Sari Kusumo: “Perempuan Harus Jadi Subjek Politik”

Selama ini, perempuan masih kerap hanya ditempatkan sebagai subjek politik. Sekadar dimobilisasi untuk suara, pajangan, dan melengkapi kuota 30 persen.

Representasi politik perempuan pun masih kerap dimaknai sekedar jumlah. Padahal, esensi representasi politik perempuan adalah menghadirkan perspektif, opini, dan suara kaum perempuan dalam pengambilan kebijakan publik.

Karena itu, demi memajukan representasi politik perempuan, partisipasi perempuan dalam gerakan politik harus lebih maju lagi. Perempuan harus menjadi subjek gerakan politik.

Hal itulah yang menggugah Sari Kusumo Asmoro. Ibu dengan dua anak perempuan ini sekarang menjadi pengurus Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

“Saya berharap kedepannya Prima benar benar memperjuangkan nasib perempuan. Tidak hanya menjadikan perempuan sebagai obyek tapi juga subyek politik,” katanya kepada berdikarionline.com, Jumat (24/9/2021).

Sebelum menjadi anggota PRIMA, Sari sudah pernah berlabuh di beberapa partai. Terakhir, di pemilu 2019 lalu, dia terdaftar sebagai Calon Legislatif (Caleg) DPRD tingkat II dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk daerah pemilihan kota Madiun I.

“Sempat berpindah pindah partai, namun semuanya membuat saya kecewa,” katanya.

Hingga, pada 2020, dia mendengar tentang berdirinya partai PRIMA. Partai yang berdiri pada 2020 ini banyak disiisi oleh anak muda, pelaku usaha kecil, aktivis gerakan sosial, dan intelektual.

Tak memiliki tokoh besar, PRIMA memang mengusung jargon “partainya rakyat biasa”. Partai yang dipimpin oleh Agus Jabo Priyono ini bertekad mewakili suara mereka yang dipinggirkan oleh Negara.

“PRIMA mempunyai banyak program yang bagus diantaranya kesetaraan gender dan memajukan UMKM,” jelasnya.

Sari sendiri merupakan pelaku UMKM. Demi menambah pemasukan rumah tangganya, dia menjalankan usaha kuliner di rumahnya. Ia berjualan es kelapa muda dan menerima pesanan donat.

“Saya menerima pesanan donat dengan membuat iklan di dinding facebook dan whatsapp story,” tuturnya.

Nama donatnya pun unik, merujuk pada nama partai yang digandrunginya kini: donat Prima. Dia mengaku suka dengan nama PRIMA. Sederhana dan lugas.

Memajukan Perempuan dan UMKM

Perempuan kelahiran Tulungagung, 5 Mei 1984, ini memang sejak dulu suka berorganisasi. Sebagai ekstrovert, dia memang suka berinteraksi dengan sebanyak-banyaknya orang.

Sejak duduk di bangku SMA, dia sudah berorganisasi. Dia dan teman-temannya mendirikan kelompok pencinta alam bernama Sabagiri.

“Organisasi ini masih berdiri sampai saat ini, dan masih melakukan pendidikan dan latihan pencinta alam sampai beberapa tahun yang lalu,” kata Sari bercerita.

Semasa di bangku kuliah, semangat berorganisasinya makim meledak. Sempat memilih-milih organisasi mahasiswa di kampus, ia kemudian jatuh cinta pada Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND).

Bersama LMND, dia mulai rajin ikut serta dalam diskusi, advokasi dan aksi massa. Kegiatannya banyak bersentuhan dengan kelompok miskin dan mereka yang dirugikan oleh kebijakan politik.

“Dari LMND pulalah mulai timbul kesadaran saya untuk berpolitik. Dari sana saya tahu segala macam urusan kita di dunia ini selalu tergantung pada keputusan politik,” tuturnya.

Selain di LMND, Sari juga pernah tergabung dengan Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI). Saat itu, di kota Malang, dia dan SRMI aktif mengorganisir orang-orang miskin untuk mengakses hak-hak dasarnya.

Belakangan, Sari juga bergabung dengan organisasi perempuan, Suluh Perempuan. Organisasi ini aktif mengadvokasi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak.

Namun, dari semua pengalaman aktivisme, Sari merasa ada yang kurang. Aksi dan advokasi memang beberapa kali mencapai tuntutannya, tetapi tak banyak mengubah struktur ekonomi dan politik yang ada.

Ketidakadilan masih kerap terjadi. Diskriminasi berdasarkan suku, agama, ras, dan gender juga masih sering mengada. Kemiskinan dan ketimpangan sosial juga belum menghilang.

Dalam konteks gender, perempuan masih menjadi objek diskriminasi, kekerasan, dan eksploitasi. Selain itu, kemiskinan juga masih berwajah perempuan.

Melihat beragam persoalan itu, Sari menyadari perlunya perjuangan politik. Dia pun menganggap PRIMA sebagai partai yang tepat untuk mewujudkan cita-citanya.

“Partai ini isinya banyak rakyat biasa. Pekerja, petani, pemuda, aktivis perempuan, intelektual progresif, gerakan sosial, advokat kerakyatan. Ya, partainya rakyat biasa,” kata dia.

Selain itu, PRIMA mengusung program yang memperjuangkan kesetaraan gender. Mulai dari penghapusan kekerasan terhadap perempuan hingga penguatan ekonomi perempuan.

“Program perjuangan PRIMA sangat memihak kesetaraan gender dan penguatan ekonomi perempuan,” katanya.

Dia setuju dengan gagasan PRIMA untuk menciptakan bank khusus perempuan, yang akan menyediakan pinjaman dan pengembangan kapasitas bagi pelaku ekonomi perempuan.

“Ini tepat sekali. Jantung ekonomi Indonesia itu kan UMKM. Dan sekitar 60 persen pelaku UMKM adalah perempuan,” jelasnya.

Berangkat dari pengalaman, dia menemukan faktor modal usaha seringkali menghambat pelaku usaha kecil dan menengah untuk membangun dan mengembangkan usahanya.

Sari sangat berharap, PRIMA bisa meraih dukungan signifikan dalam pemilu 2024, sehingga bisa memenangkan cita-cita perjuangannya.

RINI HARTONO

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid