Wartawan Senior Umar Said Tutup Usia

Umar Said

Pejuang kemerdekaan dan wartawan senior Umar Said telah meninggal dunia dalam usia 83 tahun. Beliau meninggal di sebuah rumah sakit di Paris, Perancis, pada pukul 22.50 waktu setempat, Jumat, 7 oktober 2011 (sekitar pukul 03. 50 WIB, 8 Oktober 2011).

Kabar duka ini disampaikan oleh Tom Iljas, salah seorang kawan seperjuangan beliau, melalui pesan singkat di email. “Beliau meninggal karena terkena serangan jantung,” kata Tom Iljas melalui pesan singkat.

Umar Said dilahirkan pada tanggal 26 Oktober 1926 di Pakis, Malang, Jawa Timur. Ayahnya, Hardjowinoto, adalah seorang pengagum Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Itulah mengapa ia diberi nama tokoh pejuang pembebasan nasional itu.

Semasa mudanya, Umar Said terlibat dalam perjuangan kemerdekaan melawan penjajah. Diantaranya, ia terlibat dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya dan ikut rombongan pemuda pejuang yang dikirim ke Sumatera.

Kegiatan jurnalistiknya dimulai ketika ia bekerja di surat kabar milik Mohtar Lubis, Indonesia Raya, sebagai seorang korektor. Lalu bekerja sebagai wartawan perang dan mengikuti langsung operasi militer penumpasan gerakan separatis RMS di Maluku.

Pada tahun 1953, Umar Said menjadi delegasi Indonesia, merangkap penerjemah, di Konferensi Internasional Hak-Hak Pemuda di Wina, Austria. Sekembalinya di Indonesia, Umar Said bekerja di surat kabar berhaluan kiri, Harian Rajat, dan sering meliput kunjungan Bung Karno ke berbagai daerah.

Pada tahun 1960-an, Umar Said mulai memimpin koran ekonomi bernama “EKonomi Nasional”. Ia termasuk salah satu penggagas Persatuan Wartawan Asia-Afrika (PWAA) pada tahun 1963.

Ketika peristiwa G.30 S meletus, ia sedang berada di Aljazair dalam rangka mempersiapkan Kongres Wartawan Asia-Afrika (KWAA) ke-II. Sejak peristiwa itu Umar Said terhalang pulang  ke tanah air dan menjadi eksile selama puluhan tahun.

Sejak tahun 1974 ia bermukim di Paris, Perancis. Selain bekerja di sana, Bung Umar juga masih aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan dan hak-hak tahanan politik. Ia juga mengharumkan nama bangsa dengan membuka restoran “INDONESIA” di Paris.

Di usia senja, Umar Said tidak pernah berhenti memikirkan nasib rakyat dan masa depan bangsa Indonesia. Bung Umar Said sangat aktif menuliskan fikiran-fikirannya  mengenai berbagai peristiwa sosial-politik di tanah air melalui website pribadinya (http://umarsaid.free.fr/).

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut