PRD Ajak Seluruh Rakyat Robohkan Imperialisme

Partai Rakyat Demokratik (PRD) mengajak seluruh rakyat dan semua sektor-sektor yang dikorbankan oleh imperialisme untuk bersatu merobohkan imperialisme.

Seruan tersebut disuarakan dengan lantang oleh Ketua Umum PRD, Agus Jabo Priyono, saat berpidato di pembukaan Kongres ke-8 PRD di hotel Acacia, Jakarta, Selasa (24/3/2015).

Menurut Agus Jabo, persoalan pokok bangsa Indonesia saat ini adalah imperialisme. Sistim ekonomi-politik yang berdiri di atas keserakahan kapitalisme ini telah mengobrak-abrik kedaulatan politik dan ekonomi bangsa Indonesia. Tidak hanya itu, kepribadian bangsa Indonesia juga dirusak oleh merajalelanya individualisme dan konsumerisme.

“Laksana taupan yang menghancurkan kedaulatan politik kita, kemandiriaan ekonomi kita, melunturkan kepribadian kita sebagai sebuah bangsa, mengubah filosofi dan konstitusi negara kita,” tambahnya.

Kekuatan yang sangat jahat ini, menurut Agus Jabo, harus dirobohkan dengan persatuan nasional. Persatuan tersebut harus dilandasi oleh semangat menempatkan kepentingan bangsa dan kepentingan umum, di atas kepentingan pribadi dan golongan.

“Semua itu tergantung niat dan usaha kita. Apakah kita akan tunduk, takluk dan menyerah kepada kapitalisme dan imperialisme itu? Menjadi bangsa kuli di negeri sendiri? Atau kita akan menjadi burung garuda yang gagah perkasa terbang tinggi menerjang badai, mengibarkan panji-panji Trisakti,” jelasnya.

Ia berharap, kader-kader PRD terus mengibarkan panji-panji perjuangan. Seluruh kader dan anggota PRD harus menyampaikan secara massif dan meluas gagasan besar PRD dengan membangun panggung-panggung politik. Ini bertujuan agar semua rakyat sadar dan dan ikut bangkit dalam menumbangkan imperialisme tersebut.

“Agar Trisakti benar-benar tegak, bukan sekedar citra. Sehingga masyarakat adil dan makmur lahir bathin segera terwujud,” ungkapnya.

Secara historis, pria kelahiran Magelang, Jawa Tengah, ini menjelaskan bahwa perjuangan melawan imperialisme sendiri sebenarnya sudah berdengung pada era orde lama. Melalui anak kandung proklamasi, UUD 1945, para pendiri bangsa melukiskan dengan jelas falsafah hidup, pandangan hidup, tujuan hidup, dan pegangan hidup Indonesia.

“Tahun-tahun dalam mempertahankan kemerdekaan serta melaksanakan arti kemerdekaan inilah yang kami sebut Republik Pertama,” kata Agus Jabo.

Namun, penjajah tidak begitu saja meninggalkan Indonesia. Pasca tumbangnya pemerintahan orde lama, neokolonialisme kembali datang ke Indonesia melalui ekspansi kapital dan penanaman modal. Untuk kepentingan itu, menurut Agus Jabo, tentu saja dibutuhkan Undang-undang yang melindungi, termasuk perlindungan dari rezim.

“Inilah Republik kedua, imperialisme masuk, mengenggam bumi Indonesia,” ungkapnya.

Sementara sekarang ini, yakni sejak bergulirnya reformasi hingga sekarang, disebut oleh Agus Jabo sebagai Republik ketiga, dimana imperialisme sepenuhnya berkuasa. Ini nampak dari hampir semua kekayaan yang ada di dalam negeri ini dikuasai oleh asing. Dominasi modal asing itu, menurut Agus Jabo, mengakibatkan rakyat Indonesia hanya menjadi kuli di negeri sendiri.

“Juga terjadinya konflik-konflik agraria yang menghadapkan petani dengan (pemilik) modal dan negara,” imbuhnya.

Atas permasalahan itu, kata Agus Jabo, PRD akan berjuang untuk mewujudkan Republik Keempat. Republik ini, lanjut dia, adalah Republik yang bebas dari imperialisme dan berisikan masyarakat yang adil dan makmur. Untuk menjadi Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian tersebut, Indonesia harus memiliki bekal.

“Bekal utamanya adalah sikap kebangsaan dan tujuan yang tegas,” sampainya.

Agus Jabo melanjutkan, Pasal 33 UUD 1945 sebenarnya telah melarang adanya penguasaan sumber daya alam di tangan orang-perorang. Karena itu, Agus Jabo menyerukan agar rakyat Indonesia bersatu, bergotong-royong, merebut kembali kepentingan nasional yang sudah disubversi oleh modal asing tersebut.

“Dengan bersatu, berjuang, dan bersuka cita kita sambut Republik baru, Republik Indonesia IV,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Panitia Kongres ke-8 PRD, Alif Kamal, menyampaikan bahwa kongres ke 8 PRD ini akan digelar hingga 26 Maret mendatang. Kongres kali ini setidaknya diikuti oleh 500-an peserta yang menjadi delegasi dari 34 provinsi yang ada di Indonesia.

“Kalau partai lain menyiapkan kongres kehebohan, tapi PRD menyiapkan kongres dengan perdebatan mengenai apa yang menjadi persoalan pokok bangsa,” kata Kamal yang juga menjabat Deputi Bidang Politik Komite Pimpinan Pusat (KPP) PRD periode 2010-2015.

Tedi CHO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut