Forum Sosial Dunia Dan Alternatif Terhadap Kapitalisme

Porto Alegre, salah kota pusat gerakan di Brazil, kembali menjadi tuan rumah dari sebuah pertemuan besar: Forum Sosial Dunia (FSD). Acara itu berlangsung dari tanggal 24 hingga 29 Januari 2012.

Dengan mengusung tema “Capitalist Crisis- Social And Environmental Justice”, FSD berusaha memberi alternatif terhadap model pembangunan kapitalisme yang sudah terbukti gagal.

Menurut Frei Betto, seorang intelektual kiri Brazil, FSD kali ini bertepatan dengan dua momentum perlawanan global: pertama, perjuangan untuk kebebasan dan demokrasi di dunia Arab, dan kedua, kemunculan gerakan anti-kapitalis di negeri-negeri kapitalis maju, seperti gerakan “Duduki Wall Street” dan “Los Indignados” di Spanyol.

Menurut rencana, FSD 2012 merupakan tahap persiapan menuju “Peoples’ Summit of Rio +20”, yang akan berlangsung pada 20-21 Juni 2012, di kota Marvelous City.

Menurut organizer kegiatan ini, sedikitnya 40.000 peserta hadir untuk mengikuti sedikitnya 1000 kegiatan yang sudah direncanakan. Selain di Porto Alegre, kegiatan FSD juga akan digelar di Gravati, Canoes, Sao Leopoldo dan Novo Hamburg.

Presiden Brazil, Dilma Roussef, yang juga pemimpin Partai Buruh Brazil, hadir dalam pertemuan ini. Dalam satu sesi pertemuan, Presiden Dilma Roussef menawarkan dana kepada jarigan FSD untuk program melawan kemiskinan.

Beberapa program yang ditawarkan pemerintah Brazil itu, antara lain: penyesuaian upah minimum, kredit mikro untuk rakyat, program untuk keluarga petani, distribusi pendapatan, dan program koperasi di seluruh negeri.

“kemajuan Brazil tidak datang dari ‘keajaiban ekonomi’ seperti di masa lalu. Ini terjadi berkat usaha gerakan rakyat dan pemerintah, yang memutuskan untuk mengambil jalan baru,” kata Dilma Roussef.

Sementara itu,  Joao Stedile, pemimpin Gerakan Kaum Tak Bertanah (MST) Brazil, mengajak semua gerakan sosial membangun persatuan.

Selain itu, pemimpin gerakan petani ini juga mengusulkan realiasasi pembentukan “Komunitas Amerika Latin dan Karibia” sebagai organ strategis yang berfungsi membangun jarak dengan imperialisme AS.

Ia juga mengajak gerakan sosial di Amerika Latin membuat proposal di belakang pemerintah sebagai upaya pembangunan di lapangan kerakyatan.

Gerakan sosial di Amerika Latin setuju membangun semacam blok sosial dengan platform: Anti-neoliberalisme dan Anti-imperialisme.

Selain itu, salah satu hasil dari pertemuan FSD adalah kesepakatan gerakan sosial untuk memperkuat kedaulatan Venezuela melawan agresi imperialis AS.

Gerakan sosial di Amerika Latin menganggap serangan terhadap Venezuela adalah upaya imperialis untuk mengembalikan kontrolnya di kawasan tersebut.

Perdebatan lain yang muncul di FSD adalah soal proposal PBB tentang “ekonomi hijau”. Bagi sebagian besar peserta FSD, ‘ekonomi hijau’ hanyalah cover bagi negeri-negeri kapitalis untuk melegitimasi keberlanjutan eksploitasi terhadap sumber daya alam, termasuk di dunia ketiga.

FSD juga mengajak gerakan sosial di seluruh dunia untuk menggelar protes pada bulan Juni mendatang, 15 hari menjelang pertemuan PBB mengenai ‘pembangunan berkelanjutan’.

Isu lain yang diangkat oleh FSD adalah dukungan terhadap Argentina atas klaim terhadap kepulauan Falkland dan seruan untuk mengakhiri blokade dan embargo terhadap Kuba. Mereka juga mendesak pembebasan 5 kuba anti-teroris yang ditahan di penjara AS.

Gerakan sosial juga mengutuk praktek anti-demokrasi yang sudah berlangsung bertahun-tahun di Honduras (pasca kudeta militer terhadap Presiden Manuel Zelaya) dan pembunuhan aktivis serikat buruh di Kolombia.

FSD juga menyerukan diakhirinya pendudukan oleh imperialis AS di Libya dan Afghanistan. Selain itu, FSD juga menyerukan diakhirinya praktek neokolonialisme di benua Afrika. Dan, terakhir, FSD menyerukan penghancuran total terhadap senjata nuklir. (Diolah dari berbagai sumber)

ALI RAHMAN

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut