Putu Oka Sukanta Diusulkan Mendapat Penghargaan Nobel

Sejumlah penggiat sastra dan aktivis mengusulkan agar pengarang Indonesia, Putu Oka Sukanta, diberi penghargaan Nobel perdamaian dan Sastra. Usulan itu digagas dan disebarluaskan melalui media sosial dan change.org.

Menurut AJ Susmana, salah satu penggagas usulan ini, dalam isu kemanusiaan terkait peristiwa 1965, Putu Oka merupakan penulis yang paling lengkap.

“Bahkan Pramoedya Ananta Toer hanya menghasilkan 1 memoar pulau buru, yaitu Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Sedagkan penulis lain menulis cerpen, seperti Martin Aleyda dan 1 Novel: Layang-Layang Itu Tak Lagi Mengepak Tinggi-Tinggi,” kata AJ Susmana kepada berdikarionline.com, Kamis (16/2/2017).

Disamping itu, lanjut AJ Susmana, Putu Oka menulis novel, cerpen, memoar, naskah drama, dan puisi dalam jumlah yang luar biasa. Untuk puisi, Putu Oka adalah penyair yang diakui dunia.

“Satu-satunya penyair Indonesia yang puisinya dimasukkan dalam Voices of Conscience: Poetry from Oppression yang disunting Hume Cronyn, Richard Mckane dan Stephen Watts tahun 1995,” ungkapnya.

Dalam buku tersebut ada 150 penyair yang disunting karyanya, termasuk nama-nama besar seperti Bertold Brecht, Paul Celan, Anna Akhmatova, Adonis, Wole Soyinka, Ho Chi Minh, Reza Baraheni, Pablo Neruda, Usman Awang, dan Oscar Wilde.

AJ Susmana menegaskan, Putu Oka merupakan penulis yang sering mengangkat isu-isu kemanusiaan, termasuk tragedi kemanusiaan 1965. Dia juga kerap berbicara soal kesetaraan gender, demokrasi, dan keadilan sosial.

Saat ini, petisi yang diusung oleh AJ Susmana dan sejumlah aktivis ini sudah diteken oleh 75 orang. Sebagian besar adalah penggiat sastra dan aktivis sosial.

Putu Oka lahir di Singaraja, Bali, 9 Juli 1939. Dia mulai mahir menggoreskan isi pikirannya melalui pena sejak menginjak Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Di masa Sukarno, dia menjadi salah satu pengarang Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). Lantaran itu, ketika Orde Baru berkuasa, Putu Oka dipenjara selama 10 tahun (1966-1976).

Tetapi, penjara tak membuat semangat dan perjuangan Putu Oka tumpas. Keluar dari penjara, dia terus berkarya. Karya-karyanya tidak pernah menghindari dari keberpihakan terhadap korban ketidakadilan.

“Selama masih punya gagasan, selama masih punya respon terhadap keadaan masyarakat, saya kira, selama itu saya menulis,” kata Putu Oka dalam sebuah wawancara dengan indoprogress.com (15/1/2013).

Buku-buku sastra yang sudah ditulisnya dan turut meramaikan dunia sastra Indonesia, antara lain: Kumpulan Puisi: Selat Bali (1982), Tembang Jalak Bali (1986), Salam (1986), Tembok Matahari Berlin (1990), Perjalanan Penyair (1999), Surat Bunga dari Ubud (2008); Novel: Merajut Harkat (1999), Di Atas Siang Di Bawah Malam (2004), Kerlap Kerlip Mozaik (2001); kumpulan cerpen: Keringat Mutiara (1990), Rindu Terluka (2005) dan Bukan Kematian (2006).

Beberapa karyanya mendapat penghargaan internasional. Seperti cerpennya yang berjudul Luh Galuh mendapat penghargaan NEMIS dari Chili. Tahun 2012, dia mendapat penghargaan dari Hellman/Hammett, yang diberikan oleh organisasi pembela HAM dunia, Human Right Watch (HRW).

Baru-baru ini, tepatnya Desember 2016, Putu Oka juga mendapat penghargaan Herb Feith Foundation, yang berbasis di Australia.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut