Presiden Ekuador: Bukan Sosialisme yang Gagal, tapi Neoliberalisme

Tersingkirnya sejumlah pemerintahan progressif di Amerika Latin, baik karena kekalahan pemilu maupun kudeta, mendorong sebagian pengamat untuk menyimpulkan bahwa proyek sosialisme abad-21 sudah berakhir alias gagal.

Presiden Ekuador Rafael Correa bersuara lantang menanggapi kesimpulan tersebut. Menurut dia, proyek sosialisme yang digerakkan oleh sejumlah pemerintahan kiri di Amerika latin tidak kalah dan gagal.

Sebaliknya, kata Presiden berhaluan kiri ini, yang terbukti gagal total dipraktekkan di Amerika Latin justru adalah model ekonomi neoliberal.

“Neoliberalisme yang gagal, sosialisme justru berpijak di bumi kami,” kata Presiden yang mantan ekonom itu seperti dikutip media El Ciudadano, Senin (8/8/2016).

Dia kemudian merujuk pada pemerintahan neoliberal yang berkuasa di negerinya tahun 1999. Kata dia, meskipun dampak ekstenal sangat sedikit, tetapi ekonomi saat itu melambat 6 persen dan 2 juta rakyat Ekuador terpaksa jadi buruh migran.

Lebih lanjut, kata Correa, kegagalan neoliberalisme juga bisa dilihat pada ketimpangan dan kemiskinan di Amerika Latin.

“Ketimpangan di negeri miskin berarti penderitaan, kesengsaraan umum. Kita harus mencari bentuk pengembangan diri lain yang berbeda dengan fantasi teori efek menetes (trickle down effect),” kata Correa seperti dikutip teleSUR, Senin (8/82016).

Karena itulah, lanjut Presiden ke-8 Ekuador ini, negara-negara Amerika latin, seperti Venezuela, Bolivia dan Ekuador, membangun jalan lain yang disebut “sosialisme abad 21”.

Namun, akhir-akhir ini, seiring dengan krisis ekonomi yang membelit Venezuela, media sayap kanan gencar berkampanye negatif tentang sosialisme abad 21. Correa menyebut media sayap kanan itu sebagai “propagandis sekaligus aparatus ideologis” dari kapitalisme global alis imperialisme.

Menurut Correa, media-media sayap kanan itu mengabaikan kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh negara-negara berhaluan kiri di Amerika latin. Salah satunya adalah Bolivia.

Correa memuji pertumbuhan ekonomi Bolivia yang naik signifikan dan membawa kemakmuran bagi rakyatnya.

“Pertumbuhan (ekonomi) itu penting…tapi bukan asal pertumbuhan, ini harus pertumbuhan berkualitas, pertumbuhan yang menguntungkan kaum miskin, berkeadilan sosial dan kesetaraan,” kata Correa seperti dikutip teleSUR, Senin (8/8/2016).

Correa mengungkapkan, keberhasilan sosialisme abad 21 bisa dilihat pada keberhasilan sejumlah negara, seperti Venezuela, Bolivia dan Ekuador, dalam mengatasi ketimpangan dan kemiskinan absolut di negerinya.

Satu negara yang dianggap paling sukses oleh UNDP dalam memerangi kemiskinan adalah Bolivia. Negeri penghasil ‘Koka” tersebut berhasil mengurangi kemiskinan hingga 32% selama periode 2000-2012.

Sementara berdasarkan riset CEPR, dengan menaikkan upah minimum sebesar 87,7% selama 10 tahun terakhir, pemerintahan Morales berhasil mengurangi kemiskinan ekstrem hingga 43%.

CEPR juga mencatat kemajuan yang dicapai oleh Brazil di bawah pemerintahan Partai Buruh, yang dimulai oleh Lula da Silva pada tahun 2003 dan berlanjut ke Dilma Rousseff hingga hari ini.

Menurut data CEPR, Brazil di bawah pemerintahan Partai Buruh berhasil mengurangi kemiskinan sebesar 55% dan kemiskinan ekstrem sebanyak 65%, atau dengan kata lain, berhasil mengeluarkan 31.5 juta rakyat Brazil dari kemiskinan dan 16 juta orang dari kemiskinan ekstrem.

Venezuela, di bawah panji-panji ‘Revolusi Bolivarian’, juga sukses dalam mengurangi kemiskinan rakyatnya. Antara 1999 hingga 2011, angka kemiskinan berkurang dari 42,8% menjadi 26,5%. Kemudian, pada periode yang sama, kemiskinan ekstrem berkurang dari 16,6% menjadi 7%. Saat ini angka kemiskinan ekstrim di Venezuela tinggal 5,5%––termasuk terendah di Amerika Latin.

Ekuador di bawah pemerintahan Rafael Correa dengan “Revolusi Warga”-nya juga sukses memerangi kemiskinan. Data resmi mengungkapkan, selama periode 2006-2013, angka kemiskinan berhasil diturunkan dari 37,6% menjadi 25,6%. Sedangkan kemiskinan ekstrim berhasil diturunkan dari 16,9% menjadi 8,6%.

Sukses besar juga diraih pemerintahan kiri Frente Amplio di Uruguay. Dalam periode 2005-2010, angka kemiskinan berkurang dari 32% menjadi 20%. Sedangkan kemiskinan ekstrim berkurang menjadi 1,5%.  Sekarang ini, berdasarkan laporan Komisi Ekonomi untuk Amerika Latin dan Karibia (ECLAC), kemiskinan di Uruguay tinggal 5,9% dan kemiskinan ekstrim tinggal 1,1%.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut