3 Hal Masih Yang Mengganjal Normalisasi Hubungan AS-Kuba

Pesawat Air Force One yang mengangkut Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, mendarat di bandar udara Jose Marti Havana, Kuba, Minggu (20/3/2016).

Ini adalah kunjungan bersejarah. Presiden Barack Obama adalah Presiden Amerika pertama yang menginjakkan kaki di negara Karibia itu setelah 88 tahun.

Presiden Amerika terakhir yang mengunjungi Kuba adalah Calvin Coolidge, pada tahun 1928. Kemudian, setelah kemenangan Revolusi Kuba 1 Januari 1959, hubungan AS-Kuba memanas.

Apalagi, AS selalu berusaha menghabisi revolusi Kuba. Puncaknya, pada tahun 1961, AS memimpin invasi teluk Babi. Namun, invasi imperialis itu berhasil dipatahkan oleh rakyat Kuba.

Di tahun itu juga Presiden AS kala itu,  Dwight Eisenhower, memutuskan hubungan diplomatik dengan Kuba. Dan sejak itu hingga sekarang, AS berusaha merongrong pemerintahan Castro di Kuba dengan berbagai cara: sabotase, blokade, terorisme, dan lain-lain.

Dan sekarang, di bawah Obama, AS seperti mengulurkan tangan kepada Kuba. Banyak yang mengapresiasi politik Obama ini sebagai langkah maju. Dan tidak sedikit yang menganggap kunjungan Obama ini telah mengobati luka diplomatik kedua negara.

Inilah tiga yang mengganjal atau ibarat duri dalam proses diplomatik kedua negara.

Pertama, embargo ekonomi AS terhadap Kuba

Obama sudah mengakui bahwa politik blokade terhadap Kuba terbukti gagal. Namun, hingga sekarang Obama belum terlihat benar-benar menghentikan kebijakan blokade tersebut.

Padahal, Presiden Kuba Raul Castro berulangkali menegaskan bahwa persoalan paling mendasar yang mengganjal normalisasi diplomatik Kuba-AS adalah embargo.

Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez Parrilla mengklaim, embargo AS telah membuat Kuba kehilangan 1,1 triliun dollar AS. Tidak hanya itu, embargo juga menyulitkan Kuba mendapatkan obat penyakit jantung dan AIDS untuk rakyatnya.

Sementara menurut PBB, embargo menyebabkan Kuba merugi sebesar 117 milyar dollar AS. Juga menyebabkan Kuba kesulitan menggerakkan roda ekonominya.

Di PBB, pada tahun 2013, sebanyak 188 negara sudah mendesak AS untuk mengakhiri embargo. Hanya dua negara yang menentang: Amerika Serikat dan Israel.

Infografik Kuba-AS
Sumber: teleSUR

Sementara di AS sendiri 55 persen warganya mendukung penghentian embargo terhadap Kuba. Akankah Presiden Obama mengakhiri kebijakan ini?

Di pertemuan hari Senin (21/3) lalu, Presiden Raul Castro menyinggung perlunya penghentian embargo. “Banyak hal yang bisa dikerjakan kalau embargo diakhiri,” katanya.

Menanggapi itu, Presiden Obama secara tersirat mengatakan bahwa embargo akan berakhir. Tetapi bersyarat: Kuba harus berubah. Maksudnya, Kuba harus lebih “ramah” terhadap pembangkang politik dan mengadopsi demokrasi ala Amerika.

“Amerika percaya demokrasi. Kami percaya bahwa kebebasan berbicara, kebebasan berkumpul, bukan hanya nilai-nilai Amerika tetapi nilai-nilai universal,” kata Obama seperti dikutip CNN, Senin (21/3).

Kedua, persoalan penjara Guantanamo

Hingga sekarang, AS masuk menduduki sebagian teritorial Kuba, yaitu teluk Guantanamo. Di situ bahkan Amerika membuat penjara khusus yang sangat barbarian.

Ketika Obama dan sebagian besar orang Amerika menyindir Kuba sebagai pelanggar HAM. Obama dan sebangsanya lupa bahwa mereka mempraktekkan kejahatan HAM di daratan Kuba: tepatnya di penjara Guantamo.

Penjara Guantanamo sudah dibuka sejak 15 tahun lalu. Dan sejak itu, berbagai cerita kejahatan HAM berlangsung di sini. Data resmi menyebutkan, ada 9 narapida yang sudah meninggal di penjara ini.

Banyak yang menyebut penjara ini memperlakukan para narapidana secara tidak manusiawi. Termasuk teknik-teknik penyiksaan yang berada di luar batas kewajaran. Mulai dari penyiksaan waterboarding, isolasi bertahun-tahun, dan berbagai bentuk penyiksaan fisik dan psikologis lainnya.

“Mereka melakukan ke kami hal-hal yang melawan kemanusiaan, melawan HAM, dan Islam. Saya tidak sanggup lagi berkata-kata tentang itu,” kata seorang bekas tahanan Haji Nasrat Khan kepada BBC pada tahun 2014.

Sayang, ketika Obama mengunjugi Kuba pekan lalu, dia dan pejuang HAM sedunia lupa menyinggung soal penjara Guantanamo.

Ketiga, kebijakan imigrasi

Satu ganjalan besar bagi normalisasi AS-Kuba adalah politik imigrasi AS yang disebut “kaki basah-kaki kering”, yang membolehkan orang Kuba yang mencapai daratan AS untuk tinggal menetap di AS dan melepas kewarganegarannya.

Bagi Kuba, ini kebijakan yang kejam. Di satu sisi, AS menerapkan embargo ekonomi terhadap Kuba, yang berujung pada pelumpuhan ekonomi Kuba. Inilah yang memaksa banyak orang Kuba ini mencari peruntungan di AS.

Tetapi di sisi lain, ketika mereka menuju AS, mereka dicegat. Banyak orang Kuba yang tewas di perjalanan. Tidak sedikit yang tenggelam di teluk Meksiko. Sebagian lagi tunduk pada pelaku perdagangan manusia jika mereka mau mengambil rute lain.

Nah, hanya mereka yang berhasil sampai di AS-lah yang diberi kesempatan tinggal dan mendapat perlakuan istimewa. Mereka tidak perlu visa dan dokumen sejenis. Dan setelah tinggal selama setahun, mereka bisa mendapatkan status kewarganegaraan AS.

Bagi pemerintah Kuba, kebijakan AS ini justru memicu praktek imigrasi tanpa aturan, yang seringkali menempatkan para imigran dalam perjalanan berbahaya.

***

Disamping soal-soal di atas, pemerintahan Obama sebetulnya belum melepaskan ambisi AS untuk mendorong “pergantian rezim” di Kuba. Artinya, AS masih terus berupaya mencampuri urusan dalam negeri dan kedaulatan Kuba.

Pekan lalu, di sela-sela kunjungannya, Obama masih menyempatkan diri bertemu dengan para pembangkang Kuba. Amerika juga terus menggelontorkan dana untuk organisasi ataupun individu di Kuba untuk mendorong perubahan rezim.

Tahun lalu, AS masih menggelontorkan 30 juta USD untuk program ‘promosi demokrasi dan penguatan masyarakat sipil di Kuba’. Dari dana tersebut, 8 juta USD akan disalurkan melalui National Endowment for Democracy (NED), sebuah lembaga pendanaan yang digunakan oleh AS untuk melemahkan pemerintahan berhaluan kiri dan sosialis di Amerika Latin.

Baru-baru ini, U.S. Agency for International Development (USAID), lembaga pendanaan AS lainnya, juga diketahui mendanai program berbau subversif melalui musik hip-hop untuk melemahkan pemerintahan revolusioner Kuba.

Jadi, apa arti kunjungan Obama ke Havana?

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid