Kehadiran Jokowi Dorong Rakyat Tinggalkan Konservatisme Politik

Survei berkala yang dilakukan oleh Litbang Kompas menyimpulkan bahwa tingkat keterpilihan Jokowi mencapai 32,5 persen. Proporsi itu meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan dengan tingkat keterpilihannya pada Desember 2012.

Menanggapi hasil survei tersebut, Direktur Seven Strategic Studes (7SS) Mulyana W Kusumah menilai, hasil survei itu memperlihatkan gambaran tentang kecenderungan perilaku memilih (voting behavior) yang meninggalkan sikap konservatisme politik.

“Hal ini berkat Jokowi. Mereka tidak lagi  mendasarkan pilihan pada tokoh  yang mengedepankan bentuk pencitraan palsu, yaitu memadukan  penampilan pribadi yang direkayasa atau dengan  gagasan pernyataan publik yang terkesan santun bergaya akademik,” ujar Mulyana.

Lebih lanjut, Mulyana mengungkapkan, para pemilih sudah meninggalkan tokoh-tokoh klasik dengan rekam jejak yang dinilai tidak akan membawa perubahan ke arah Indonesia yang lebih baik.

“Belum ada tokoh nasional lain yang menjadi bintang politik baru. Hanya tersisa waktu sekitar 6-7 bulan Pemilihan Legistatif (Pileg), kesempatan membuka bagi tampilnya bakal calon presiden lain,” ujarnya.

Menurutnya, waktu yang tersisa itu terlalu singkat untuk membangun eligibilitas, akseptabilitas publik, dan elektabilitas. Karena itu, 30 tokoh lainnya yang telah mewacanakan diri atau diwacanakan sebagai Capres harus bekerja keras untuk dapat bersaing dengan popularitas Jokowi.

“Mereka harus mengerahkan segenap sumber daya politik yang dimiliki, termasuk mengupayakan  dukungan elektoral koalisi parpol, untuk memenuhi syarat presidential threshold,” tandasnya.

Mulyana juga menilai, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) harus menggunakan fenomena keunggulan elektoral Jokowi sebagai kesempatan historis untuk memasuki kembali pusat kekuasaan.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut