Tragedi Ekuador

Itulah tragedi Ekuador. Negara yang pernah memasuki masa kelam karena IMF dan Bank Dunia, lalu menapaki jalan terang bersama Rafael Correa dan Revolusi Warganya, kini kembali hendak dibawa ke zaman kelam.

Januari 2007, 12 tahun yang lalu, rakyat Ekuador membuat sejarah. Rafael Correa, seorang ekonom jebolan kampus di Amerika Serikat, diangkat sebagai Presiden.

Sejak itu haluan ekonomi dan politik Ekuador berputar seratus delapan puluh derajat. Sejak itu pula tercetus sebuah ambisi perubahan besar, yang kemudian disebut “Revolusi Warga”, untuk membawa negara berpenduduk 17 juta jiwa ini dari masa kelam menuju sosialisme abad 21.

Ya, Ekuador pernah mengalami masa kelam. Sepanjang 1972 hingga 1979, negeri ini diperintah junta-militer. Begitu terbebas dari cekikan kediktatoran, Ekuador jatuh ke pangkuan IMF dan Bank Dunia. Jadilah negeri ini pasien dua lembaga yang kerap dicap rentenir internasional itu.

Ekuador dililit utang. Ekonominya terjun bebas. Hampir 80 persen rakyatnya hidup dengan pendapatan 2 USD per hari. Saking sulitnya situasi ekonomi, 1 dari 10 warga Ekuador kabur ke luar negeri untuk mencari penghidupan.

Hingga di awal 2000-an, kemarahan rakyat meledak. Protes anti-neoliberalisme meledak di seantero Ekuador. Sampai-sampai, dalam rentang 5 tahun, ada tiga Presiden Ekuador yang terguling dari kekuasaannya.

Begitu Correa jadi Presiden, kebijakan neoliberalisme digulung habis. Uluran tangan IMF dan Bank Dunia ditampik. Sebaliknya, ia pelan-pelan membangun kembali ekonomi Ekuador dengan jalan berdikari. Orientasi ekonomi digeser, dari melayani investor menjadi melayani kebutuhan rakyat.

Begitu berkuasa, Correa mengaudit semua utang-utang negaranya di masa lalu. Alhasil, dia menemukan bahwa 3,9 milyar USD utang Ekuador adalah utang tidak sah atau illegitimate debt. Dan dia menyatakan pemerintahannya tidak akan membayar utang tidak sah itu.

Dia juga mengubah skema pajak menjadi lebih progressif. Korporasi mulai tak lagi dimanjakan, tapi dipajaki. Capital flight juga dipajaki. Sementara itu, Bank Sentral diperintahkan menarik pulang semua aset orang Ekuador di luar negeri.

Tidak ketinggalan, semua kontrak dengan perusahaan pertambangan dinegosiasikan ulang, agar perjanjian atau kesepakatan yang merugikan Ekuador bisa dihapus.

Langkah-langkah besar dan berani itu berhasil menambah kas negara, yang diperlukan untuk membiayai investasi, infrastruktur, dan belanja sosial. Di bawah Correa, pendidikan dan kesehatan bisa diakses gratis.

Di bawah Correa, upah minimum naik dari 170 USD per bulan pada 2007 menjadi 375 USD per bulan pada 2017. Kemiskinan juga berkurang drastis. Dari 2007 ke 2017, kemiskinan berkurang dari 37,6 persen menjadi 22 persen. Dalam rentang waktu yang sama, kemiskinan ekstrem berkurang dari 13 persen menjadi 5,7 persen.

Secara keseluruhan, performa ekonomi Ekuador juga membaik di bawah “Revolusi Warga”. Ekonominya tumbuh rata-rata 4,5 persen dalam rentang 2007-2017, meski dunia tengah dibayang-bayangi oleh perlambatan ekonomi. Pengangguran kini di bawah 5,2 persen.

Ini juga yang membuat tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Correa tidak pernah di bawah 60 persen. Bahkan, di 2014, tingkat kepuasan terhadap pemerintahannya menyentuh 83 persen.

Itu juga yang membuat Lenin Moreno, kawan separtainya, bisa memenangi Pemilu tahun 2017 lalu. Moreno, yang pernah menjadi Wakil Presiden di pemerintahan Correa tahun 2017-2013, berjanji akan melanjutkan “Revolusi Warga”.

Tapi, sayang seribu sayang, begitu berkuasa, Moreno justru bergeser ke kanan. Terpilih sebagai orang kiri, tapi memerintah sebagai orang kanan. Ia menghianati cita-cita “Revolusi Warga” dan kehendak rakyat Ekuador.

Tak lama setelah berkuasa, Moreno menyingkirkan Wakil Presidennya sendiri, Jorge Glas. Glas digiring ke penjara dengan tuduhan korupsi. Tak lama kemudian, semua Menteri dan pejabat yang pro-Correa juga satu per satu disingkirkan.

Moreno juga makin anti-demokrasi. Dia mencabut suaka untuk pendiri Wikileaks, Julian Assange. Beberapa media kritis juga dibungkam, karena berusaha membongkar skandal korupsi INA Papers yang melibatkan Moreno dan keluarganya.

Bersamaan dengan itu, Moreno mulai membuat kesepakatan dengan IMF, terutama soal utang. Dan atas rekomendasi IMF, pemerintahan Moreno didorong untuk melakukan program penghematan, dengan memangkas subsidi, mengurangi gaji dan pensiun, dan lain-lain.

Bersamaan dengan kebijakan itu, kemiskinan di Ekuador kembali merangkak naik dari 23,1 persen di tahun 2017 menjadi 25,5 persen di bulan Juli 2019. Kemiskinan ekstrim naik dari 8,4 persen menjadi 9,5 persen. Sedangkan rasio gini, yang mengukur ketimpangan, meningkat dari 0,462 (2017) menjadi 0,478 (Juli 2019).

Puncaknya, pada tanggal 1 Oktober lalu, pemerintahan Moreno mengumumkan kebijakan penghapusan subsidi bahan bakar yang sudah dinikmati rakyat Ekuador sejak 1970-an. Harga BBM langsung naik 123 persen.

Inilah yang memicu ledakan protes. Selama dua pekan, terhitung sejak 2 Oktober hingga 14 Oktober, jalan-jalan dan kantor pemerintahan di Ekuador dikuasai oleh rakyat, terutama masyarakat adat, pekerja, dan mahasiswa.

Sampai-sampai, pada 8 Oktober lalu, karena kantor parlemen dan Istana Kepresidenan jadi sasaran demonstrasi, Presiden Moreno memindahkan kantornya dari Quito ke Guayaquil.

Tak hanya itu, pemerintah juga sempat menerjunkan militer untuk menghadapi demonstran. Tapi, alih-alih meredam protes, penggunaan kekerasan justru memicu protes makin meluas dan membesar. Jutaan orang berdemonstrasi di jalan-jalan di kota-kota besar Ekuador, terutama Quito.

Akhirnya, pada 13 Oktober lalu, Moreno menyerah pada tuntutan demonstran. Ia berjanji akan mencabut keputusannya yang menghapus subsidi BBM.

Sedikitnya 10 orang tewas dalam aksi protes ini. 2000-an terluka dan 1000-an ditangkap.

Setelah keputusan Moreno, demonstrasi memang mereda. Bersamaan dengan itu, militer mulai mengambilalih kota Quoto. Bersamaan dengan pemberlakuan jam malam.

Itulah tragedi Ekuador. Negara yang pernah memasuki masa kelam karena IMF dan Bank Dunia, lalu menapak jalan terang bersama Rafael Correa dan Revolusi Warganya, kini kembali hendak dibawa ke zaman kelam.

Beruntung, perjuangan gagah berani, yang dimotori oleh masyarakat adat, berhasil menghentikannya sementara. Ya, hanya sementara.

Raymond Samuel  

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut