50 Tahun Sanggar Bumi Tarung: Revolusi Belum Selesai

Jakarta (BO)- Bulan ini, Sanggar Bumi Tarung melakukan pameran seni rupa dalam rangka peringatan 50 tahun keberadaan sanggar berhaluan kiri itu. Secara resmi pembukaan dilaksanakan tanggal 22 September 2011, dengan berbagai kegiatan seperti pameran, workshop metode berkarya, launching dan bedah buku 50 Tahun Sanggar Bumi Tarung. Kegiatan ini akan berlangsung hingga 2 Oktober 2011.

Lukisan sejumlah tokoh pejuang nasional dan rakyat memenuhi ruangan, diantaranya: Lukisan Soekarno, lukisan Hatta, lukisan wajah Marsinah, dan lukisan wajah Pramoedya Ananta Toer. Selain itu terdapat juga lukisan pahat kayu yang menggambarkan semangat perjuangan rakyat.

Lukisan-lukisan itu tidak sekedar menggambarkan eksotisme alam. Tapi juga menggambarkan realitas kehidupan rakyat: perempuan yang membawa kayu bakar melintasi jalan dipinggiran sawah, ada ibu-ibu tani yang berjuang menyampaikan salam, kehidupan masyarakat yang menggunakan transportasi sungai, ibu muda yang mengayun bayinya diantara kedua kakinya.

Hingga karya yang menggambarkan beratnya kehidupan rakyat di Jakarta: pengamen, tukang becak, kuli panggul, pedagang asongan, pedagang koran, antrian orang berjejalan di jalan, di kereta api, bus kota yang penuh sesak dan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Itulah karya-karya realisme sosialis yang berusaha menggambarkan kehidupan nyata rakyat.

Sanggar Bumi Tarung didirikan di Yogyakarta pada tahun 1961. Para pendirinya adalah sejumlah seniman kiri, diantaranya: Amrus Natalsya, Misbach Tamrin,Ng Sembiring, Isa Hasanda, Kuslan Budiman, Djoko Pekik, Sutopo, Adrianus Gumelar, Sabri Djamal, Suharjiyo Pujanadi, Harmani, Haryatno. Pameran pertama mereka dilaksanakan tahun 1962 di Balai Budaya Jakarta.

Revolusi Belum Selesai

Tema besar pameran itu adalah Nasionalisme Versus Imperialisme. Cita-cita revolusi nasional, yaitu masyarakat adil dan makmur, belum terwujud. Seorang perupa bernama Hardya, misalnya, mengangkat judul “Revolusi Belum Selesai, Keadilan Sosial Dimanakah Kau?” Dalam pameran ini Hardya menampilkan 7 lukisan grafis cukil kayunya, seperti Kembalikan Minyak Tanah Kami, Salam Ibu Tani, gambar laki-laki pemecah batu, Jangan Ganggu Tanah Kami, Kami Cinta Damai Tapi Lebih Cinta Kemerdekaan.Sejumlah lukisan dalam pameran ini juga berusaha membongkar kebohongan politik semasa pemerintahan orde baru. Lukisan-lukisan itu seperti menyuarakan dengan kuat perlunya pelurusan sejarah Indonesia.

Revolusi belum selesai, demikian dikatakan Bung Karno, memang masih relevan dan kontekstual untuk situasi sekarang. Seniman-seniman itu mengajak kita untuk melanjutkan perjuangan menuntaskan revolusi yang belum selesai itu.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut