Sejak Jaman Kolonial Koruptor Suka Kabur Keluar Negeri

Berapa banyak koruptor asal Indonesia yang kabut ke luar negeri? Catatan Indonesia Corruption Watch (ICW) menyebutkan, sejak 10 tahun terakhir sedikitnya 45 koruptor Indonesia melarikan diri ke luar negeri.

Catatan itu juga menyingkap, 20 diantara koruptor itu memilih Singapura sebagai tempat perlindungan. Sisanya memilih kabur ke Australia, Tiongkok, dan sejumlah negara di Eropa.

Ironisnya, catatan Merril Lynch Singapura mengungkap fakta bahwa sepertiga orang kaya di Singapura adalah orang Indonesia yang punya kekayaan di atas 1 juta US dollar. Konon, jumlah kekayaan orang Indonesia di Singapura diperkirakan sekitar US$87 miliar atau setara dengan Rp800 triliun. Sebagian besar dana itu adalah hasil korupsi.

Rupanya, tradisi koruptor atau bandit kabur keluar negeri bukan fenomena baru. Itu sudah terjadi sejak jaman koloanialisme belanda. Itu terjadi pada tahun 1913, ketika seorang penipu keturunan Belanda kabur ke Hongkong.

Meneer Sonneveld, nama orang Belanda itu, mengurasi habis kas perusahaan tempatnya bekerja, Escompto, di Batavia. Lalu, ia bersama istrinya melarikan diri ke Hongkong. Di tempat kerjanya itu, Sonneveld menjadi seorang kasir. Kisah ini mirip dengan kasus petugas pajak Indonesia yang lari membawa uang pajak.

Sonneveld ini bekas anggota KNIL. Entah kenapa, ia dipecat (ontslag) oleh dinas kemiliteran kolonialis Belanda itu. Kabarnya, ia melakukan tindakan tidak senonoh. Tetapi tidak diketahui persis.

Entah kenapa pula, orang bermasalah ini tetap diterima bekerja di perusahaan Escompto. Bahkan, perusahaan besar tempo dulu itu memberinya jabatan sebagai kasir. Ini tentu sangat beresiko untuk hitungan bisnis.

Tiba-tiba, dalam waktu sekejap, kehidupan Sonneveld dan istrinya yang orang Indonesia tiba-tiba sangat menyolok. Mereka pun melakoni kehidupan “Orang Kaya Baru” jaman itu: keluar masuk sociëteit.

Belakangan diketahui bahwa Sonneveld dan istrinya ini telah mencuri uang kas perusahaan dan membawanya kabur. Ia pun segera menjadi buah-bibir orang-orang elit Batavia jaman itu.

ANNA YULIA, penyuka cerita-cerita Tempo Doeloe

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut