Peran Buruh Kereta Api di Masa Revolusi Kemerdekaan

Bagi yang pernah membaca atau mendengar tentang sejarah gerakan buruh Indonesia tentu tidak asing dengan nama VSTP (Vereniging van Spoor-en Tramwegpersoneel), sebuah organisasi buruh kereta api dan trem yang dibentuk tahun 1908. Seorang tokoh sosialis Belanda, Henk Sneevliet, yang memimpin organisasi ini membuka keanggotaan di kalangan pribumi sehingga pengaruhnya semakin meluas.

Di tahun 1918 serikat ini telah dipimpin oleh Semaoen, seorang buruh kereta api berusia 17 tahun di Semarang. Selama pemerintahan kolonial Belanda VSTP sering mengadakan pemogokan-pemogokan yang merepotkan pemerintah. Sampai akhirnya di tahun 1923 Semaoen ditangkap dan diasingkan ke negeri Belanda karena berkeras pada keputusan pemogokannya. Tapi buruh kereta api masih mengambil peran penting dalam pemberontakan melawan Belanda di tahun 1926. Saking militannya buruh kereta api di Semarang, sampai pemerintah kolonial harus memindahkan kantor pusat kereta api ke Bandung.

Ternyata kisah perjuangan buruh kereta api tidak hanya terjadi sampai tahun 1920-an. Gerakan ini sempat terinterupsi akibat kebijakan pemerintah kolonial yang semakin represif di dekade 1930-an. Tapi ia kemudian hidup lagi menjelang berakhirnya Perang Dunia II.

Sebagaimana dikisahkan oleh sejarawan Razif dalam makalahnya berjudul Buruh Kereta Api dan Komunitas Buruh Manggarai, bahwa buruh kereta api memainkan peran yang penting menjelang dan selama masa revolusi kemerdekaan. Buruh di Stasiun Manggari, Jakarta, misalnya, sering berinteraksi dengan kelompok pemuda revolusioner di Menteng 31 dan pemuda Jl. Guntur No. 27. Sebelumnya para buruh ini sudah dijauhkan sedemikian rupa dari politik akibat politik sensor dan represif yang diberlakukan pemerintah kolonial Belanda. Tapi dengan adanya interaksi bersama para pemuda, jiwa republiken kaum buruh ini kembali memenuhi dada.

Di tahun 1945 mereka termasuk yang lebih dahulu mendengar kabar tentang kekalahan demi kekalahan yang dialami tentara Jepang dalam Perang Pasifik. Dengan kabar itu mereka mulai melakukan sabotase-sabotase terhadap kepentingan Jepang. Salah satu yang terkenal adalah Peristiwa Krengseng. Di sini seorang masinis bernama Ngadiman membawa lokomotif tanpa gerbong yang sengaja ditabrakkan ke kereta berisi serdadu Jepang yang sedang dalam perjalanan dari Semarang menuju Surabaya. Ngadiman meloncat keluar dari lokomotif sesaat sebelum tabrakan terjadi. Selain itu, bentuk sabotase lainnya adalah dengan memindahkan jalur rel sehingga arah kereta berjalan tidak sesuai rencana.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, buruh kereta api lah yang pertama kali melakukan aksi pengambilalihan aset perusahaan kereta api menjadi milik republik. Pengambilalihan ini berlangsung secara beruntun dimulai dari stasiun Manggarai dan Jatinegara, kemudian seluruh stasiun di Jakarta hingga meluas ke berbagai daerah. Puncaknya adalah pengambilalihan Balai Kereta Api Pusat di Bandung yang terjadi tanggal 28 September 1945. Kekuatan buruh kereta api yang berperan besar dalam pengambilalihan perusahaan bernama Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) yang kemudian bergabung dalam SBKA (Serikat Buruh Kereta Api) ketika federasi tersebut dibentuk beberapa waktu kemudian.

Sesudah aksi kaum buruh kereta api, terjadi pengambilalihan aset perusahaan di sektor lain seperti jawatan radio, perusahaan listrik dan gas, percetakan, dan lain-lain. Sebelum aksi perebutan perusahaan tersebut terlebih dahulu para pemuda dan sebagian aktivis buruh kereta api telah melakukan aksi pelucutan senjata Jepang sehingga sebagian di antara mereka sudah bersenjata.

Beberapa saat setelah perusahaan kereta api berada di tangan republik pasukan sekutu mendarat di Indonesia dengan diboncengi oleh kekuatan Belanda yang dikenal dengan NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Tensi konflik bersenjata sering terjadi antara laskar-laskar pemuda/rakyat dengan tentara Sekutu. Pertempuran-pertempuran ini terutama disebabkan oleh tindakan arogan dan provokasi oleh pasukan Belanda dalam kekuatan Sekutu.

Pada saat itu gerbong-gerbong kereta api mulai dipenuhi oleh grafiti (coretan) yang berisikan tuntutan dan slogan-slogan seperti Merdeka atau Mati, Freedom, Hand off Indonesia, dan lain-lain. Coretan-coretan tersebut merupakan hasil kerjasama antara buruh kereta api dengan para seniman yang terhimpun dalam Persagi (Persatuan Juru Gambar Indonesia).

Selama revolusi kemerdekaan kaum buruh mengambil peran aktif, baik lewat perjuangan bersejanta dengan bergabung dalam laskar-laskar, maupun menyumbang kemampuan atau keahlian yang mereka miliki. Misalnya, para buruh teknisi mensabotase truk-truk pasukan Belanda dengan memasukkan garam ke dalam tanki minyaknya atau mengakali dinamonya sehingga mesin mobil terbakar ketika baru berjalan beberapa ratus meter.

Peran lainnya dari buruh kereta api selama revolusi kemerdekaan adalah membantu proses evakuasi masyarakat dari Jakarta ke daerah-daerah ketika situasi Jakarta semakin tidak kondusif. Pemimpin Republik Indonesia juga menumpang kereta yang disiapkan para buruh ini ketika ibukota dipindahkan ke Jogjakarta. Badan-badan perjuangan serta laskar rakyat tidak sedikit tertolong dengan pasokan kebutuhan pokok yang diangkut kereta api.

Militansi buruh kereta api tetap terjaga sampai sesudah revolusi kemerdekaan. Antara lain mereka memberikan solidaritas kepada buruh perkebunan dan buruh pabrik rokok BAT yang sedang melakukan pemogokan dengan menolak mengangkut barang-barang perusahaan tersebut. Militansi ini baru selesai di tahun 1965 ketika meletus peristiwa G30S.

Sebanyak 80.000 orang buruh kereta api ditangkap karena merupakan anggota SBKA yang berafiliasi dengan Sentral Organisasi Buruh Indonesia (SOBSI)—serikat buruh terbesar pada masa itu yang mendukung politik Partai Komunis Indonesia. Akibat penangkapan ini operasi kereta api menjadi terhenti. Pemerintah akhirnya harus kompromi dan menyeleksi kembali buruh yang harus dibebaskan untuk dapat menjalankan kereta api. Meski demikian sebagian jalur kereta api harus ditutup sampai sekarang, seperti Purworejo-Yogyakarta dan Kudus-Rembang, karena buruhnya ditangkap oleh militer orde baru. Jabatan pimpinan kereta api sampai ke kepala-kepala stasiun dan kepala bengkel pun sebagian besar digantikan oleh aparat militer untuk ‘menjinakkan’ buruhnnya.

Mardika Putera

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut