STN Minta Rektor UNJA Evaluasi Dosen

Jambi, Berdikari Online – Sebelumnya, beredar statemen Akademisi Hukum Universitas Jambi (UNJA) Herry Liyus terkait konflik yang melibatkan
Koperasi Fajar Pagi dan 4 KTH di areal kawasan Hutan yang dibebani IUPHTI PT. WKS.

Mengutip dari wartapembaruan.co.id Herry Lyus mengatakan
“Sebenarnya mereka itu sudah tidak benar, apalagi lahan-lahan Sawit ini sudah lama dimiliki oleh para petani, dan soal dijualkan kepada siapa itu kan terserah, tapi mereka sudah punya kekuatan hukum, surat sporadik, sedangkan mereka ini tidak punya surat, tetapi mengklaim mereka punya, dan sekarang saya kembalikan pada mereka, dasar mereka untuk memiliki lahan ini, apa dasarnya tidak ada.”

Kepada Berdikari Online,(21/8), Christian Napitupulu selaku Ketua Serikat Tani Nelayan (STN) Provinsi Jambi menyatakan sangat menyayangkan statement akademisi tersebut. “Sepertinya statemennya titipan, gak objektif, sehingga dia gak tahu permasalahan secara utuh apa yang terjadi.”

“Itu wilayah Kawasan Hutan, dapat sporadik dari mana, jangan-jangan Bapak Dosen gak tahu, sporadik itu digunakan di status tanah seperti apa.
Luas kemitraan Fajar Pagi itu 74 hektare terletak di apl, sementara yang dikuasainya 894 hektare berada di Kawasan Hutan,”
tambah Christian,”dan lagi, bukan wewenang akademisi memvonis benar salah terhadap permasalahan apalagi konflik lahan. Akademisi itu menyumbang pemikiran yang benar dan objektif bukan menyesatkan apalagi beliau itu dosen Tata Negara bukan dosen Agraria.”

Christian Napitupulu lantas meminta Rektor UNJA melakukan evaluasi terhadap para dosen yang menyampaikan statemen di luar wewenang mereka apalagi membawa nama besar Universitas Jambi.

(Ega)

Foto : Illustrasi Foto Kawasan Hutan

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid