Pedagang Pasar Naikoten Kupang Tuntut Solusi Cerdas Pemerintah Kota

Kamis (24/2), puluhan pedagang di pinggir jalan depan pasar Naikoten, Kota Kupang, mendapat pengunjung yang relatif ramai. Alih-alih menggembirakan, para pengunjung itu justru menyusahkan pedagang. Tentu saja, karena para pedagang bukan dikunjungi pembeli, tetapi puluhan anggota polisi pamong praja yang bermaksud menggusur mereka dari sana.

Menurut Rosalin (39), yang telah berdagang di sana selama 6 tahun, aparat polisi pamong praja memerintahkan mereka untuk tidak lagi berjualan di pinggir jalan di depan pasar sejak Jumat (5/2) ini.

Tentu saja, para aparat polisi pamong praja mengaku memiliki niat baik. Keberadaan para pedagang di pinggir jalan telah mengurangi ruang trotoar yang diperuntukan bagi pejalan kaki. Karena itu wajar jika Pol PP meminta pedagang berdagang di dalam pasar, tempat yang telah diperuntukan untuk itu.

Sayangnya, aparat polisi pamong praja atau Pemerintah Kota Kupang tampak tidak mau tahu dengan alasan para pedagang berjualan di pinggir jalan. “Kami sudah pernah pindah ke dalam, tetapi tidak ada tempat lagi di sana. Karena itu kami kembali ke sini dan akan tetap bertahan di sini,” kata Rosalin.

Keluhan Rosalin dibenarkan Obet (70), pedagang sayur dan buah-buahan sejak 2000 lalu. ”Pemerintah seharusnya fasilitasi kita, bukan melarang rakyat kecil berjualan tanpa solusi begini. Di dalam pasar sangat padat, bahkan untuk berdiri saja sudah tidak bisa, bagaimana kami bisa berjualan?” ujarnya dengan nada kesal.

Para pedagang ini memang telah beberapa kali dipindahkan ke dalam pasar. Tetapi banyaknya jumlah pedagang yang tidak lagi tertampung kapasitas pasar, membuat mereka kembali berjualan di pinggir jalan.

Tampaknya, kali ini para pedagang akan tetap bertahan dan tidak akan begitu saja menerima perintah Pemerintah Kota Kupang. “Kami akan tetap berjualan disini sampai pemerintah menyiapkan tempat untuk kami berjualan. Kami ingin seperti pedagang lain yang mendapat tempat berjualan dalam lokasi pasar,” tambah Fince (30 tahun), juga seorang pedagang sayur dan buah.

Nah, apakah Pemerintah Kota Kupang akan memilih menjadi pemerintah yang mendengarkan aspirasi warganya, atau memilih jalan pintas, menjadi algojo tukang gusur? Kita tunggu perkembangannya.***

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut