“Tiba-tiba Surat Pernyataan itu Datang Membawa Kabar Buruk”

Tanggal 25 Januari lalu, warga Kampung Salo, Kembangan Utara, Jakarta Barat, tiba-tiba didatangi oleh Ketua Rukun Tetangga (RT) setempat.

Sang Ketua RT membawa sejumlah lembaran bertuliskan “Surat Pernyataan” ditulis tebal. Berikut permintaan data singkat warga, seperti nama, nomor KTP, usia dan alamat tinggal. Tidak ketinggalan materai 6000 di bagian bawah.

Siapa sangka, surat tersebut menuntut pernyataan warga RT 01/04 Kampung Salo untuk mengakui bahwa tanah yang dipijaknya selama puluhan tahun adalah tanah garapan. Dan mereka hanyalah penggarap di atas lahan itu.

Melihat isi surat itu, warga pun langsung ketar-ketir. Dalam bayangan mereka, dalam waktu dekat mereka akan digusur. Apalagi, menurut penuturan warga, dua tiga hari sebelum datangnya surat itu, ada orang yang melakukan pengukuran di pemukiman warga.

Ironisnya lagi, karena status mereka penggarap, yang berarti tidak punya hak atas tanah itu, maka jika terjadi penggusuran mereka tidak akan mendapat ganti-rugi apapun.

Warga sendiri belum tahu siapa pihak yang mengklaim sebagai pemegang hak milik atas lahan tersebut. Apakah Pemerintah Daerah atau Swasta, entahlah.

Iin Supinah (45 tahun), seorang warga RT 01/04, menceritakan bahwa pihak RT terkesan menekan warga yang menolak untuk menandatangani surat tersebut.

Ketua RT mengintimidasi warga dengan berbagai ucapan, seperti “Kalau ada apa-apa, saya gak tanggung jawab, ya!” Atau seperti: “Kalau gak mau tanda tangan, nanti gak dapet duitnya!”

“Warga bersikeras menolak kendati ditekan,” ujar Iin.

Akhirnya, demi memperjuagkan hak-haknya, warga kemudian meminta bantuan Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), organisasi yang aktif membela hak-hak rakyat.

Warga juga berusaha menemuai Lurah setempat. Sayang, sang Lurah sedang sibuk mendistribusikan kotak suara dan perlengkapan Pilkada lainnya. Namun, Lurah berjanji akan menemui warga begitu Pilkada usai.

Penggusuran bukanlah hal baru bagi warga RT 01/04 Kampung Salo. Tahun 1995, pemukiman mereka digusur. Tanpa pemberitahuan dan tanpa ganti rugi sepeserpun.

“Siang itu, rumah mereka digedor, dipaksa keluar,” tutur Murtasih, salah seorang warga yang mengalami kejadian itu.

Dalam kejadian itu, warga berusaha melakukan perlawanan. Satu orang warga meninggal dalam kejadian itu.

Herry Soenandar

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid