mengakhiri penjajahan Inggris. Barikade pertahanan muncul di seluruh kota Dublin, Ibukota Irlandia, saat itu. Kaum revolusioner mengambil sejumlah daerah dan aset strategis.

Mereka memproklamirkan kemerdekaan yang bunyinya, antara lain:

Kami menyatakan hak rakyat Irlandia atas kepemilikan terhadap Irlandia dan menentukan nasib sendiri, yang berdaulat dan tidak dapat diganggu-gugat. Perampasan hak yang sudah berlangsung lama oleh orang/pemerintahan asing tidak memandamkan hak orang-orang Irlandia, dan tidak akan bisa dipadamkan kecuali dengan penghancuran terhadap orang-orang Irlandia..”

“…dengan ini kami memproklamirkan Republik Irlandia sebagai negara merdeka yang berdaulat, dan kami mempersembahkan hidup kami dan hidup kawan-kawan dalam perjuangan bersenjata untuk mendatangkan kebebasan, kemakmuran, dan kemulian seluruh bangsa.”

“..Republik menjamin kebebasan beragama dan kebebasan sipil, persamaan hak dan persamaan kesempatan bagi seluruh warga negara, dan menyatakan tekad untuk mengejar kebahagiaan dan kemakmuran bagi seluruh anggota bangsa, dan mengakhiri diskriminasi yang dipelihara oleh pemerintahan asing dengan memisahkan minoritas dari mayoritas di masa lalu.”

Kedua, menginspirasi perjuangan sosialisme dan revolusi di Eropa

“Pemberontakan Paskah” sering digambarkan sebagi revolusi sosialis pertama di Eropa. Salah satu pemimpin pemberontakan ini, James Connolly, adalah tokoh penting gerakan sosialis internasional.

Pastinya, pemberontakan ini adalah perlawanan besar pertama kaum tertindas Eropa sejak dimulainya perang dunia pertama, perang yang dianggap telah menggiring perang bangsa versus bangsa, yang meredam perjuangan kelas sosial di masing-masing bangsa menjadi seruan “berjuanglah untuk negerimu”.

Meskipun pemberontakan ini ditujukan untuk menentang kolonialisme Inggris, tetapi semangatnya juga menjanjikan keadilan sosial. Pemberontakan Paskah kemudian diikuti oleh pemberontakan serupa di seantero Eropa untuk menentang perang dan memperjuangkan sosialisme, seperti di Rusia tahun 1917 dan Jerman 1918-1919.

Ketiga, menunjukkan kejahatan kolonialisme Inggris

Pemberontakan Paskah kemudian dipadamkan secara brutal oleh Inggris dengan mengirim 20.000 tentara, dilengkapi persenjataan berat, dan menghancurkan sebagian besar kota Dublin. Setelah kekalahan pemberontakan, semua penandatangan Proklamasi Kemerdekaan yang berjumlah tujuh orang dieksekusi oleh Inggris.

Banyak warga sipil meninggal karena Inggris mengerahkan senjata berat, seperti artileri dan senjata mesin. Senjata itu dimuntahkan tanpa memandang warga sipil biasa atau pemberontak.

Sehari setelah kekalahan pemberontakan, aktivis Sinn Féin dikejar-kejar dan ditangkapi. Mereka dianggap sebagai dalang pemberontakan tersebut. Sementara mereka yang terlibat pemberontakan banyak yang ditangkap dan dieksekusi.

Keempat, pemberontakan menuai simpati besar

Reaksi keras yang ditunjukkan Inggris justru memicu gelombang pasang simpati revolusioner. Dua tahun kemudian, partai nasionalis kiri Sinn Féin memenangi pemilihan umum dengan merebut 73 dari 105 kursi parlemen. Kemudian, di tahun 1919, anggota parlemen Sinn Féin membentuk parlemen revolusioner dan mengesahkan Proklamasi Kemerdekaan 1916.

Kelima, keterlibatan kaum perempuan

Dari 1400-1500 orang yang terlibat pemberontakan, sebagian adalah perempuan. Termasuk 200 perempuan anggota milisi bersenjata perempuan bernama Brigade Cumann na mBan. Salah satu tokohnya bernama Constance Markievicz. Dia adalah seorang politisi, pejuang kemerdekaan, sosialis, dan pejuang kesetaraan. Dia sempat dipenjara seusai pemberontakan. Tetapi kemudian ditunjuk sebagai Menteri Perburuhan begitu Republik Irlandia berdiri—dia adalah seorang Menteri Perempuan pertama di dunia.

LEE BROWN/teleSUR)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid