10 Lagu Anti Perang yang Melegenda

Ketika kata-kata sudah berhenti, mulailah dengan musik. Begitulah penyair Jerman, Heinrich Heine, menggambarkan kekuatan musik sebagai salah satu senjata pengubah dunia.

Dan Heine tidak berlebihan. Ketika dunia ini dilanda perang, dan aksi protes tidak cukup membuat nafsu perang mereda, maka giliran musik untuk ikut berbicara.  Begitu juga ketika imperialis Amerika Serikat menggunakan perang untuk membungkam Vietnam. Para musisi bersuara dengan lagu-lagunya.

Berikut ini 10 lagu anti-perang yang melegenda hingga kini:

#1 For What It’s Worth – Buffalo Springfield

Ini lagu protes yang cukup populer yang lahir di tahun 1960-an. Tepatnya tahun 1966. Lagu ini dibuat oleh Stephen Stills, di tahun 1965, saat masih menjadi bagian dari Buffalo Springfield.

Menurut beberapa sumber, Stephen Stills menulis lagu ini karena terinspirasi oleh protes yang dilakukan oleh anak-anak muda Los Angeles untuk memprotes jam malam. Ceritanya, anak-anak muda suka berkerumun mengunjungi klub atau tempat musik. Situasi ini mengusik kelompok bisnis. Akhirnya, kelompok bisnis ini melobi Walikota untuk mengeluarkan aturan jam malam. Anak-anak muda tentu tidak terima dengan aturan itu. Mereka menggelar aksi protes yang berujung kerusuhan.

Namun, karena liriknya, banyak yang mengira ini lagu ini bicara anti-perang. Kebetulan pula, saat itu sedang berkecamuk perang Vietnam. Banyak aksi protes yang kemudian menyanyikan lagu Buffalo Springfield ini. Jadilah lagu ini sebagai lagu penting aktivis anti-perang.

#2 Give Peace A Chance – John Lennon dan The Plastic Ono Band

John Lennon, sang pencipta lagu ini, mengaku menulis lagu ini untuk dinyanyikan dalam demonstrasi besar menentang perang Vietnam pada Oktober 1969. Lennon berharap lagu ini bisa seperti “We Shall Overcome”, yang menjadi lagu kebangsaan aktivis hak-hak sipil dan anti perang Vietnam.

Lagu ini pertamakali diperdengarkan oleh Lennon dan istrinya, Yoko Ono, saat menggelar aksi “Bed-in for Peace” yang kedua di ruangan 1742 Queen Elizabeth’s Hotel di Montreal, Kanada, pada 31 Mei 1969. Aksi “Bed-in for Peace” yang pertama dilakukan di hotel Hilton Amsterdam pada bulan Maret 1969.

Lennon dan Yoko Ono berbaring di atas tempat tidur selama seminggu untuk menyerukan perdamaian. Disamping tempat tidur mereka berderet poster-poster anti-perang Vietnam. Aksi protes Lennon itu berhasil menarik perhatian media massa dan banyak orang.

#3 Born in USA – Bruce Springsteen

Born in USA diciptakan oleh musisi progressif Amerika Serikat, Bruce Springsteen, pada tahun 1984. Sembilan tahun setelah berakhirnya perang Vietnam.

Lagu ini sangat laris di zamannya: terjual 30 juta kopi di seluruh dunia. Namun, lantaran judulnya, banyak yang salah sangka pada lagu ini, dikira lagu yang memuji Amerika Serikat. Faktanya, lagu ini justru mengeritik Amerika dalam memperlakukan para veteran perang Vietnam. Secara tidak langsung, lagu ini juga mengeritik kebijakan AS dalam memerangi Vietnam.

Tahun 1984, Capres Republik Ronald Reagen untuk lagu kampanye pemilunya. Dia bilang, mimpi Amerika ada di lagu ini. Entah Reagen mengetahui lirik lagu itu atau tidak. Yang jelas, Bruce protes besar atas penggunaan lagunya itu.

Awalnya, seperti diakui Bruce, lagu ini berjudul “Vietnam”. Namun, karena terinspirasi sebuah judul film, Bruce mengubah judul lagunya menjadi “Born in USA”.

Dan karena liriknya juga, lagu ini masuk daftar lagu anti-perang. Sering dinyanyikan oleh aktivis anti-perang.

#4 Imagine – John Lennon

Inilah lagu paling populer sepanjang zaman. Dan mungkin menjadi karya terbesar John Lennon. Tahun 2004, majalah musik bergengsi Rolling Stone menempatkan Imagine sebagai lagu ketiga terbaik sepanjang masa.

Presiden AS Jimmy Carter pernah bilang begini: “Di banyak negara di seluruh dunia — saya dan istri saya telah mengunjungi sekitar 125 negara — kita dapat mendengar lagu John Lennon Imagine dimainkan hampir sama seringnya dengan lagu kebangsaan.”

Lagu ini diciptakan oleh Lennon tahun 1971, terinspirasi dari sebuah puisi pendek berjudul Cloud Piece, yang muncul dalam buku Yoko Ono berjudul Grapefruit.

Yang menarik, lirik lagu ini terbilang sangat radikal, terkesan anti-agama dan anti-nasionalisme. Lantaran liriknya ada kata-kata: Imagine there’s no countries/ It isn’t hard to do/ Nothing to kill or die for/ And no religion, too/ Imagine all the people/ Living life in peace.

Tetapi, seperti diakui Lennon, lagu itu sebetulnya hanya bermaksud mengeritik praktik beragama yang mengkotak-kotakkan manusia di atas klaim kebenaran Tuhan masing-masing. Begitu juga dengan fenomena nasionalisme chauvinis yang mempertentangkan bangsa-bangsa dalam aroma kebencian.

Sekat lain yang juga membuat manusia terpecah-belah, bahkan dalam kelas sosial, adalah kapitalisme. Kapitalisme membuat ada perut yang kenyang kegemukan, sementara yang lain terlilit kelaparan akut. Karena itu, persaudaraan umat manusia tidak mungkin terjadi di bawah kapitalisme.

Namun, lantaran mengimpikan masyarakat tanpa agama, tanpa sekat negara bangsa, dan tanpa kelas sosial-ekonomis, banyak yang menyebut John Lennon sebagai komunis. “Membayangkan tidak ada lagi agama, tidak ada lagi negara, dan tidak ada lagi politik, itu nyaris seperti Manifesto Komunis. Saya bukan komunis dan tidak ikut gerakan apapun.

Tidak begitu mengherankan, lantaran liriknya yang kuat untuk perdamaian dan persaudaraan umat manusia, lagu ini menjadi lagu kebangsaan aktivis anti-perang. Dan tidak ada aksi anti-perang tanpa lagu “Imagine”.

#5 We Shall Overcome – Pete Seeger/Joan Baez

Lagu “We Shall Overcome” sangat populer di tahun 1950-an dan tahun 1960-an, bersamaan dengan meluasnya gerakan hak-hak sipil dan anti-perang Vietnam di Amerika Serikat.

Lagu ini sebetulnya diadaftasi dari lagu berjudul “I,ll Overcome Some Day” karya Charles Albert Tindley. Lagu ini kemudian muncul dalam aksi protes buruh tembakau di Carolina tahun 1945. Lalu, pada tahun 1947, muncul dengan judul baru: We Will Overcome.

Pete Seeger yang berperan mempopulerkan lagu ini sekaligus mengubah judulnya menjadi “We Shall Overcome”. Di tahun 1950-an, lagu ini makin populer di kalangan gerakan sosial dan hak-hak sipil. Puncaknya, pada tahun 1963, ketika Joan Baez menyanyikan lagu ini di Pawai gerakan hak sipil di Washington.

Sejak itu hingga sekarang, “We Shall Overcome” menjadi lagu kebangsaan aktivis gerakan sosial dan anti-perang. Lagu ini kerap dinyanyikan sebagai seruan untuk perdamaian dunia dan terwujudnya keadilan sosial. Terutama karena liriknya: We shall live in peace, we shall live in peace/ We shall live in peace someday.

#6 Heal The World – Michael Jackson

Lagu “Heal the World”, yang dirilis oleh Michael Jackson pada tahun 1991, menjadi lagu pembawa pesan perdamaian paling populer sejak 1990an hingga sekarang.

Kendati lagu ini dianggap berbicara soal nasib anak-anak di tengah negara yang dicabik-cabik oleh perang, tetapi pesan lagu ini sebetulnya lebih luas dan universal: sebuah dunia yang lebih baik untuk semua umat manusia, tanpa memandang suku, agama dan ras.

Setelah lagu ini, Michael Jackson mendirikan sebuah yayasan bernama Heil the World Foundation untuk membantu anak-anak di berbagai belahan dunia.

#7 Blowing in the Wind – Bob Dylan

Lagu ini diciptakan oleh musisi peraih Nobel sastra, Bob Dylan, pada tahun 1962. Konon, Dylan menciptakan lagu ini hanya 10 menit di sebuah sore. Kendati Dylan tidak meniatkan lagu ini sebagai lagu protes, tetapi kenyataannya lagu ini menjadi lagu protes sekaligus lagu anti-perang paling populer.

Penyebabnya, pada tahun 1963, Peter, Paul and Mary menyanyikan lagu ini saat pawai besar gerakan hak -hak sipil di Washington, hanya beberapa menit setelah Martin Luther King menyampaikan pidato bersejarahnya, I Have a Dream.

Segera setelah itu “Blowing in the Wind” menjadi lagu kebangsaan gerakan hak-hak sipil dan aktivis anti-perang.

#8 War Pigs – Black Sabbath

Lagu “War Pigs” adalah lagu anti-perang yang dilahirkan oleh grup band cadas, Black Sabbath, pada tahun 1970. Saat lagu ini dibuat, AS sedang beringas-beringasnya memerangi rakyat Vietnam.

“Bagi saya, perang adalah setan besar,” kata bassist Black Sabbath, Geezer Butler. Menurut Butler, “War Pigs” benar-benar untuk melawan perang Vietnam. Dia melanjutkan, perang menjadi senjata kaum kaya untuk mengambil keuntungan dari si miskin.

#9 War (what is it good for) – Edwin Starr

Lagu “War (What is it good for), karya Edwin Starr di tahun 1970, merupakan lagu anti perang Vietnam yang paling ideologis. Bagi Edwin, perang tidak membawa keuntungan apapun, kecuali merampas nyawa orang dan menyisakan kesedihan bagi keluarganya.

“Perang berarti air mata ribuan ibu yang anaknya pergi berperang dan kehilangan nyawanya,” kata Starr.

Yang menarik, Starr cukup pintar membedakan antara perang imperialis dan perang untuk mempertahankan diri. Dia tahu bahwa perang yang dilakukan oleh orang-orang seperti Che Guevara, George Jackson dan Malcom X justru karena cinta.

“Cinta dari kawan seperjuangan untuk rakyat dan cinta kepada rakyat. Cinta adalah penggerak perjuangan mereka. Cinta yang merenggut nyawa mereka.”

#10 Masters of War – Bob Dylan

Lagu “Masters of War” diciptakan oleh Bob Dylan pada tahun 1962-63. Lagu ini diciptakan ketika dunia sedang diambang perang dingin antara blok barat yang dikomandoi oleh AS melawan blok Soviet.

Namun, seperti diakui Bob Dylan, lagu sebetulnya diperuntukkan sebagai protes atas rencana Presiden AS saat itu,  Dwight D. Eisenhower, membangun kompleks industri militer.

Namun, lirik lagu ini sangat kuat untuk menjadi lagu anti-perang: Come you masters of war/ You that build all the guns/ You that build the death planes/ You that build all the bombs/ You that hide behind walls/ You that hide behind desks/ I just want you to know/ I can see through your masks.

Pijar Jingga Semesta

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut