TPP Terancam Mati Sebelum Dimulai?

Trans-Pacific Partnership (TPP) sedang di ujung tanduk. Kesepakatan perdagangan bebas yang melibatkan 12 Negara Asia-Pasifik itu terancam gagal di tengah jalan.

Hal tersebut tidak lepas dari perubahan politik di Amerika Serikat (AS). Pertama, dua kubu di Kongres AS, yakni Republik dan Demokrat, sama-sama menyatakan tidak akan membawa kesepakatan TPP itu Lame Duck Session.

Lame Duck Session atau secara harfiah berarti ‘sesi bebek pincang’ adalah sidang Kongres AS di penghujung masa jabatannya, dimana Kongres baru sudah terpilih tetapi belum dilantik. Pelantikan Kongres baru akan dilakukan pada 20 Januari 2017.

Senator dari partai Demokrat, Chuck Schumer, sudah menyampaikan ke perwakilan Serikat Buruh bahwa kesepakatan TPP tidak akan lolos alias diratifikasi oleh Kongres.

Begitu juga dengan Republik. Senator Partai Republik Mitch McConnell mengungkapkan, Republik akan menyatakan “NO” jika Kongres mempertimbangkan membahas TPP. Ketua DPR AS, Paul Ryan, juga menyatakan bahwa Republik tidak akan memberi suara untuk meloloskan TPP di DPR.

Dengan begitu, dua kekuatan utama yang berseberangan di Kongres sudah bersikap tidak akan mengesahkan kesepakatan TPP hingga jabatan mereka berakhir. Inilah yang menjadi sinyal mengkhawatirkan bagi Presiden Barack Obama.

Kedua, kemenangan Donald Trump dalam Pemilu AS berpotensi mengubah sikap AS terhadap kesepakatan perdagangan bebas, termasuk TPP.

Seperti ramai diberitakan, retorika kampanye Trump berbau anti-perdagangan bebas. Dia beberapa kali menyerang kesepakatan perdagangan yang dibuat AS, seperti NAFTA dan TPP. Trump menyebut perjanjian perdagangan bebas telah “memperkosa” negerinya.

Menurut Trump, perdagangan bebas telah membuat perusahaan Manufaktur AS memilih keluar negeri, yang menyebabkan hilangnya pekerjaan dan merusak ekonomi dalam negeri. “Globalisasi telah menyebabkan jutaan pekerja kami tidak punya apa-apa, tetapi miskin dan sakit hati,” kata Trump.

Dikhawatirkan, kalau Trump sudah menduduki kursi Presiden, dia akan membatalkan semua kesepakatan perdagangan bebas yang melibatkan AS, termasuk TPP.

Inilah yang membuat Obama “ngeri-ngeri sedap” sejak beberapa minggu terakhir. Dia langsung membuat lawatan luar negeri ke banyak negara, seperti Yunani, Jerman dan Peru.

Di Yunani, dia bilang bahwa Brexit dan Trump adalah produk ketakutan orang atas globalisasi. Menurutnya, ketakutan itu telah membangkit gerakan populis, baik kiri maupun kanan, di banyak negara Eropa.

“Kadang-kadang dia terbungkus dalam isu identitas etnik atau identitas agama atau identitas budaya,” kata Obama saat menggelar konferensi pers di Yunani, Selasa (15/11/2016).

Sekarang ini Obama sedang di Lima, Peru, untuk menghadiri pertempuan pemimpin APEC. Di sana dia berbagi keprihatinan yang sama dengan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull tentang kemenangan Trump dan masa depan TPP.

Di sisi lain, penolakan terhadap TPP oleh gerakan sosial di negara-negara anggotanya juga menguat. Demonstrasi menentang TPP terjadi di AS, Kanada, Peru, Australia, Chile, Jepang, Malaysia, Selandia Baru dan Meksiko.

TPP yang disepakati pada Oktober 2015 lalu menggabungkan 12 negara Asia-Pasifik, yakni Amerika Serikat, Australia, Kanada, Brunei, Chile, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, dan Vietnam. Ekonomi kedua belas negara itu mewakili 40 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.

Sejak awal, kesepakatan perdagangan bebas ini sudah berlangsung alot. Butuh kurang lebih 7 tahun untuk mencapai kata sepakat. Selanjutnya, kesepakatan ini butuh disahkan oleh parlemen masing-masing negara anggotanya. Setelah itu, dokumen akhirnya akan disahkan pada 4 Februari 2017.

Masalahnya sekarang, salah satu negara kunci pengusung TPP ini, yakni AS, sedang mengalami perubahan politik. Parlemen dan Presidennya berpotensi meninggalkan TPP.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid