Suara Pelajar: Mau Sampai Kapan Bergantung pada Negara Asing?

Indonesia merupakan negara yang memiliki ribuan pulau dan juga lautan yang sangat luas. Dengan sumber daya  alam melimpah yag dimiliki, Indonesia bahkan dapat dikatakan merupakan salah satu negara terkaya di dunia. Posisi Indonesia yang terletak di garis khatulistiwa, menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki curah hujan yang sangat tinggi, sehingga sangat cocok untuk bercocok tanam dan tak heran jika Indonesia memiliki berbagai jenis flora hingga yang paling langka di dunia.

Di bidang perikanan, Indonesia sangat terkenal dengan kekayaan lautnya yang sangat melimpah, beragam macam ikan terdapat di laut Indonesia sehingga Indonesia juga terkenal sebagai pengekspor ikan terbesar. Dengan hasil laut yang melimpah itu bahkan banyak kapal negara asing—yang didominasi oleh Malaysia, China, Filipina dan Thailand—yang mencuri ikan di perairan Indonesia, sampai-sampai Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti harus memberlakukan kebijakan mengebom kapal-kapal asing yang mencuri hasil laut Indonesia demi memberikan efek jera. Hingga akhirnya diketahui bahwa kondisi hasil laut Indonesia sudah tidak sehebat dulu lagi. Indonesia bahkan terkenal  sebagai negara  pengekspor ikan tuna—jenis ikan dengan harga jual yang cukup tinggi. Tidak sedikit ikan tuna yang di ekspor ke berbagai negara seperti jepang, dan sebagainya. Andai saja hasil-hasil laut tersebut dapat dikelola dengan maksimal, tentu akan memberikan sumbangan yang tidak sedikit bagi devisa negara.

Dari segi kekayaan alam, Indonesia harusnya dapat menjadi negara maju andai hasilnya mampu dikelola dan dimanfaatkan dengan baik. Jikapun kita masih bergantung pada negara lain dalam hal pengelolaan, negara-negara tersebut juga sangat bergantung pada Indonesia dalam hal bahan baku. Indonesia menghasilkan banyak bahan baku, seperti di bidang perkebunan. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil sawit terbesar di dunia. Lalu perkebunan karet yang terdapat di Indonesia juga termasuk perkebunan karet terluas di dunia. Indonesia juga menjadi pengekspor kayu atau hasil hutan ke sejumlah negara seperti Malaysia dan Jepang. Ya, kekayaan hutan di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia selain hutan di Brazil. Seperti yang diketahui, hutan di Indonesia memiliki luas 99,6 juta hektar. Tapi sayangnya luas hutan tersebut  selama ini telah mengalami penurunan yang cukup besar dikarenakan kebakaran hutan. Di bidang peternakan, masyarakat Indonesia membudidayakan sapi, kambing dan unggas. Walaupun hasil berupa sapi dan kambing pernah menurun, tetapi hasil peternakan unggas jarang mengalami penurunan. Anehnya, meskipun Indonesia memiliki banyak hasil di bidang peternakan, Indonesia justru masih mengimpor sapi dari Australia dengan alasan sapi di Australia sangat gemuk dan berisi. Padahal, jika kita perhatikan, sepertinya tidak jauh berbeda kualitas antara sapi Indonesia dengan sapi Australia.

Indonesia adalah negara berkembang dan selama ini memang menggantungkan  hidupnya pada bidang industri, agraris, dan maritim. Anehnya, meskipun memiliki banyak hasil pada sektor pertanian, tetapi Indonesia masih mengimpor beras dari Thailand. Padahal kualitas beras Indonesia tak kalah bagusnya meskipun Indonesia masih menggunakan alat-alat tradisional. Jika di luar negeri sudah menggunakan traktor untuk membajak sawah, sebagian petani di Indonesia masih menggunakan kerbau untuk membajak sawah.

Lantas, ketika berbicara mengenai pemanfaatan tentu adalah bicara bagaimana cara menggunakan sesuatu untuk mencapai hasil yang maksimal. Demikian juga pemanfaatan potensi kekayaan alam wilayah Indonesia, yakni adalah bagaimana mengunakan kekayaan alam tersebut dengan sebaik-baiknya, baik perikanan, pertanian, kehutanan, untuk bidang industri dan lain sebaginya. Pemanfaatan kekayaan alam Indonesia memang masih jauh dari harapan karena selama ini bukan Indonesia sendiri yang yang memanfaatan dan menikmati hasilnya, melainkan negara-negara asing, dengan alasan negara kita tidak mampu untuk mengolah kekayaan alam sendiri. Contohnya saja: Freeport, yang sudah menggali emas di bumi papua yang sudah berpuluh-puluhan tahun, tetapi pemerintah Indonesia masih memberikan izin kepada Freeport untuk  memperpanjang kontraknya sampai 2021, bahkan kabar yang beredar bahwa Freeport ingin memperpanjang kontrak sampai 2041. Meskipun Freeport sudah lama beroperasi di Indonesia, tetapi hanya sedikit keuntungan yang diperoleh Indonesia, padahal Freeport tidak hanya menggali emas saja, tetapi juga menggali tembaga, uranium dan mineral lainnya.

Indonesia bahkan kaya akan sumber daya mineral lainnya, seperti batu bara, nikel, besi, baja, dan sebagainya, tapi sayangnya kekayaan alam tersebut kebanyakan dimanfaatkan dan diambil hasilnya oleh negara-negara asing seperti yang telah disebutkan diawal tadi. Investasi itu memang bagus, tapi bukan berarti semua kekayaan alam harus diinvestasikan demi kemakmuran asing sedangkan Indonesia hanya mendapat keuntungan yang sedikit. Kekayaan alam Indonesia juga harus dinikmati oleh negara sendiri serta rakyat-rakyatnya. Karena kekayaan alam tersebut lama kelamaan akan habis, lantas bagaimana rakyat Indonesia dapat menikmati kekayaan alam negara ini?

Memang, sudah ada kebijakan yang diberikan oleh pemerintah terhadap beberapa perusahan seperti Freeport yang diizinkan memperpanjang kontrak sampai 2041, dengan beberapa syarat. Diantaranya, Freeport harus melepaskan sedikit sahamnya untuk rakyat-rakyat Indonesia. Tetapi, kalau menurut saya sendiri, jika Freeport memperpanjang kontrak lagi, kapan Indonesia bisa menikmati hasil yang dimiliki oleh Freeport? Seandainya saja  Indonesia yang mengelola sendiri, tentu saja rakyat Indonesia, terutama di Papua, bisa menikmati manfaatnya.

Demikian juga dengan perusahaan minyak bumi. Indonesia merupakan salah satu negara pengahsil minyak bumi, namun sayangnya  minyak tersebut juga sudah dikuasai oleh perusahaan asing. Contohnya saja seperti Chevron, Petronas, ExxonMobil dan lain sebagainya. Padahal, Indonesia pernah mejadi anggota OPEC (Negara-negara pengekspor minyak terbesar di dunia). Tetapi pada akhir 2008, Indonesia justru resmi keluar dari OPEC tersebut dikarenakan minyak yang terdapat di Indonesia sudah berkurang sehingga kita tidak bisa dikatakan lagi menjadi Negara pengekspor minyak di dunia.

Sebagai bagian masyarakat Indonesia, saya hanya bisa berharap agar kita senantiasa melakukan segala upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar tidak sepenuhnya bergantung kepada asing lagi. Kita harus belajar bekerja  dengan mandiri. Semua rakyat Indonesia tentu sangat menginginkan agar negaranya menjadi maju, apalagi dengan kondisi alam yang sangat berlimpah. Banyak negara asing yang sumber daya alamnya rendah tetapi sudah termasuk ke dalam kelompok negara maju. Malaysia saja, meskipun sumber daya alam mereka tidak sebaik Indonesia tetapi pemerintah dan rakyat Malaysia percaya diri bahwa di tahun 2020 negaranya akan dikatakan sebagai negara maju. Kita harus segera menemukan cara agar mampu mengelola kekayaan alam sendiri. Kita harus menunggu sampai berapa lama lagi? Sebelum semuanya habis dikuras oleh oleh negara-negara asing. Bagaimanapun, semua rakyat Indonesia berhak hidup sejahtera.

TM Aufa Hashfi, pelajar Kelas XI-IPA 1, SMA Labschool Banda Aceh

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid