Peradaban Lebih Tinggi Daripada Ilmu

Transformasi Pendidikan sebagai Pilar Indonesia Emas 2045


“Ilmu akan membawa Anda dari A ke B,
tetapi peradaban akan mengajarkan Anda
mengapa Anda harus pergi dan bagaimana
cara Anda berjalan dengan terhormat.”


Pendahuluan

Dalam diskursus tentang kemajuan bangsa, kita sering terjebak pada kekaguman yang berlebihan terhadap ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya tolok ukur kemajuan. Padahal, seperti yang diungkapkan oleh seorang negarawan besar, “Indonesia bukan nation in waiting, bukan hanya nation on the move. Melainkan bangsa yang menjalankan great transformation.”

Transformasi besar ini tidak akan mungkin terjadi hanya dengan akumulasi pengetahuan. Kitalah, jika boleh mengaku-aku, sekelompok orang, para pendidik, yang memikul tanggung jawab sejarah untuk menggalang transformasi itu melalui pendidikan yang berkualitas. Mendidik ibarat mengalirkan air yang jernih, yang membersihkan sampah dan kotoran di sungai, untuk kemudian bermuara ke laut lepas.

Air jernih itulah representasi dari karakter mulia dan kepribadian yang kuat, budi pekerti luhur, yang diiringi oleh intelektualitas yang cerdas dan didukung oleh fisik jasmani yang sehat dan samapta. Tanpa air jernih itu, sungai peradaban akan tetap keruh. Dan jika kita gagal bertransformasi, maka impian besar Indonesia Emas 2045 hanyalah akan menjadi angan utopis.

Ilmu Membangun Kecakapan, Peradaban Membangun Arah

Untuk memahami urgensi ini, kita perlu menelisik kembali hakikat peradaban. Sejarawan besar Arnold J. Toynbee dalam karyanya A Study of History menegaskan bahwa peradaban tidak lahir karena keunggulan geografis atau biologis, melainkan karena kemampuan sebuah bangsa merespon Challenge and Response (tantangan dan jawaban). Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjawab tantangan zaman dengan karya peradaban.

Senada dengan itu, sosiolog Muslim klasik, Ibnu Khaldun, dalam Muqaddimah telah lama mengingatkan bahwa kejayaan sebuah bangsa (umran) sangat ditentukan oleh ashabiyah atau solidaritas sosial dan moralitas kolektifnya, bukan sekadar kecanggihan teknologinya. Ketika moralitas runtuh, maka runtuhlah peradaban, seberapa tinggi pun ilmunya.

Antropolog Indonesia, Koentjaraningrat, juga membedakan dengan tajam: ilmu pengetahuan adalah bagian dari kebudayaan, tetapi peradaban adalah kebudayaan yang telah halus, maju, dan memiliki sistem nilai yang luhur. Maka, ilmu tanpa peradaban ibarat pisau tajam di tangan anak kecil; berbahaya.

Inilah yang sering kita lupakan. Kita bangga ketika anak didik kita memenangkan olimpiade matematika internasional, tetapi kita abai ketika di ruang yang sama terjadi perundungan, ketidakjujuran akademik, dan krisis empati. Kita mencetak generasi yang pintar secara kognitif, namun miskin secara etika.

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, telah memberikan fondasinya sejak awal: “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.” Pendidikan harus mampu meneladankan, membangun kehendak, dan mendorong. Pendidikan yang memerdekakan, bukan hanya memerdekakan otak dari kebodohan, tetapi memerdekakan jiwa dari nafsu serakah dan moral yang rendah.

“Sebuah bangsa dapat bertahan dengan penderitaan kemiskinan, tetapi tidak akan pernah bertahan dengan keruntuhan moral dan peradaban.”

Menjaga Aliran Air Jernih

Jadi, tugas kita sebagai pendidik di era transformasi ini menjadi sangat jelas dan sekaligus berat. Kita tidak sekadar mentransfer pengetahuan dari buku ke otak siswa. Kita sedang melakukan pekerjaan peradaban: merawat nalar sekaligus nurani.

Ruang kelas kita tidak boleh hanya menjadi pabrik pencetak tenaga kerja yang kompetitif untuk pasar global. Ia harus menjadi taman peradaban, tempat disemai benih-benih kejujuran, integritas, gotong royong, dan cinta tanah air.

Jika air jernih berupa karakter mulia itu terus kita alirkan secara konsisten, dari satu generasi ke generasi berikutnya, dari satu ruang kelas ke ruang kelas lainnya, niscaya sungai yang keruh akan menjadi bening kembali. Dari sungai yang bening itulah, bahtera besar bernama Indonesia akan berlayar dengan gagah menuju samudra kejayaan, menyongsong Indonesia Emas 2045 bukan sebagai mimpi, melainkan sebagai takdir sejarah.

Drs.H.Usdiyanto,M.Hum., Penulis merupakan Kepala SMA unggulan CT ARSA Faoundation Sukoharjo

[post-views]