Pembatasan Populasi Manusia Sebagai Solusi Persoalan Lingkungan Hidup?

“Dunia ini penuh dengan hal-hal yang menakjubkan, namun yang paling menakjubkan diantara semua itu adalah manusia.”

Sopochles

Ketika menulis naskah drama “Antigone”, Sopochles mungkin tak pernah membayangkan tatanan dunia akan sampai pada titik yang kita temui hari ini. Jika saja iya, filsuf Yunani itu barangkali takkan pernah menulis adagium yang mengungkapkan keterpukauannya pada makhluk bernama manusia. Makhluk yang ia sebut sebagai “keajaiban” itu pula yang kini tengah menyeret tatanan bumi berjalan menuju kehancuran.

Situasi apokaliptik itu dapat dilihat dalam aneka rupa bencana ekologis yang masif seperti banjir, longsor, karhutla, musnahnya berbagai spesies satwa dan tumbuhan, pencemaran sumber air dan rekayasa genetik pangan yang menyebabkan penyakit regeneratif,  hingga gunungan sampah plastik yang akan mengepung bumi selama ribuan tahun kedepan. Akar masalahnya tidak lain berasal dari relasi makhluk berakal bernama manusia itu, dengan alam yang dipersepsikan “tidak berakal”.

Sejak ilmu pengetahuan berkembang, manusia berhasil mencapai usia hidup dua kali lebih panjang, menekan angka kematian bayi dan meningkatkan usia produktif serta siklus reproduksi. Berbagai pencapaian itu telah merubah konstelasi dunia menjadi tempat yang  tidak lagi sama. Kehidupan mempertontonkan pertarungan abadi antara kebutuhan ruang hidup manusia yang terus naik berhadapan dengan ruang bumi yang tetap dan siklus pertumbuhan tumbuhan-hewan yang cenderung konstan.Laju perkembangbiakan manusia lalu tiba pada masa yang semakin tak terkontrol. Mereka masuk dan merebut ruang-ruang hidup makhluk lain. Hutan ditebang, bukit dibelah, laut ditimbun,  sungai di bendung dan  angkasa terus dicakar oleh julang hunian vertikal dan mimpi hidup di negeri atas awan.

Dimulai sejak masa aufklarung yang mengagungkan nalar manusia dan menempatkannya sebagai raja di muka bumi.  Alam beserta isinya lalu “dipaksa” tunduk. Ilmu pengetahuan melahirkan teknologi yang mengeksplorasi alam tanpa batasan. Hutan, satwa dan tumbuhan, isi perut bumi, lautan luas hingga angkasa raya yang tak terbatas, boleh diekploitasi atas nama akal budi!.

Bukan hanya supremasi nalar, jumlah populasi manusia yang terus bertambah menjadi soal yang memperumit relasi manusia-alam.Merujuk pada rilis PBB di Bulan Juni tahun 2017, populasi manusia dunia sudah berjumlah 7,6 miliar. Angka inidiprediksi akan meningkat menjadi 8,6 miliar pada tahun 2030.  9,8 miliar tahun 2050  menembus 11,2 miliar di tahun 2100. Bandingkan dengan tahun 1900, bumi hanya dihuni 1,6 miliar manusia. Peningkatan terjadi di tahun 1950 menjadi 2,5 miliar.

Logikanya, setiap selisih kelahiran manusia baru dengan kematian harusnya dibarengi penyediaan ruang tinggal dan sumber kebutuhan pokok. Tapi itu tidak terjadi. Bumi tidak bertambah luas dan sumber daya alam menukik turun dengan tajam. Ditambah lagi sifat serakah personal dan golongan serta korporasi-korporasi raksasa tanpa etika yang sedia menggerus apa saja untuk dalil laba. Kapitalisme memberi alas ideologis sebagai justifikasi pemanfaatan segala sumber daya untuk kepentingan manusia.

Kondisi apokaliptik ini, tentu harus dilawan. Jika segala kerusakan bermula atasnama nalar, maka atas namanya pula manusia harusnya sanggup memikirkan kemungkinan terjauh untuk memulihkannya.

Sejak awal penciptaan, baik kepercayaan teisme maupun deisme, kompak sepakat bahwa dunia tidak dirancang untuk dihuni oleh satu spesies saja bernama manusia. Pun manusia bukan makhluk hidup pertama. Ia datang belakangan setelah  bakteri bernama amuba. Sejak awal dunia diciptakan dalam relasi kosmik yang harmonis. Kunci bertahannya siklus hidup di bumi selama ribuan tahun adalah keseimbangan.Dari sinilah, kita perlu memikirkan secara serius tentang rekomposisi populasi manusia.

Di Indonesia pada masa orba, Seharto telah mengenalkan program Keluarga Berencana (KB). Program ini terbukti berhasil meperlambat laju pertumbuhan penduduk dan PBB menjadikanIndonesia sebagai model pembangunan KB bagi negara-negara berkembang. Walau sempat mengundang tentangan, program ini sebenarnya sebuah inovasi yang baik. Sayang kemudian fajar kebebasan membakar hampir semua warisan Orba, tak peduli ia bermanfaat. Seakan yang datang dari Orba seluruhnya adalah dosa.

Salah satu tentangan terhadap KB datang dari kaum Islam fundamentalis yang menganggap KB adalah proyek Yahudi untuk memangkas jumlah umat muslim Indonesia. Yahudi, konon akan kalah jika jumlah muslim menjadi mayoritas dunia. Entah darimana datangnya pandangan seperti ini tapi agama nampaknya selalu jadi senjata ampuh untuk memukul apa pun yang datang dari luar.

Cina, sebagai penyumbang populasi manusia tertinggi, sudah menerapkan kebijakan satu anak sejak 1952 dan diperkuat oleh perdana menteri Chen Muhua tahun 1979. Kebijakan ini didukung oleh 76 persen warga Cina dan disebut berhasil menekan 400 juta probabilitas kelahiran baru. Tahun 2015 partai komunis akhirnya mencabut aturan ini dan membolehkan setiap pasangan memiliki 2 anak.

Ide tentang pembatasan jumlah populasi manusia sebenarnya juga bukan hal baru. Keinginan ini diam-diam hidup dalam benak para aktivis. Lihat saja bagaimana pegiat film misalnya, melahirkan ide tentang seleksi ras manusia hingga hanya yang unggul saja yang diperbolehkan hidup. Salah satunya adalah Film Amerika seperti Divergen. Film fiksi ilmiah yang sempat menghebohkan, 2012, kurang lebih didasari ide yang sama tentang sebuah mekanisme “kiamat kecil” yang akan melibas jumlah populasi dan mengembalikan tatanan bumi seperti paska banjir besar Nuh. Atau yang belakangan, Avenger: Infinity Wars, yang ceritanya berkisah tentang Thanos yang datang untuk menghabisi separuh penduduk bumi.

Dalam ilmu ekologi pun, kita mengenal teori tentang Homeostasis. Teori ini berpandangan bahwa bumi pun memiliki mekanisme untuk memulihkan dirinya sendiri. Banjir alami dua tahunan misalnya adalah contoh pengembalian keseimbangan alami debit air dan daerah serapannya. Mekanisme ini dalam beberapa hal, sampai pada titik ekstrem yaitu mengeliminasi manusia.  Ketika ini terjadi, manusia  kemudian akan cenderung menyalahkan alam, bahkan Tuhan. Maka sebaiknya, manusia menciptakan mekanisme “homeostatisnya” sendiri dan tidak menyalahkan yang lain. Salah satunya adalah dengan penekanan jumlah populasi yang mekanismenya dirumuskan oleh manusia sendiri.

Kita tentu saja tidak berfikir untuk menghabisi manusia-manusia hidup ini.Tapi yang perlu serius dipikirkan salah satunya adalah membatasi jumlah kelahiran. Hak azazi manusia memang menjamin hak hidup dan hak merdeka, namun hak ini melekat pada mereka yang terlahir, bukan yang masih dalam perencanaan.

Sebagian orang mungkin akan bertanya, mengapa harus membatasi jumlah populasi manusia? Mengapa tidak keselarasan saja yang dibangun? Mengapa bukan penyadaran akan bahayanya sifat serakah manusia dan menghentikan semua praktek teknologis yang merusak alam seperti rekayasa genetika dan pertanian monokultur? Mengapa tidak meminta saja semua orang hidup dengan jumawa, dengan sederhana dan menekan hasrat keinginan yang tidak lahir dari kebutuhan?

Jawabannya adalah nyaris tidak mungkin. kita kadung masuk dalam tatanan dunia yang diikat kencang oleh putaran kapitalisme.  Siklus ekonomi dan stabilitas politik didikte oleh pasar yang terus menerus diciptakan dan tidak boleh berhenti. Jika terjeda sebentar saja, kehidupan orang banyak akan guncang.  Sejarah telah memperlihatkan betapa pejalnya kapitalisme yang selalu punya kemampuan merubah bentuk. Serupa hantu yang tak pernah mati walau dibunuh berkali-kali. Diluar itu, jumlah manusia yang terlampau banyak nyaris membuat nyawa orang perorang seolah tak berharga. Atau katakanlah kurang berharga.

Keputusan-keputusan penting kehidupan diambil atas kepentingan orang banyak, mendahulukan gerombolan ketimbang personal. Manusia tiba-tiba menjadi sebatas angka statistik. Padahal pengakuan tertinggi pada manusia semestinya terletak pada eksistensi pribadinya yang unik dan khas. Bukan sekedar ia menjadi bagian dari kelompok.  Pada titik ini, langkah membatasi jumlah populasi manusia (apapun bentuknya nanti)  mendatangkan dua kebaikan sekaligus; pemulihan keseimbangan tatanan alam semesta dan revitalisasi harkat kemanusiaan individual yang unik dan khas.

RATNA DEWI, Bergiat di Seloko Institute, Jambi. Saat ini bekerja di salah satu lembaga konservasi dunia yang berkantor di Riau

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut