Kesaksian Warga Terkait Dua Korban Tewas Di Bima

Pada hari Sabtu, 24 Desember 2011 lalu, Polisi membubarkan paksa aksi pendudukan rakyat di pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat. Dalam aksi pembubaran, polisi menembaki rakyat secara membabi-buta.

Akibatnya, dalam sekejap, puluhan warga terkena tembakan. Sejumlah korban langsung tewas di tempat. Diantara korban tewas itu adalah dua pelajar SMU di Kecamatan Lambu: Arif Rahman (19) dan Syaiful (17). Menurut penuturan warga, kedua korban ini saling mengenal dan saling berkawan.

Kami mendapat informasi dari seorang warga terkait kejadian tersebut. Ia mengaku melihat langsung saat kedua pelajar tersebut tertembak. Akan tetapi, demi keamanan narasumber, kami sengaja tidak membeberkan namanya.

Saat itu, ketika Polisi mulai melepaskan tembakan, sebagian besar warga pun kocar-kacir dan berusaha menyelamatkan diri. Syaiful dan Arif  juga berusaha berlari meninggalkan lokasi.

Namun, ketika sedang berlari itu, peluru telah menembus dada Syaiful. Ia pun langsung tersungkur ke tanah. Melihat rekannya sudah terjatuh, Arif Rahman pun berusaha menyelamatkan. Tetapi peluru juga menyasar lengan Arif hingga tembus ke bagian ketiak.

Akan tetapi, saksi mata mengaku tidak tahu pasti apakah Syaiful dan Arif Rahman sudah tewas saat itu atau belum. Namun, berdasarkan penuturan saksi lain yang juga melihat kejadian itu, Syaiful dan Arif Rahman masih dalam kondisi hidup.

Anggota Brimob pun sempat menyeret keduanya. Tendangan juga masih sempat diarahkan kepada kedua korban yang sudah terluka parah tersebut. Tetapi, setelah itu, saksi mata tidak mengetahui lagi nasib kedua pelajar ini. Warga baru tahu keduanya meninggal setelah beberapa jam kemudian.

Dari foto korban yang tersebar di jejaring sosial, terlihat di bagian wajah dan sebagian badan korban terdapat banyak debu. Meski begitu, masih dibutuhkan penyelidikan dan investigasi lebih lanjut untuk memverifikasi dugaan ini.

AGUS PRANATA

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • ALFAN MANAH

    Kepolisian sudah tidak lagi mencirikan dirinya sebagai pengayom dan pelindung masyarakat. Hal ini lebih disebabkan karena polisi bisa dibeli. Budaya korupsi sudah menjadi bagian dari institusi kepolisian. Bau busuk korupsi tajam tercium, penyalahgunaan wewenang yang berakibat pada kerugian keuangan negara dan terutama kerugian kehancuran ekosistem alam dan manusia. Modal menjadi tuan baru bagi polisi, karenanya, polisi hanya mengabdi pada modal. Masa bodoh dengan kepentingan rakyat dan keseimbangan alam. Kasian polisi2 rendahan, mereka jadi tameng kepentingan perwiranya.