Krisis Politik Masih Berlanjut Di Tunisia

Meskipun presiden berkuasa di Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali, sudah berhasil digulingkan oleh gerakan massa, tetapi krisis politik sepertinya masih akan berlangsung panjang di negeri bekas jajahan Perancis ini.

Laporan media setempat melaporkan bahwa pasukan bersenjata harus melepaskan tembakan untuk membubarkan kerumunan massa di depan kantor partai berkusa, Constitutional Democratic Rally (RCD).

Massa, yang sangat marah dengan segala hal yang berbau Ben Ali, memanjat dinding kantor partai ini dan menjatuhkan papan nama yang tertempel di bagian depan kantor.

Demonstran menyampaikan rasa kecewa karena pemerintahan persatuan yang baru dianggap masih berisikan politisi tua dari RDC, dan proses pembentukannya pun masih atas campur tangan Presiden terguling, Ben Ali, sebelum melarikan diri ke Arab Saudi.

Selain meneriakkan slogan agar “pemerintahan segera membubarkan diri”, demonstran juga nampak mengacung-acungkan roti sebagai perlambang tuntutan agar harga bahan makanan diturunkan.

Sementara itu, pemerintahan baru terlihat akan kesulitan menghadapi pengunduran diri sejumlah menteri dalam pemerintahan baru. Salah satu diantara menteri yang mengundurkan berasal dari partai berkuasa, RDC, Zouheir M’dhaffer, yang dikenal sangat dekat dengan rejim terguling.

Empat menteri lainnya, tiga dari partai oposisi, juga menyatakan pengunduran diri beberapa hari yang lalu. Perdana Menteri Mohamed Ghannouchi dan Presiden Fouad Mebazaa telah keluar dari RDC.

Menyusul krisis politik ini, partai RDC telah membubarkan Komite Sentral-nya.

Sementara di tempat lain, media setempat melaporkan bahwa rakyat masih melakukan demonstrasi untuk menuntut pembebasan tahanan dan tuntutan mengenai penurunan harga makanan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags: