BEM Sebagai Alat Perjuangan Demokratisasi Kampus dan Kepentingan Mahasiswa

Sabtu (2/4), seratusan mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Kupang memenuhi aula kampus tersebut. Mereka adalah utusan dari berbagai jurusan dan program studi yang menghadiri pelantikan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Bedan Legislatif Mahasiswa (BLM) Politani Negeri Kupang. Pelantikan Pengurus BEM adalah peristiwa biasa. Tetapi yang terjadi di Politani Kupang hari itu tidak biasa. Antusiasme tampaknya menjadi tepat untuk menggambarkan suasana batin para peserta yang dengan mudah dapat dirasakan oleh setiap yang hadir.

“Politik kampus selama kami ini, seperti yang terjadi di setiap kampus di Kota Kupang, hanya diwarnai dengan persoalan persaingan mahasiswa berlatar belakang perbedaan etnis dan agama. Sejak hari ini, seluruh mahasiwa Politani Kupang akan meninggalkan semuanya dan BEM-BLM serta kehidupan kemahasiswaan akan memasuki suatu era baru,” kata Ketua BLM terpilih, Apolonarius Kappo, dalam orasi penyambutan pelantikannya.

Kappo menjelaskan, era baru yang dimaksudkannya sebagai “BEM dan BLM haruslah dipandang sebagai alat politik legal mahasiswa dalam memperjuangkan kepentingannya dihadapan birokrasi kampus dan negara. “BEM dan BLM harus dimanfaatkan sebagai alat perjuangan bagi setiap mahasiswa di kampus ini untuk memperjuangkan demokrasi sejati di kampus, dan sekaligus sebagai alat latih memperjuangkan demokrasi sejati dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.”

Hari ini, kata Kappo, berbekal kepercayaan diri dari kemenangan perjuangan mahasiswa Desember 2010 lalu, kita memulai sebuah proyek besar, proyek pembangunan fondasi bagi demokrasi sejati di Kampus Politani Kupang.

Pembantu Direktur 3 Bidang Kemahasiswaan, Andi Takalapeta, M.Si. menyatakan dalam kata sambutannya bahwa roh perjuangan mahasiswa Politani mulai tumbuh sejak perjuangan menuntut demokratisasi, transparansi, dan keadilan di kampus tersebut pada Desember 2010 lalu.

Perjuangan itu memiliki makna penting bagi kesadaran mahasiswa ketika akhirnya tercapai kesepakatan tertulis dengan pihak rektorat terkait sejumlah tuntutan mahasiswa, seperti transparansi penyaluran beasiswa. Andi Takalapeta berpesan agar apa yang telah dilakukan dapat terus dipertahankan hingga menjadi tradisi bagi mahasiswa Politani, agar kelak cita-cita demokrasi sejati dan kampus yang ilmiah sebagaimana disampaikan Ketua BEM dan BLM terpilih dapat terwujud.

Berawal dari perjuangan Desember 2010

Semangat dan cita-cita besar demokratisasi kampus yang tampak dalam acara pelantikan Pengurus BEM dan BLM Politeknik Negeri Pertanian Kupang ini merupakan dampak dari perjuangan mahasiswa pada Desember 2010. Ketika itu, sejumlah aktivis mahasiswa Politani Kupang mengorganisasikan massa mahasiswa Politani untuk memperjuangkan apa yang menjadi keresahan mereka di lingkungan kampus. Dari serangkaian diskusi dengan massa mahasiswa, terdapat begitu banyak keresahan yang ditemukan.

Karena sebelumnya para mahasiswa Politani Kupang tidak pernah terlibat di dalam perjuangan mahasiswa, baik di dalam kampus terkait kepentingannya maupun di luar kampus sebagai solidaritas atas persoalan rakyat umum, para aktivis mahasiswa yang menjadi pelopor gerakan memilih memfokuskan diri pada keresahan yang paling mungkin untuk diperjuangkan dan dimenangkan. Salah satunya adalah persoalan transparansi dan ketidakadilan dalam penyaluran beasiswa. BEM dan BLM digunakan sebagai wadah bagi perjuangan tersebut.

Rangkaian perjuangan itu akhirnya memberikan hasil ketika unjukrasa 200 mahasiswa Politani (6/12/2010) berhasil mendesak pihak rektorat untuk menyetujui tuntutan mahasiswa dan menandatangani perjanjian.

Sejak saat itu, aktivitas diskusi di kalangan mahasiswa Politani, di dalam kampus dan di kos-kosan semakin sering dilakukan dan melibatkan semakin banyak mahasiswa. Perhatian mereka pada kehidupan kampus mulai tumbuh. Demikian pula kepedulian pada persoalan rakyat. Ketika Presiden Yudhoyono datang ke Kupang, puluhan mahasiswa Politani Negeri Kupang–untuk pertama kalinya–bersatu dalam barisan bersama rakyat dan mahasiwa kampus lain, mengkritisi presiden neoliberal itu.

Antusiasme mahasiwa pada kehidupan kampus sangat tampak pada Rapat Umum Anggota untuk memilih Pengurus BEM dan BLM Politani, 26 Februari 2011 lalu. Menurut Ketua Panitia RUA, Ferdi K.L Djawa, RUA tersebut sama sekali berbeda dari semua pelaksanaan RUA pada masa lalu.

“Dahulu RUA selalu diwarnai dengan perkelahian antar mahasiswa dari kelompok-kelompok etnis yang berbeda. Saat itu, satu-satunya semangat peserta RUA adalah memenangkan kandidatnya. Dalam RUA terakhir ini, para perwakilan mahasiwa begitu bersemangat membicarakan apa yang seharusnya dilakukan dengan BEM dan BLM untuk memperjuangkan terwujudnya demokrasi kampus dan terakomodasinya kepentingan mahasiswa. Anehnya, untuk pertama kalinya pemilihan badan ad hoc, pengurus BEM dan pengurus BLM melalui aklamasi,” tuturnya dengan bersemangat.

RUA tersebut memilih para pemimpin perjuangan Desember sebagai pengurus BLM dan BEM. Apolonarius Kappo sebagai Ketua BLM dan Alfian Syukur sebagai ketua BEM. Selain jabatan barunya ini, selama ini Kappo juga Ketua Eksekutif Komisariat Politani Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Demikian pula Syukur, adalah seorang anggota aktif LMND.

Terkait dipercayakannya para anggota LMND menjadi Pengurus BEM dan BLM Politani, Ketua LMND Eksekutif Kota Kupang Julius Kasimo menyampaikan terimakasih kepada para anggota LMND Politani yang telah menjalankan amanat Kongres V LMND untuk menata kembali kehidupan kampus yang ilmiah dan demokratis. Kasimo juga menyampaikan selamat pada segenap mahasiswa politani yang berjuang merebut kedaulatan mahasiswa dalam kampus. Menurut Kasimo, apa yang telah diraih mahasiswa Politani sekarang ini merupakan peluang untuk semakin memajukan demokratisasi dan kehidupan ilmiah sejati di dalam kampus.

*) Koordinator Departemen Koran dan Bacaan LMND Eksekutif Komisariat Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan sekaligus Kontributor Berdikarionline

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut