Chavez Serukan Agar Gereja Berhenti Mengganggu

CARACAS: Presiden Venezuela Hugo Chavez menyerukan kepada Gereja Katolik untuk berhenti menggunakan agama sebagai tameng dan untuk mengatasi pertarungan politik yang dilancarkan di negara ini, demikian dikutip dari Prensa Latina, Kamis (15/7).

“Saya harap anda melepas jubah, yang menjadi tempat bersembunyi kaum pengecut, dan melawanlah secara terbuka,” katanya di Ibukota selama pertemuan untuk garis besar kampanye  Partai Persatuan Sosialis Venezuela di bulan September mendatang.

Menurut Presiden, pejabat gereja telah mengambil sikap untuk melawan pemerintah dan badan-badan negara lainnya, mencoba untuk mengambil keuntungan dari posisi mereka di gereja.

Bagi pemimpin sosialis ini, wakil pemimpin agama adalah salah satu sektor yang tidak dapat kembali berkuasa.
Chavez bersikeras pada keberadaan suatu perdebatan politik di negeri ini, ditandai dengan konfrontasi dari dua visi yang saling bertentangan: kapitalisme dan sosialisme.

Hari-hari ini, Kardinal Jorge Urosa dan Konferensi Episkopal telah melancarkan tuduhan terhadap pemerintah dan Majelis Nasional. Menurut mereka, posisi ini adalah murni pemilu, yang dianggap tidak sejalan dengan misi gereja.

Pekan lalu, Kardinal Jorge Urosa Savino, yang telah menjadi kritikus paling vokal terkait kebijakan Chavez, pergi ke sebuah stasiun radio di Roma dan menuduh Presiden Hugo Chavez telah memimpin negara ini menuju kediktatoran “komunis Marxis”, berdasarkan model “asing” yang dipinjam dari bekas Uni Soviet.

Untuk batas tertentu, pertempuran tak terelakkan. Tidak seperti beberapa negara Amerika Latin lainnya telah ditandai oleh apa yang disebut teologi pembebasan, Gereja di Venezuela tidak pernah menjadi kiri. Menurut pengamat, bahwa hanya satu dari setiap 10 imam diidentifikasi dengan kiri dan lebih dari 50 uskup yang merupakan segelintir menjadi pendukung Chavez.

Pihak Gereja sangat marah dan menuding Chavez telah memangkas 80% anggaran negara untuk kegiatan mereka. Salah satu penentang Chavez adalah Monsignor Baltazar Porras, Uskup Agung kota Andes dari Merida dan Presiden Konferensi Episkopal.

Chavez menyatakan diri sebagai Kristen yang merujuk kepada Kristus sebagai seorang revolusioner, telah mengatakan bahwa perubahan sosial dan politik yang diprakarsai oleh pemerintah telah menarik dari campuran Kristen, Marxisme, dan pejuang pembebasan nasional Venezuela sendiri dalam perjuangan untuk kemerdekaan dari Spanyol dan reformasi tanah.

Menteri Kebudayaan Venezuela Sesto Farruco mengatakan bahwa Konferensi Episkopal Venezuela (CEV) adalah bagian dari hirarki gereja “yang” tidak dipilih oleh siapapun “dan tidak mencerminkan nilai-nilai demokrasi, Kristen, atau penganutnya.”

Kristen adalah doktrin yang mengajarkan kasih, damai dan saling pengertian antara orang orang, dan kesetaraan; Sementara itu, Urosa mengambil sisi orang yang kaya dan berkuasa di bumi, dan ia tidak membawa bersamanya pesan injil, “kata Sesto di saat konferensi pers hari Minggu lalu. (Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut