Miklukho-Maklay, Ilmuwan Penentang Rasisme

Tahukah anda, pernah di suatu masa, rasisme dibenarkan atas nama ilmu pengetahuan. Dan dengan dalil itu pula, bangsa-bangsa kulit putih merasa punya pembenaran untuk menaklukkan dan menjajah bangsa-bangsa kulit berwarna selama beratus-ratus abad.

Sejarah tak bisa melupakan Samuel Morton, seorang ilmuwan dari Amerika Serikat, yang dikenal sebagai “Bapak Rasisme Ilmiah”. Dengan menggunakan pendekatan ilmiah, yaitu penelitian ilmiah, Morton mengumpulkan ratusan tengkorak manusia yang sudah meninggal untuk diteliti.

Hasilnya mudah ditebak. Dari meneliti tengkorak itu, Morton membagi manusia dalam lima ras. Dia juga menyimpulkan bahwa perbedaan tempurung otak mempengaruhi kecerdasan manusia. Dan tentu saja, ras Kaukasoid, rasnya Morton, dianggap ras dengan tempurung otak lebih besar.

Itulah yang disebut teori rasisme ilmiah. Rupanya, si Morton ini memang penganut teori poligenisme, bahwa ras manusia diciptakan berbeda-beda.

Dengan memanipulasi teori Darwin soal seleksi alam, Morton berpendapat bahwa kulit putih sebagai ras yang terpilih oleh seleksi alam berhak  untuk memerintah kulit berwarna.

Teori Morton diterima dan diyakini banyak orang di zamannya, yang memang mendambakan pembenaran ilmiah terhadap praktik perbudakan, diskriminasi ras dan kolonialisme.

Hingga, pada suatu masa, muncul seorang ilmuwan yang menentang teori rasisme ilmiah ini. Namanya Nikolay Miklukho-Maklay, seorang ilmuwan berkebangsaan Rusia.

Miklukho-Maklay lahir di Novgorod, Rusia, pada 1818. Saat dunia masih dikangkangi oleh awan gelap kolonialisme dan rasisme. Di masa muda, nilai-nilai humanisme sudah menancap kuat dalam kepribadiannya. Tidak heran, di masa masih sebagai pelajar belia, dia sudah ikut aksi protes.

Tak berhasil menuntaskan pendidikannya di Rusia, pada usia remaja Miklukho-Maklay menyeberang ke Jerman dengan bermodalkan paspor palsu. Ia belajar Humaniora di Heidelberg, kedokteran di Leipzig, dan zoologi di Universitas Jena.

Di Jerman, dia berkenalan dengan seorang ilmuwan Jerman pengikut Darwin, Ernst Haeckel. Namun, Haeckel ini agak rasis, sama seperti Morton. Karena itu, kendati Miklukho-Maklay sempat bekerja bersama dengan Haeckel, dia menolak pandangannya soal perbedaan dan keunggulan ras.

Di tahun 1870-an, ketika Nusantara sedang dicekik kolonialisme Belanda, Miklukho-Maklay berlayar ke Australia. Setelah mendirikan pusat zoologi. Tak lama kemudian, dia mulai menyeberang ke Papua dan sejumlah tempat di Asia Tenggara.

Di Papua, tepatnya Papua bagian timur, Miklukho-Maklay tinggal cukup lama. Di sana, ia bersentuhan dengan masyarakat setempatnya yang menganggapnya “orang yang turun dari bulan”.

Persentuhannya dengan masyarakat Papua semakin menebalkan keyakinan Miklukho-Maklay, bahwa pada dasarnya manusia itu sama dan setara karena secara biologis sama. Dia juga melihat asal-usul manusia sebetulnya sama.

Pandangan itu pula yang membuat Miklukho-Maklay menempati garis terdepan ilmuan yang menyangkal teori poligeisme dan menolak rasisme ilmiah.

“Tidak ada superioritas ras. Pada dasarnya, semua ras sama karena semua manusia di muka bumi ini sama secara biologis. Bangsa-bangsa hanya berdiri di atas langkah yang berbeda dalam lintasan perkembangan masyarakat dunia. Tetapi tugas bangsa-bangsa beradab adalah membantu bangsa yang lemah agar bisa memperjuangkan kebebasan dan menentukan jalan nasibnya sendiri,” tulis Miklukho-Maklay.

Miklukho-Maklay bukan intelektual yang suka bertitah di atas menara gading ilmu pengetahuan. Ia mempraktekkan langsung apa yang menjadi kesimpulan pengetahuannya.

Saat itu, sebagian besar kepulauan Papua sedang dijajah oleh bangsa-bangsa barat. Papua bagian timur diperebutkan oleh Inggris dan Jerman, sedangkan Papua bagi barat dikuasai oleh Belanda.

Saat itu, administrasi Belanda di Papua rajin mengambil paksa masyarakat asli Papua untuk dijadikan budak dan dijual ke wilayah Hindia-Belanda di barat.

Praktek serupa juga terjadi di daerah Papua Nugini, Vanuatu, Kepulauan Solomon, Fiji, Tuvalu, dan Kiribati. Sebagian besar mereka direkut paksa, kadang diculik, untuk digiring dan dijual sebagai budak di perkebunan-perkebunan Australia.

Miklukho-Maklay mengetahui dan menentang hal tersebut. Dengan menggunakan kapasitasnya sebagai ilmuwan, dia menulis surat pribadi ke sejumlah pemangku kebijakan di Austrialia maupun Hindia-Belanda. Dia juga berkampanye menentang perbudakan dan blackbirding  (pemaksaan seseorang melalui penipuan atau penculikan untuk bekerja tanpa dibayar) melalui koran-koran di Australia.

Tak berhenti di situ, guna menghentikan kekejaman kolonialisme Barat di tanah Papua dan pasifik, dia mengirim surat ke pemerintah Rusia agar memberikan status Protektorat kepada Papua bagian timur dan kepulauan Palau.

Tidak semua usaha itu berhasil. Namun, pada 1878, pemerintah Hindia-Belanda menyetujui untuk memeriksa lalu-lintas perdagangan budak yang melalui Ternate-Tidore.

Tahun 1887, Miklukho-Maklay kembali ke Rusia, untuk mempresentasikan hasil-hasil temuannya. Namun, begitu tiba di tanah-airnya, kondisi kesehatannya semakin menurun. Akhirnya, di usia yang masih terbilang muda, 41 tahun, Miklukho-Maklay menghembuskan nafas terakhir karena kanker otak.

Namun, kontribusinya pada ilmu pengetahuan yang anti-rasisme menuai pujian. Salah satunya dari sastrawan kenamaan Rusia, Leo Tolstoy.

“Anda adalah orang pertama yang menunjukkan pengalaman bahwa semua manusia di mana pun sama, dapat bergaul dan menyebarkan kebajikan, bukan dengan senjata dan roh,” tulis Tolstoy kepada Miklukho-Maklay.

Hari ini, ketika Ilmu Pengetahuan kerap ditunggangi untuk kepentingan menghisap atau menindas sesame manusia, kita patut mengenang Miklukho-Maklay. Bahwa ilmu pengetahuan harus diabdikan pada kemanusiaan.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut