Ketika 1 Persen Menguasai Kekayaan Dunia

Ketika Gerakan Occupy Wall Street (OWS) mengatakan 1 persen menguasai kekayaan dunia, mungkin banyak yang menyebutnya sebagai bahasa propaganda. Namun, temuan terbaru Oxfam membuktikan kampanye OWS tersebut.

Menurut Oxfam, sebanyak 1 persen orang di dunia ini memiliki kekayaan yang sebanding dengan kekayaan 99 persen penduduk dunia. Laporan Oxfam, dilansir BBC, Senin (18/1), merujuk pada data Credit Suisse.

“Kita selalu berbicara bahwa negara-negara di dunia akan menciptakan kesejahteraan untuk semua orang, tetapi yang terjadi adalah kita hanya memperkaya 1 persen orang di dunia ini,” tulis Oxfam dalam laporannya.

Sumber: OXFAM
Sumber: OXFAM

Lebih lanjut, menurut Oxfam, kekayaan 62 orang terkaya di dunia setara dengan kekayaan 3,5 milyar orang termiskin di dunia. Padahal, di tahun 2010, ada 388 orang terkaya di dunia yang menyamai kekayaan 3,5 milyar penduduk dunia itu.

Masih menurut Oxfam, kekayaan 50 persen orang termiskin di dunia turun 40 persen sepanjang tahun 2010-2015. Sebaliknya, pada rentang waktu yang sama, kekayaan 62 orang terkaya di dunia meningkat sangat pesat dari 500 milyar USD menjadi 1,76 triliun USD.

Semenjak tahun 2000, lanjut Oxfam, 3,5 milyar penduduk termiskin di dunia hanya mendapat 1 persen dari pertumbuhan kekayaan dunia. Sebaliknya, 1 persen manusia terkaya di dunia menikmati separuh dari pertumbuhan kekayaan dunia.

Laporan Oxfam ini hampir bersamaan dengan momentum Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Pertemuan yang menghadirkan sejumlah pemimpin dunia ini akan menyoroti soal ketidaksetaraan ekonomi global dan gejolak pasar keuangan.

Sejumlah tokoh dunia, seperti Paus Fransiskus, juga sudah banyak mempersoalkan ketidaksetaraan ekonomi. Malahan Direktur IMF, Christine Lagarde, juga angkat suara terkait persoalan ini.

Namun, Direktur Eksekutif Oxfam Inggris Mark Goldring mengatakan, “kekhawatiran para pemimpin dunia terhadap ketidaksetaraan yang meningkat belum diterjemahkan dalam aksi konkret untuk memastikan orang dari kalangan bawah menikmati bagian yang adil dari pertumbuhan ekonomi.”

“Dalam dunia dimana satu dari sembilan penduduknya pergi tidur dengan perut lapar setiap malamnya, kita tidak bisa terus-menerus memberi orang-orang terkaya potongan kue yang lebih besar,” terangnya.

Sebaliknya, Oxfam mengajukan tiga proposal untuk mempersempit jurang ketimpangan itu, yakni melawan pengemplangan pajak, investasi yang lebih besar untuk sektor publik, dan menaikkan upah para pekerja murah.

“Kita perlu mengakhiri era surga pajak yang telah memungkinkan orang kaya dan perusahaan multinasional menghindarkan tanggung jawab mereka terhadap masyarakat dengan menyimpang uang mereka di luar negeri,” kata Mark.

Disebutkan Oxfam, kekayaan manusia super-kaya di dunia yang senilai 7,6 triliun USD disembunyikan di luar negeri. Padahal, kalau kekayaan itu dikenai pajak, bisa menghasilkan 190 milyar USD yang bisa dipergunakan oleh pemerintah tiap tahunnya.

Di Afrika, hampir 30 persen kekayaan berbentuk uang di kawasan itu disimpan di luar negeri. Akibatnya, ada 14 milyar USD potensi penerimaan pajak yang hilang per tahun. Padahal, dana sebesar itu bisa dipakai untuk membiayai pendidikan dan kesehatan rakyat di Afrika.

Karena itu, bagi Oxfam, komitmen pemerintah untuk menarik pajak dari kaum kaya dan korporasi sangat penting dalam memerangi ketimpangan dan kemiskinan.

Selain itu, pemerintah harus meningkatkan investasi untuk layanan publik, seperti pendidikan, kesehatan, dan layanan publik vital lainnya. Pemerintah juga dituntut untuk menyediakan pekerjaan dengan upah layak.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut