Sebagai seorang Katolik, saya memandang kisah Nabi Ibrahim dan Idul Adha bukan sekadar tentang kurban, tetapi tentang hati manusia yang diuji: apakah kita lebih mencintai Tuhan, atau lebih mencintai apa yang kita miliki.
“Setiap kita adalah Ibrahim.” Sebab setiap orang punya “Ismail”-nya masing-masing. Ada yang terlalu melekat pada jabatan, uang, nama baik, gengsi, kenyamanan, bahkan ego dan kehendaknya sendiri. Sesuatu yang begitu dicintai sampai kadang tanpa sadar mengambil tempat Tuhan di hati kita.
Dalam iman Katolik, pergulatan itu juga nyata. Yesus berkata, “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Kadang yang paling sulit bukan memberi, tetapi melepaskan keterikatan. Kita bisa rajin berdoa, aktif melayani, bahkan terlihat religius, tetapi hati masih dipenuhi rasa memiliki, rasa ingin dipuji, atau keinginan untuk selalu menjadi yang paling benar.
Karena itu saya memaknai Idul Adha sebagai ajakan untuk “mengorbankan” diri lama dalam diri kita: kesombongan, amarah, egoisme, dan hawa nafsu. Sebab sering kali yang harus disembelih bukan orang lain, melainkan keakuan kita sendiri.
Di titik itu, nilai Idul Adha terasa sangat dekat dengan iman Kristiani. Yesus juga menunjukkan cinta melalui pengorbanan. Salib mengajarkan bahwa kasih sejati selalu menuntut kerelaan untuk memberi diri, bukan hanya mengambil. Maka kurban bukan soal kehilangan, tetapi tentang belajar percaya bahwa ketika manusia melepaskan dirinya kepada Tuhan, justru di situlah ia menemukan kedamaian.
Sebagai orang Katolik, saya melihat keindahan ketika umat beragama saling belajar dari nilai luhur seperti ini. Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak mencari siapa yang paling banyak bicara tentang agama, tetapi siapa yang hatinya paling bersedia diubah oleh kasih, pengorbanan, dan kerendahan hati.
Markatul Salemba, Penulis merupakan Seorang Budayawan


