Massa UBK kembali turun ke jalan, solidaritas bergulir

Aksi mahasiswa yang terkonsentrasi di kampus Universitas Bung Karno (UBK) berlanjut hari ini. Siang tadi, sekitar pukul 11.00, sedikitnya 70 mahasiswa yang menginap di Kampus Marhaen tersebut kembali menggelar mimbar bebas di patung Bung Karno.

Dari dalam kampus, dipimpin Kiti, Ketua BEM Fisip UBK, massa bergerak keluar kampus menuju Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jalan Diponegoro.

Gabungan mahasiswa dari kampus UBK, USNI, UIN dan STMIK Jayakarta itu meminta pihak RSCM agar mengungkap hasil otopsi korban penembakan polisi seterang-terangnya tanpa ada yang ditutupi.

“Kami mendesak pihak RSCM agar segera menggelar barang bukti berupa proyektil peluru tajam yang bersarang di kaki kiri Juki, kawan kami yang tertembak dalam aksi kemarin. Barang bukti itu akan kami jadikan bukti untuk menempuh jalur hukum,” kata Ruby, mahasiswa Fisip UBK.

Barang bukti itu, kata dia, baru dikeluarkan dengan cara operasi sekitar pukul 12 tadi malam. “Sayangnya karena alasan prosedural barang bukti itu tidak bisa diserahkan kepada kami tadi malam, meski kami memintanya. Bahkan untuk memotret saja kami tidak diperkenankan.”

Aksi itu mereka lakukan karena menduga ada upaya pihak kepolisian untuk menyamarkan kejadian. “Tadi malam saja ada polisi yang mengatakan kepada pers bahwa bisa saja korban terluka bukan karena tembakan, melainkan tertusuk kawat. Ini kan mumunggungi kebenaran namanya,” tandasnya.

Dalam aksinya mahasiswa membawa dua spanduk besar bertuliskan; Gulingkan SBY-Budiono dan Usut Tuntas Kasus Penembakan Mahasiswa UBK!
Solidaritas
Aksi solidaritas atas tragedi penembakan mahasiswa UBK bergulir. Siang tadi, puluhan massa yang tergabung dalam Komite Dewan Rakyat (KDR) menggelar mimbar bebas di depan Kantor YLBHI, Jalan Diponegoro, Cikini Jakarta Pusat.

Massa membentangkan spanduk bertuliskan Gulingkan SBY BUdiono dan Usut Tuntas Kasus Penembakan Mahasiswa UBK di tengah jalan.

Mereka menyesalkan perilaku aparat keaman yang sampai hati menembak mahasiswa. “Tindakan (penembakan) ini tidak dapat ditolerir,” kata Aziz, juru bicara KDR saat aksi berlangsung.

Tak jauh dari lokasi aksi, di bibir Jalan Kimia, terlihat puluhan mahasiswa UBK berkumpul. Rolas Pangaribuan, mahasiswa Fakultas Hukum Univeristas BUng Karno yang ada di lokasi itu berpendapat sikap represif serta arogansi yang berlebihan dari pihak kepolisian terhadap aksi-aksi mahasiswa merupakan sebuah wanprestasi ketidakprofesional aparat kepolisian.

“Cara-cara seperti ini tak perlu dilakukanlah. Sudah tidak pantas. Inilah bukti bahwa apa yang telah dilakukan kepolisian cerminan dari kebobrokan rezim yang hari ini berkuasa,” tandasnya.

Lebih jauh dia menyatakan karena peristiwa ini sudah terlanjur terjadi, maka mahasiswa UBK akan terus mengawal kasus penembakan ini hingga dibuka seterang-terangnya. HIngga berita ini diturunkan, mahasiswa dan alumni UBK sedang merembukkan rencana pembentuan Tim Pencari Fakta (TPF).

Menjelang sore, mahasiswa yang tadi mendatangi RSCM, sekitar pukul 14.25 bergerak ke depan kantor YLBHI. Di sana mereka bergabung dengan massa KDR yang bersolidaritas terhadap penembakan mahasiswa UBK.

Setelah berorasi, massa kemudian langsung melakukan aksi bakar-bakaran di tengah jalan. Beberapa aparat kepolisian tampak berjaga-jaga di lokasi. Mereka mengatur arus lalu lintas.

Di sela-sela unjuk rasa, Kiti, pimpinan aksi tersebut mengurai sedikit banyak hasil pertemuannya dengan pihak RSCM.

“Mereka (RSCM) mengatakan kalau barang bukti yang diangkat dari kaki kiri mahasiswa yang tertembak berupa proyektil senjata tajam. Akan tetapi begitu kami memintannya mereka tidak mau memberikan, dengar berbagai alasan. Bahkan memperlihatkan saja mereka tidak mau,” kata perempuan bertubuh tinggi semampi tersebut.

Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, arus lalu lintas di ruas Jalan Diponegoro padat merayap. Tak lama kemudian massa membubarkan diri dan pulang ke kampus masing-masing. Sementara itu, Juki masih menjalani perawatan di RSCM. Orang tuanya sudah datang mendampingi.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Bambang Budiono

    Ada yg menarik dari tayangan ‘Apa Kabar Indonesia’ malam di tv One malam ini (Sabtu, 23 Okt 2010), yaitu komentar via telepon dari ‘seseorang’ yg menjabat sebagai wakil rakyat. Dengan penuh kesombongan dan nada mencemooh aksi mahasiswa kemarin, dia mengaku dimasa lalu pernah juga sebagai aktivis dari Universitas Pajajaran, tapi pada masa itu pergerakannya ‘murni’, tidak seperti aksi2 mahasiswa sekarang yg kata dia ada sponsornya, setiap pelaku aksi mendapat bayaran seratus ribu rupiah, merasa sedih melihat aksi2 sekarang yg tidak murni lagi, bla…, bla…, bla…
    Yang lebih lucu lagi, ketika dia ditanya oleh host tv One; Apakah ketika dia melakukan aksi demo dahulu, jika diinjak2 oleh Polisi kira2 marah atau tidak? jawabannya; Kalau tidak mau diinjak ya jangan Demo…
    Padahal yg saya tahu, pada masa itu dia hampir tidak pernah turun aksi kejalan, selain hanya mengompori massa lewat mass media…

    Inilah Typikal wakil2 rakyat masa kini… Bukannya mencari solusi terbaik untuk membuat situasi menjadi ‘dingin’ tapi malah berkoar sombong dan menekan aksi2 Demo dengan membuat Undang2 dan Peraturan bertajuk protap…
    Pantesan…setelah dia menutup komentarnya dengan kata2; ‘terimakasih…terimakasihhh…’ bernada mengolok, seketika itu pula diruang keluarga, tempat saya menyaksikan tayangan tersebut, aroma tinja menyeruak kemana mana…

  • kencangkan boots mu
    bekawan dan melawan
    melawan atau musnah