Satu Juta Orang Mengungsi Ke Eropa Sepanjang 2015

Lebih dari satu juta orang memasuki Eropa melalui jalur yang tidak lazim sepanjang tahun 2015, demikian pengumuman Organisasi Migrasi Internasional (IOM) melalui situsnya (22/12). Sebagian besar pengungsi ini memasuki Eropa melalui jalur laut yakni sebanyak 971 ribu orang. Mereka berasal dari Timur Tengah dan menempuh lautan Mediterania untuk mencapai perbatasan Yunani. Sebagian kecil lainnya menuju ke Malta, Siprus, dan Italia. Sisanya, kurang lebih 34 ribu orang, menempuh jalan darat yang berbatasan dengan Turki dan Bulgaria.

Mayoritas dari pengungsi ini berasal dari Timur Tengah dan Afrika. Mereka meninggalkan negerinya untuk menghindari perang, kemiskinan, dan penganiayaan. Terbesar berasal dari Suriah yang jumlahnya mencapai 455 ribu orang, menyusul kemudian yang berasal dari Afganistan berjumlah 165 ribu orang.

Siaran pers IOM menyebutkan hampir 3.700 orang meninggal ketika mengarungi lautan untuk mencapai daratan Eropa. Sebagian besar yang meninggal ini ketika menyeberangi laut Mediterania dari utara Afrika menuju ke Italia.

Namun, disebutkan juga bahwa jumlah yang memasuki Eropa ini masih belum ada apa-apanya dibandingkan pengungsi yang berada di negara-negara tetangga Suriah seperti Lebanon, Yordania, dan Turki. Sekitar 2,2 juta pengungsi Suriah berada di Turki, 1,1 juta berada di Lebanon, dan 633 ribu berada di Yordania. Karena kesulitan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup di negeri-negeri ini sehingga sebagian dari mereka melanjutkan perjalanan ke Eropa. Tercatat sejumlah 800 ribu orang menyeberang dari Turki ke Yunani.

Para pemimpin Eropa masih berselisih paham bagaimana menyikapi ledakan pengungsi ini. Pertemuan terakhir telah diajukan proposal untuk menetapkan kuota bagi masing-masing negara dengan kewajiban menerima 160 ribu orang. Namun usulan ini ditolak oleh Hungaria dan Slovakia.

Awal September lalu dunia dihebohkan oleh gambar seorang anak Suriah, Aylan Kurdi, yang terdampar tak bernyawa di pantai Turki setelah perahu yang ditumpangi ia bersama keluarganya terbalik. Foto dramatik itu seperti lecutan bagi rasa kemanusiaan orang Eropa yang menekan pemerintahan-pemerintahan Eropa untuk bertindak lebih ramah terhadap pengungsi.

Namun, membludaknya jumlah pengungsi dari tahun ke tahun sesungguhnya merupakan dampak dari kebijakan negara-negara Barat sendiri yang turut berperan menciptakan berbagai keonaran di Timur Tengah dan Afrika. Hal ini jarang diulas oleh media Barat, yang lebih banyak membahas persoalan-persoalan yang merupakan dampak dari kebijakan luar negeri mereka. 

(The Guardian/teleSUR/Mardika Putera)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid