Pertahankan Negerimu!

Our Own (2004)

Sutradara: Dmitri Meskhiyev
Penulis naskah: Valentin Chernykh
Pemain: Konstantin Khabenskiy, Sergey Garmash, Mikhail Evlanov, Bogdan Stupka, Anna Mikhalkova, dan Natalya Surkova
Tahun produksi: 2004
Durasi: 111 menit

Ini tentang perjalanan tiga orang yang tiba-tiba berkawan. Saat itu, tahun 1941, tentara Jerman menyerang Belarusia. Pasukan Soviet, yang tidak menduga-duga datangnya serangan, kalang kabut tatkala pasukan Jerman muncul di depan mereka.

Seorang anggota NKVD yang cerdas, Tolya (Sergei Garmash), dan seorang komunis-Yahudi, Lifshits (Konstantin Khabenskii), buru-buru mengganti seragam tentara merah mereka dengan pakaian sipil. Akhirnya, mereka pun menjadi tawanan Jerman.  Saat itu, mereka juga berkenalan dengan seorang tentara dari keturunan petani, Mitka (Mikhail Evlanov), yang punya keahlian sebagai penembak jitu (sniper).

Ketiganya menjadi bagian dari ratusan tawanan Jerman. Dalam situasi begini, tidak sedikit orang yang berfikiran sempit. Seorang petugas soviet, misalnya, berusaha merampas jatah makan Lifshits dengan ancaman akan dibongkar statusnya sebagai seorang Yahudi. Tolya, yang mengetahui hal ini, segera menghabisi nyawa si penghianat tersebut.

Saat para tahanan berbaris di dekat desa asal Mitka, Tolya menyadari adanya peluang untuk melarikan diri. Dengan aba-aba, ketiganya keluar barisan dan berlari sekencang-kencangnya. Jerman berusaha menembaki mereka tetapi gagal. Anjing pelacak juga tak berhasil menghentikan ketiga pelarian ini.

Ketiganya berlari ke desa dan menuju ke rumah Mitka. Mereka disembunyikan oleh ayah Mitka, Ivan (Bogdan Stupka). Ia adalah seorang kepala desa di sana. Masalah besar segera muncul: Ivan juga adalah seorang bekas kulak yang menghabiskan puluhan tahun di Siberia. Ivan jelas sangat anti-Stalin dan anti-Soviet.

Desa itu juga sangat anti-soviet. Sebagian warganya menjadi milisi anti-Soviet dan berkolaborasi dengan tentara fasis Jerman. Bayangkan, tiga orang pelarian soviet berlindung di desa anti-soviet dan disembunyikan di rumah bekas korban Siberia. Ketegangan pun muncul.

Mitka sendiri sangat senang karena bertemu dengan bekas tunangannya, Katia (Anna Mikhalkova). Selain Katia, di rumah itu tinggal pula seorang perempuan pekerja keras bernama Anya (Natalya Surkova). Tolya, yang masih single, segera tertarik kepada perempuan itu.

Keberadaan ketiga pelarian itu tercium oleh polisi lokal/milis pro-Nazi. Situasi ini diperparah ketika ketiganya membunuh seorang anggota polisi lokal. Sepasukan milisi pun melakukan penggeledahan di rumah Ivan. Tetapi mereka gagal menemukan ketiga pelarian.

Berada di tengah musuh tentu tidak menguntungkan. Karenanya, selain bersembunyi, ketiganya juga mencari segala cara untuk mendapatkan senjata. Ada adegan ketika ketiganya berhasil mencegat pasukan bermotor Jerman. Histeria tanda kemenangan dilampiaskan ketiganya.

Konflik juga terus terjadi dalam film ini. Bagaimanapun, Ivan tidak bisa setuju dengan kehadiran dua anggota soviet di rumahnya. Tetapi, pada sisi lain, ia juga tidak bisa menyerahkan anaknya kepada Jerman. Akhirnya, sang bapak pun terseret dalam petualangan ketiga pelarian ini.

Mereka menyerang konvoi milisi. Kapten milisi, yang jatuh cinta kepada Katia—tunangan Mitka, lari tunggang-langgan. Namun, serangan itu telah memicu datangnya pasukan Jerman dalam jumlah besar. Di sini, Ivan, si anti-komunis itu, berbalik harus melawan Jerman.

Dalam sebuah tembak-menembak, Lifshits, yang memang sudah sakit-sakitan, tertembak di bagian kaki. Sementara tentara Jerman dan gabungan milisi terus mendekat. Akhirnya, Lifshits memilih bertempur hingga mati asal kedua temannya bisa meloloskan diri.

Dari situ, keyakinan Ivan pun goyah. Di bagian akhir cerita, Ivan menyuruh anaknya untuk ikut bersama Tolya, si komunis itu, untuk membela Soviet. “…pertahankan negeri kelahiranmu,” kata Ivan kepada anaknya, Mitka.

Dalam film ini, sutradara Dimitri Meskhiyev’s berhasil mengungkap banyak dilema: cinta, penghianatan, dan kecintaan terhadap negeri. Katia, misalnya, rela menukar anting-anting warisan ibunya dengan sebuah teleskop. Lalu, teleskop itu diberikan kepada Mitka, sang kekasih, agar bisa melihat musuh dari jauh.

Ivan, seorang anti-soviet, bisa bergeser menjadi anti-fasis. Ia pun rela menanggung berbagai resiko atas pilihannya itu. Sedangkan sosok Tolya, seorang komunis tulen, digambarkan tegar dan selalu melindungi kawan-kawannya. Begitu juga dengan Lifshits yang memilih jalan pengorbanan. Sedangkan Mitka, yang anak petani itu, terjun dalam perang anti-fasis karena kesadarannya sebagai pemuda.

Film ini jelas tidak menjenuhkan, seperti sering terjadi dalam film perang Rusia. Ia mengangkat berbagai problem itu secara sederhana. Kualitas pengambilan gambarnya juga cukup bagus. Yang tak terlupakan, saya juga sangat suka dengan soundtrack film ini.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut