Anak Laki-Laki Dalam ‘Keluarga Gerilya’

Teo Gutierrez Moreno

INFANCIA CLANDESTINA (CLANDESTINE CHILDHOOD)

Sutradara: Benjamín Ávila
Penulis : Marcelo Müller dan Benjamín Ávila
Tahun Produksi: 2011
Durasi: 110 Menit
Pemain : Teo Gutiérrez Romero, Natalia Oreiro, César Troncoso, dan Ernesto Alterio

Infancia Clandestina (Clandestine Childhood), film garapan sutradara Benjamín Ávila, berusaha memotret Argentina ketika masih di bawah kediktatoran militer. Orang-orang sering menyebutnya era “perang kotor” (Guerra Sucia).

Pada tahun 1974, Juan Peron meninggal dunia. Penggantinya, Isabel Perón, tidak sanggup mengkonsolidasikan kekuasaannya. Akhirnya, pada tahun 1976, militer di bawah pimpinan Jorge Videla memanfaatkan celah itu untuk melancarkan kudeta militer.

Selaras dengan itu, rezim militer menumpas habis semua yang dianggap ‘musuh negara’, seperti gerilyawan kiri, serikat buruh, organisasi mahasiswa, serikat petani, organisasi perempuan, seniman, penulis kritis, pastor progressif, dan mereka-mereka yang bersentuhan dengan kaum miskin.

Tetapi perlawanan tidak berhenti. Salah satu kelompok yang melawan kediktatoran adalah sayap kiri Peronis, Monteneros. Monteneros mengadopsi metode “gerilya kota” sebagai caranya menggulingkan kediktatoran militer.

Film ini mengambil setting 1979. Saat itu, aktivis di pengasingan memutuskan untuk pulang ke Argentina dan terlibat dalam perjuangan bersenjata.  Horatio (Cesar Troncoso), seorang aktivis Monteneros, dan istrinya, Cristina (Natalia Oreiro), termasuk diantaranya. Bersama dengan anak laki-lakinya yang berusia 12 tahun, Juan (Teo Gutierrez Moreno), dan anak bayinya, Vicky, mereka ‘menyelinap’ masuk ke Argentina.

Mereka pun harus memakai nama samaran. Horatio menggunakan nama Daniel. Christina memakai nama Charo. Sedangkan Juan, yang telah mendapat cerita tentang Che Guevara, memakai nama “Ernesto”. Mereka pun tinggal di Buenos Aires. Di rumah itu tinggal juga saudara Horatio, Beto (Ernesto Alterio), yang sangat dekat dengan Juan.

Rumah keluarga itu menjadi pusat perlawanan. Para aktivis Monteneros sering menggelar rapat gelap di sana. Tak hanya itu, keluarga ini berpura-pura menjalankan bisnis coklat untuk menyuplai senjata dan bahan propaganda kepada para aktivis Monteneros.

Pada bagian awal film, kita disuguhi heorisme pejuang Monteneros. Teriakan “Perón or death!” dan “Long live our homeland!” berulangkali bergema. Lalu, kita juga disuguhi bentuk-bentuk kritik. Juan selalu tidak puas ketika gurunya menjelaskan bahwa Columbus menemukan Benua Amerika dan membawa peradaban. Ia juga menolak menaikkan bendera nasional Argentina, yang di tengahnya ada gambar matahari, yang sering dipergunakan tentara. “Itu bendera perang,” kata Juan.

Tetapi Benjamín Ávila juga menyelipkan kisah asmara, yaitu antara Juan dengan teman sekelasnya, Maria. Sayang, karena aktivitas politik kedua orang tuanya, Juan tidak bisa sebebas anak-anak seusianya. Ia tidak boleh bebas bepergian. Ia juga tak bisa bebas telpon-telponan dengan kekasihnya.

Di bagian pertengahan hingga akhir, kita mulai menemui banyak ketegangan. Seperti ketika Amalia (Cristina Banegas), Ibunda Cristina, mengunjungi keluarga itu. Sebagai nenek, ia tak ingin cucunya, Juan dan Vicky, menjadi korban aktivitas politik orang tuanya. Memang, dengan keterlibatannya dalam gerilyawan, ancaman militer, polisi, dan paramiliter selalu mengintai keluarga ini. Termasuk anak-anak mereka.

Ketegangan makin meningkat ketika Beto gugur. Juan, yang sangat dekat dengan paman Beto, sangat terpukul. Lebih parah lagi, dengan tertembaknya Beto, aktivitas revolusioner keluarga itu mulai tercium rezim militer. Dan benar saja. Ketika Juan menjaga adiknya, Vicky, Ia menyaksikan di TV berita tentang tertembaknya bapaknya, Horatio.

Tak lama kemudian, tiba-tiba militer sudah mengepung rumahnya. Ia dan adiknya, seperti biasa, bersembunyi dalam gudang. Disinilah emosi penonton akan mengalir pilu. Betapa tidak, seorang anak yang masih kecil bersama adiknya harus mendengar suara letusan senapan dan granat di rumahnya. Dan ia tahu bahwa yang bertempur adalah ibunya. Setelah kejadian itu, Juan tidak tahu kemana Ibunya (Cristina) dan adiknya (Vicky).

Yang menarik, Benjamín Ávila menggunakan gambar sketsa (kartun) untuk menggambarkan kejadian pilu itu. Ini cocok untuk menggambarkan memori anak kecil terhadap sebuah kejadian besar dalam hidupnya. Dan, gambar-gambar itu akan menempel dalam memori hidupnya.

Ini adalah kisah nyata. Meski sudah lama berlalu, tetapi kejadian itu masih membekas dalam memori rakyat Argentina. Beruntunglah, setelah melalui perjuangan panjang, termasuk perjuangan ibu-ibu yang menggelar aksinya di Plaza de Mayo setiap Kamis sejak 30 April 1977, bangsa Argentina mulai mengadili para pelaku kekerasan dan kekejaman di era kediktatoran militer itu. Mantan diktator Argentina, Jorge Videla, sudah diseret ke pengadilan. Ratusan pelaku juga sudah diseret ke pengadilan HAM.

RUDI HARTONO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut