Selamatkan Museum Georg Lukács!

Museum Georg Lukács, yang berada di Budapest, Hungaria, terancam ditutup oleh pemerintahan kanan negeri itu. Akademisi dan aktivis dari berbagai belahan dunia menggalang petisi untuk menyelamatkan Museum tersebut.

Pekan lalu, tepatnya tanggal 4 Juli 2016, intelektual marxis terkemuka asal Hungaria, István Mészáros, menyampaikan kabar buruk itu di laman Monthly Review Zine.

“Disayakangkan, bagaimanapun, karena campur tangan pemerintah, Arsip (Museum Georg Lukacs) terancam akan ditutup, dan perpustakaan serta dokumen-dokumen sejarah paling penting tidak akan jelas nasibnya,” tulis Mészáros.

Memang, sejak 2010 lalu, Hungaria diperintah oleh Perdana Menteri yang sangat konservatif: Victor Orban. Rezim Hungaria ini bukan hanya anti terhadap kiri, tetapi juga terhadap anti-imigran dan pengungsi.

Georg Lukacs (1885-1971) adalah salah satu intelektual marxis terkemuka di abad ke-20. Pemikir marxis asal Hungaria ini membaca karya-karya Marx sejak menginjak bangku sekolah. Di tahun 1914, Lukacs sudah menerbitkan karya pertamanya, The Theory of Novel.

Ketika revolusi yang dipimpin oleh Bolshevik menang di Rusia, Lukacs bergabung dengan Partai Komunis Hungaria. Di tahun 1919, Hungaria mengalami revolusi dan berhasil membentuk pemerintahan Republik Soviet yang dipimpin oleh Bela Kun. Saat itu Lukacs ditunjuk sebagai Komisar urusan pendidikan dan kebudayaan.

Sayang, usia Republik Soviet Hungaria sangat singkat: hanya setahun. Begitu kalah, lalu Hungaria dilanda “teror putih”, Lukacs pindah ke Wina, Austria. Dia sempat menjadi editor majalah dan terlibat gerakan bawah tanah pelarian Hungaria.

Di tahun 1923, dia menerbitkan bukunya yang cukup masyhur, History and Class Consciousness. Karyanya ini cukup melejitkan namanya sebagai pemikir marxis yang cemerlang.

Dia kembali ke negeri asalnya di tahun 1945. Saat itu Lukacs sempat menjadi anggota parlemen dan pengajar di Universitas Budapest. Lukacs juga berperan penting dalam pemberontakan 1956, yang menentang kontrol Soviet atas Hungaria.

Sepanjang hidupnya, dia menghasilkan 30-an buku dan ratusan esai dan bahan kuliah. Di museumnya, yang juga bekas tempat tinggalnya, di Apartemen Nomor 2, Belgrad Rakpart, terkoleksi ribuan buku, surat, manuskrip, dan dokumen penting lainnya.

Sepanjang hidupnya, Lukacs dikenal sebagai filsuf, sejarawan, dan kritikus sastra.

Di Indonesia, Lukacs termasuk pemikir marxis yang cukup populer di kalangan aktivis dan pemikir progressif. Terutama gagasan filsafat dan realisme sosialis-nya.

Nah, jika diantara pembaca ada yang berkehendak turut mempertahankan Museum Georg Lukacs, silahkan teken petisi di sini dan di sini.

Risal Kurnia

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut