“Seandainya Saya Orang Palestina”

Ini artikel yang ditulis oleh Eduardo Galeano, seorang penulis terkemuka Uruguay, ketika Israel tengah mengepung Gaza pada 2014. Dipublikasikan ulang di sini sebagai refleksi untuk melihat agresi terbaru Israel terhadap Palestina.

Sejak 1948, bangsa Palestina sudah dikutuk untuk penghinaan abadi. Mereka tak bisa bernapas tanpa izin. Mereka kehilangan negeri, tanah, air, kebebasan, semuanya. 

Mereka bahkan tak punya hak untuk memilih sendiri pemimpinnya. Ketika mereka memilih orang-orang yang tak dikehendaki (oleh Israel), mereka dihukum. Gaza dihukum. Kota ini tak ubahnya perangkat tikus tanpa jalan keluar, sejak HAMAS memenuhi pemilu demokratis tahun 2006.

Sesuatu yang mirip pernah terjadi di tahun 1932. Ketika itu partai Komunis menang pemilu di El Salvador. Banjir darah pun terjadi. Banjir darah pun terjadi. Orang-orang Salvador harus melakukan penebusan dosa atas pilihan salah mereka: hidup di bawah kediktatoran selama bertahun-tahun. Demokrasi menjadi barang mewah yang tidak bisa dinikmati oleh semua orang.

Roket yang dibuat sendiri oleh militan HAMAS, lalu ditembakkan dengan kurang presisi ke bekas wilayah Palestina, yang sekarang dikuasai oleh perampas-perampas Israel, adalah bentuk keputusasaan.

Bentuk keputusasaan ini, juga aksi bom bunuh diri, menghasilkan keberanian yang sebetulnya tak efektif untuk menyangkal hak Israel untuk hidup. Sebaliknya, perang pemusnahan (serangan balasan yang dilancarkan oleh Israel) sangat efektif dan terus-menerus menyangkal hak hidup orang-orang Palestina.

Tinggal sedikit yang tersisa dari Palestina. Selangkah demi selangkah, Israel akan menghapusnya dari peta dunia.

Para pemukim Israel terus mendesak (menginvasi). Disusul datangnya tentara (Israel), yang mengatur ulang batas-batas negara (Israel). Peluru seringkali menyertai perampasan, dengan mengatasnamakan “pertahanan yang sah”.

Tidak ada perang atau agresi yang tak mengklaim atas nama “mempertahankan diri”. Hitler menginvasi Polandia demi mencegah Polandia menginvasi Jerman. Bush menginvasi Irak dengan mencegah Irak menginvasi dunia.

Dalam setiap perang yang mengatasnamakan perang mempertahankan diri itu, Israel menelan satu per satu wilayah Palestina. Dan perjamuan itu masih terus berlanjut.

Perampasan tanah (Palestina) itu dibenarkan oleh hak milik dibenarkan oleh Alkitab, demi membayar 2000 tahun penderitaan dan penganiayaan yang diderita oleh orang-orang Yahudi. 

Israel adalah Negara yang tak pernah mematuhi rekomendasi dan resolusi PBB. Tidak pernah mematuhi keputusan pengadilan internasional. Dan satu-satunya negara yang masih melegalkan penyiksaan tahanan.

Siapa yang memberi hak kepada Israel untuk menyangkal hak bangsa lain? Spanyol tidak bisa mengebom negara Basque untuk menghilangkan ETA tanpa konsekuensi politik. Inggris juga tidak bisa begitu saja menyerang Irlandia untuk melenyapkan IRA. Ataukah tragedi holokaus berkonsekuensi pada impunitas abadi? Apakah lampu hijau ini berasal dari kekuatan raksasa (Amerika Serikat) yang menjadi sekutu tanpa syarat Israel?

Tentara Israel, salah satu yang tercanggih dan termodern di dunia, tahu siapa yang harus dibunuhnya. Mereka membunuh bukan karena kebiasaan. Itu sangat mengerikan. Korban sipil hanya dianggap konsekuensi, menurut kamus perang imperialis. 

Dari setiap 10 orang yang terbunuh di Gaza, tiga diantaranya anak-anak. Dan selalu berulang, di Gaza: 1 banding 100. Selalu 100 orang Pelestina terbunuh untuk membayar 1 orang Israel yang terbunuh.

Sebetulnya, manusia paling berbahaya adalah mereka yang memaksa kita percaya bahwa kehidupan seorang manusia Israel setara dengan 100 nyawa Palestina. Media ingin kita percaya bahwa 100 bom atom Israel sebetulnya untuk kemanusiaan. Sementara tenaga nuklir yang dipunyai Iran sejenis dengan yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki.

Apakah yang disebut Komunitas Internasional itu benar-benar ada?

Apakah itu tak lebih dari pedagang, bankir, dan penghasut perang? Apakah ini lebih dari sekedar nama artistik yang digunakan AS saat mementaskan diri?

Sebelum tragedi Gaza, kemunafikan dunia menampilkan wajahnya. Seperti biasa, ketidakpedulian, frasa kosong, deklarasi kosong, pernyataan yang melangit, dan posisi ambigu yang tidak berani menantang impunitas suci Israel.

Sebagai dalih atas kejahatannya, negara teroris akan memproduksi sendiri isu terorisme, lalu menebar kebencian sekaligus menghadirkan alibi. Buktinya adalah pembantaian di Gaza, yang oleh para pelakunya, dikatakan untuk membasmi teroris.

Eduardo Galeano, jurnalis dan penulis Uruguay; karya-karyanya sangat populer di Amerika latin dan banyak negara, seperti Las venas abiertas de América Latina (Open Veins of Latin America, 1971), dan Memoria del fuego (Memory of Fire Trilogy, 1986).

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid