Warga Bratang Tangkis Diskusikan Sejarah PRD

DI Mushollah Baitus Salam, Kampung Bratang Tangkis Jagir, puluhan orang sudah berkumpul. Selain menjadi sarana untuk beribadah, Mushollah ini juga tempat aktivitas pengajian dan kegiatan sosial jemaah.

Memilih tempat ini bukan bermaksud apa-apa, melainkan karena rumah-rumah warga tidak ada yang berukuran luas. Maklum, sebagian besar warga adalah mereka yang berekonomi lemah.

Malam itu, sekitar pukul 19.30 WITA, bersamaan dengan pertandingan sepak-bola antara Indonesia melawan Turkmenistan, puluhan warga kampung Bratang Tangkis Jagir ini sedang mendiskusikan sejarah Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Acara dibuka dengan pemutaran film mengenai sejarah PRD dan beberapa photo slide mengenai kegiatan-kegiatan partai. Photo Ketua umum PRD, Agus Jabo Priyono, dan ketua PRD Jatim, Budi Santoso, terpampang jelas di layar yang berukuran lebar.

Pak Mislan, seorang anggota PRD Surabaya dan sekaligus ketua Organisasi Rakyat Stren Kali (Orasek), membuka diskusi ini. Ia menceritakan bahwa tujuan diskusi ini adalah untuk memperkenalkan PRD secara luas kepada rakyat. “Ada banyak yang orang yang diadvokasi oleh SRMI dan LMND, tetapi sedikit sekali yang tahu bahwa sebagian besar organiser itu adalah orang-orang PRD,” katanya.

Keingintahuan warga pun bertambah kuat. Mereka mulai bertanya siapa ketua PRD, apa programnya, dan apa bedanya dengan partai lain. “PRD bukan partai yang muncul ketika dekat-dekat pemilu, tetapi PRD adalah partai yang selalu tampil membela rakyat di mana saja dan kapan saja,” tegas Pak Mislan.

Beberapa saat kemudian, pengurus Komite Pimpinan Kota (KPK) PRD Surabaya mulai unjuk bicara. Pada kesempatan pertama, Ketua KPK PRD Surabaya, Samirin, diberi kesempatan untuk berbicara dan sekaligus memberi pengantar mengenai sejarah berdirinya PRD.

“Saudara-saudara, PRD adalah partai yang dilahirkan dari rahimnya perjuangan rakyat. Secara resmi PRD dideklarasikan pada tahun 1996, dan menjadi partai pertama di jaman orde baru yang berani menyatakan penentangan terhadap rejim Soeharto,” begitulah Samirin memulai penjelasannya.

Samirin, yang juga dikenal sebagai aktivis serikat rakyat miskin, menjelaskan dinamika perjuangan PRD sejak berdirinya hingga sekarang. “Kami pernah berjuang di bawah era kediktatoran, sedangkan sekarang berjuang di bawah alam demokrasi liberal,” ungkapnya.

PRD dan Tuduhan Komunis

Di sela-sela diskusi, ketika moderator memberi kesempatan kepada para warga untuk bertanya, seorang pemuda pun unjuk tangan. “Saya mau tanya, kenapa PRD kok muncul lagi dan kenapa dulu dikejar-kejar FPI?” begitu pertanyaan Baidi, nama pemuda tersebut.

Menjawab pertanyaan itu, Samirin pun menjawab: “PRD tidak pernah menghilang. Hanya saja memang, karena PRD bersama sejumlah organisasi mendirikan partai elektoral bernama Papernas, maka eksistensi partai jarang muncul.”

“Papernas bertujuan untuk melawan penjajahan gaya baru. Untuk mewujudkan tujuannya itu, maka papernas punya program yang disebut Tri-panji Persatuan Nasional, meliputi: nasionalisasi perusahaan tambang asing, penghapusan utang luar negeri, dan bangun pabrik (industrialisasi nasional).”

Karena program PRD langsung menohok imperialisme, terutama perusahaan asing, maka dipergunakanlah FPI untuk memukul PRD. “Mereka lalu menuding istilah tripanji identik dengan komunis, padahal sama sekali tidak. Tripanji adalah istilah untuk tiga program papernas tadi. Jadi, mereka (FPI) dipakai oleh pihak imperialis, sedangkan isu komunis hanya alasan saja untuk memukul papernas,” tegasnya.

Samirin menutup jawabannya dengan pernyataan berikut: “Mana ada gerakan rakyat di Indonesia yang tidak dituduh komunis ketika mereka memperjuangkan rakyat.”

PRD Berazaskan Pancasila

Menjelang tengah malam suasana diskusi makin seru. Pertanyaan-pertanyaan warga pun mengalir dengan deras, mulai dari pertanyaan siapa ketua partai, apa program perjuangan, azas PRD, hingga pertanyaan soal tujuan PRD.

“Sejak kongres ke-VII PRD yang lalu, partai kami secara resmi menggunakan pancasila sebagai azas. Kami sangat sadar bahwa Pancasila sangat mencerminkan kehendak politik PRD di masa depan,” tegasnya.

Ketika baru dideklarasikan, PRD diketahui menggunakan Sosial-Demokrasi Kerakyatan sebagai azasnya. Meski berulang-kali dituding bahwa Azas Sosdemkra berbau komunis, tetapi banyak pula yang menyangkalnya. Pada kenyataannya, Sosdemkra memang berbeda dengan komunisme.

Meski begitu, perubahan azas PRD dari Sosdemkra menjadi Pancasila bukanlah kamuflase atau sebuah taktik untuk menghindari tudingan komunis. Akan tetapi, perubahan azas itu benar-benar hasil pendiskusian panjang seluruh kader PRD, bahkan diputuskan secara demokratis melalui kongres.

Sambil mengutip pernyataan sang penemu Pancasila, Bung Karno, Samirin mulai menjelaskan bahwa, pancasila itu dapat diperas menjadi tiga, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Sosio-nasionalisme, dan Sosio-demokrasi. Ketiga perasan pancasila tersebut, lanjut Samirin, masih dapat diperas lagi menjadi satu, atau sering disebut Ekasila, yaitu: Gotong Royong.

“Gotong-royong itu adalah sosialisme Indonesia,” kata Samirin menegaskan.

Siap Bergabung Dengan PRD

Di penghujung diskusi, seorang pemuda kampung, Sapril namanya, yang juga dikenal sebagai bekas preman di kampung itu, langsung unjuk tangan. “PRD memang bukan partai orang kaya, tetapi PRD sangat kaya hati dan kemuliaan untk berjuang bersama kaum miskin.”

Kotan saja, pernyataan Sapril ini direspon dengan gemuruh warga lain. “Mantab!” begitulah warga merespon pernyataan Sapril.

Sapril menjanjikan akan memperkenalkan PRD kepada teman-temannya dan juga warga kampung. “Saya berharap bahwa warga kampung bisa bergabung dengan PRD,” katanya.

Seusai diskusi warga pun menyatakan kesiapan untuk bergabung dengan PRD. Bravo!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut