Venezuela: Anggota Parlemen Sosialis Turun Ke Jalan

Hari Selasa (5/1/2016), anggota Majelis Nasional Venezuela yang baru dilantik. Berbeda dengan periode sebelumnya, kali ini komposisi parlemen Venezuela didominasi sayap kanan.

Bersamaan acara pelantikan itu, ribuan rakyat Venezuela menggelar aksi massa di luar gedung parlemen. Mereka menentang rencana sejumlah anggota parlemen yang ingin mengembalikan kebijakan neoliberal di negara berpenduduk 33 juta itu.

Koalisi sayap kanan (MUD) sendiri sudah sesumbar akan membongkar sejumlah program dan Undang-Undang progressif di bawah pemerintahan Bolivarian, seperti UU kontrol harga, UU ketenagakerjaan, dan lain-lain.

Oposisi juga berencana melakukan privatisasi terhadap sejumlah perusahaan yang sudah berada di bawah kendali negara atau publik, mengundang lebih banyak investasi asing untuk proyek infrastruktur, dan mengubah sejumlah media milik publik menjadi swasta.

Malahan, Presiden Majelis Nasional yang baru, Henry Ramos Allup, sudah sesumbar bicara tentang “perubahan pemerintahan” sebagai kerja prioritas parlemen. Ramos adalah politisi tua yang sudah lama malang melintang dalam perpolitikan Venezuela sebelum Revolusi Bolivarian.

Pada saat pelantikan Majelis Nasional yang baru, Wakil-Wakil dari Sosialis (PSUV dan koalisinya) merasa diperlakukan tidak adil. Mereka tidak diberi kesempatan berbicara atau menyampaikan pendapat.

“Kami pergi karena kami membuat protes resmi, tapi diabaikan,” kata Diosdado Cabello, Wakil Sosialis yang sebelumnya menjabat Ketua Majelis Nasional.

Akhirnya, ketika proses pelantikan berlangsung, Wakil Sosialis yang berjumlah 54 orang melakukan walk-out dan memilih bergabung dengan massa rakyat di luar gedung parlemen.

“Kami 54 orang legislator negeri ini yang bersedia membela Rakyat Venezuela,” kata Cabello seperti dikutip teleSUR, Selasa (5/1/2016).

Bukan hanya anggota parlemen sosialis, Presiden Venezuela Nicolas Maduro juga terlihat hadir di tengah-tengah aksi protes di luar gedung parlemen itu.

“Rakyat turun ke jalan tanpa panggilan. Mereka memobilisasi diri sendiri di bawah slogan: dukung Revolusi,” kata Maduro di hadapan pendukungnya.

Menanggapi ancaman anggota parlemen sayap kanan yang ingin melengserkannya, Presiden Maduro mengatakan, pemerintahannya siap menghadapi ancaman tersebut.

“Kami akan mengambil semua tanggung jawab untuk ini, untuk menghadapi ancaman dari Ramos Allup,” katanya kepada teleSUR via telpon.

Lebih lanjut Maduro mengingatkan, Venezuela hari ini sedang berhadapan dengan krisis kontra-revolusioner, sembari membandingkan situasi yang dihadapi Venezuela saat ini dengan kudeta fasis seperti Pinochet di Chile, Mussolini di Italia, dan Franco di Spanyol.

Meskipun berada di bawah ancaman, Maduro menyerukan agar rakyat Venezuela untuk tetap bersemangat. Dia juga menegaskan bahwa dirinya tidak boleh dilengserkan untuk menjaga perdamaian.

“Satu-satunya jalan untuk mempertahankan perdamaian di negeri ini adalah tetap membiarkan Nicolas Maduro sebagai Presiden, memimpin rakyat,” tegasnya.

Memang, sejak oposisi sayap kanan memenangi pemilu legislatif tanggal 6 Desember lalu, situasi politik Venezuela semakin meruncing. Pihak oposisi segera menggunakan kesempatan itu untuk mengakhiri revolusi Bolivarian.

Di sisi lain, belajar dari kekalahan itu, kekuatan akar rumput di Venezuela kembali bergerak. Mereka menyadari ancaman terhadap Revolusi Bolivarian sudah di depan mata. Pemerintahan Maduro sendiri menyambut kebangkitan massa itu dengan membuka seluas-luasnya partisipasi rakyat untuk mempertahankan revolusi.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid