Re(i)novasi Memori KKPK: Anak Muda dan HAM

Bertempat di Conclave, Jalan Wijaya 1 No 5C, Tandean, Jakarta Selatan,  Sabtu (17/102015), diselenggarakan kegiatan bertajuk Anak Muda dan HAM.

Sesuai dengan temanya, acara tersebut menghadirkan narasumber muda dan berjiwa muda, seperti Lilik HS dari KKPK (Koalisi Keadilan dan Pengungkapan kebenaran) dan Inayah Wahid dari Positive Movement. Hadir juga grup band Stone Head, salah satu finalis lomba Re(i)novasi Memori KKPK.

Acara dikemas cukup segar untuk mengajak anak-anak muda  peduli pada masalah Hak Asasi Manusia (HAM). Sebelum diskusi dimulai MC mengajak para peserta mengheningkan acara buat para korban pembakaran gereja di Singkil Aceh.

Lilik HS dari KKPK menjelaskan bahwa gagasan penyelenggaraan acara ini bermula dari adanya fakta bahwa selama ini isu-isu tentang pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia sudah seringkali disuarakan tetapi belum juga menampakkan hasil yang menggembirakan.

Karenanya, kata dia, perlu upaya mendorong pemerintah untuk melakukan advokasi kebijakan menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM. Di samping itu penuntasan pelanggaran HAM di Indonesia juga perlu melibatkan peran serta masyarakat sipil sendiri.

“Karena bagaimana kita akan mendorong pemerintah untuk bergerak manakala masyarakat sipilnya tidak terlibat, “ kata Lilik.

Menurut dia, selama ini isu HAM terkesan berat bahkan berdarah darah. Pembicaraannya juga berkutat hanya soal Undang-undang dan pasal-pasal yang seringkali membosankan, serta hanya menjadi ranah aktivis yang rata-rata rambutnya sudah mulai memutih.

Lebih lanjut, dia mengatakan, pembicaraan soal penegakan HAM sudah dilakukan beribu-ribu kali, berbusa-busa, diulang-ulang oleh kalangan itu-itu saja, ibarat menyetel kases rusak.

“Ada kegelisahan yang menghantui para penggiat isu HAM,  bahwa daya jangkau isu HAM belum mampu menggaet anak-anak muda,” ungkapnya.

Padahal, kata dia, selama ini semua bicara bahwa anak muda adalah generasi penerus bangsa dan calon pemimpin masa depan.

Berangkat dari hal itulah, maka KKPK menggandeng Pamflet dan Cinta Indonesia yang notabene organisasi anak-anak muda untuk bersinergi mengemas tema acara untuk kawula muda seperti Kompetisi Re(i)novasi Memori KKPK dan diskusi dengan tema Anak Muda dan HAM kali ini.

KKPK mempunyai sebuah buku yang berjudul Menemukan Kembali Indonesia yang menjadi semacam buku babon dan bahan yang bisa ditafsirkan ulang oleh anak-anak muda melalui sebuah kompetisi yang kemudian dilanjutkan dengan Roadshow ke kota-kota kecil yang selama ini jauh dari isu HAM.

Kompetisi Re(i)novasi Memori sendiri adalah sebuah kompetisi kreatif yang mengajak anak muda untuk membaca ulang sejarah pelanggaran HAM Indonesia dalam rangka memperingati 50 tahun tragedi kemanusiaan 1965.

Hasilnya sangat luar biasa. Ternyata dengan jiwa mudanya, banyak sekali karya yang dihasilkan oleh anak-anak muda. Tercatat ada ratusan karya anak muda yang merupakan tafsir ulang atas isu-isu pelanggaran HAM di Indonesia dalam bentuk puisi, musik, video, meme, film dokumenter, dan lain-lain.

Sementara itu, Inayah Wahid tampil dengan smart dan kocak untuk menghapuskan image seram kegiatan Re(i)novasi Memori KKPK ini. Dengan gayanya yang spontan, Nay—panggilan akrab Inayah Wahid–mengajak para peserta berdialog.

Dalam dialog bersama itu, putri almarhum Gus Dur ini menangkap kegelisahan yang dirasakan oleh para peserta diskusi, seperti adanya pembatasan hak untuk berekspresi lewat sosial media dan hak untuk menjalankan ibadah bagi kelompok Ahmadiyah.

Nay menceritakan, dirinya mempunyai seorang teman yang sampai saat ini tidak mau kembali ke Indonesia karena dia melihat ibu, adik dan kakaknya diperkosa di depan matanya bahkan kemudian di bunuh saat terjadinya gelombang reformasi tahun 1998.

“Penting bagi anak muda mengetahui apa yang terjadi pada negara kita tercinta, bagaimana penyelesaiannya dan bagaimana kaum muda mengambil bagian dalam proses penuntasan pelanggaran HAM. Gilang (salah satu anak muda yang ikut diskusi) dari Ahmadiyah sudah mengalaminya, bagaimana haknya untuk beribadah dan menganut agama dan kepercayaannya dinistakan. Bisa jadi besok dan di masa yang akan datang, kita juga mendapatkan hal yang sama bahwa hak-hak kita dilanggar dan kita dinistakan,” papar Nay.

Kondisi pelanggaran HAM di Indonesia, di mata Nay, ibarat kanker atau penyakit yang ganas. Sepuluh atau dua puluh tahun lagi kalau penyakit ini tidak diobati maka akan semakin ganas.

“Kita semua tidak ada yang mempunyai impunitas (kekebalan), jika ada penyintas 65 yang sudah dinistakan selama sekian tahun bisa jadi besok kita juga akan mengalaminya. Bahkan bisa jadi dua puluh lima tahun mendatang kita sudah tidak di Indonesia, karena sudah menjadi Indonestan (Indonesia yang mirip dengan Afganistan dan Pakistan),” tuturnya.

Di akhir diskusi, grup band Stone Head mengajak para anak muda untuk ambil bagian, berbagi informasi dan mengajak teman-temannya bergerak melawan lupa dengan tidak lupa melawan.

“Banyak cara untuk menyalurkan aspirasi dan suara anak muda, salah satunya kita bisa menuangkannya dalam bentuk lagu, film dokumenter, lukisan, bahkan dengan puisi atau musikalisasi puisi seperti yang dilakukan oleh Wiji Thukul pada masanya, “ kata salah satu personil Grup Band Stone Head.

Salah satu lagu karya Stone Head berjudul Ayo Melawan yang merupakan lagu karya mereka sendiri mendapat apresiasi dalam kompetisi Re(i)novasi Memori KKPK sekaligus menempatkannya salah satu finalis kompetisi. Di akhir acara lagu Ayo Melawan dinyanyikan oleh Stone Head  dan disambut dengan tepuk tangan meriah dari para hadirin.

Sekedar catatan, saat ini ada 7 kasus yang sudah diselesaikan oleh Komnas HAM dan berkasnya hanya bolak-balik di tangan Kejaksaan. Ketujuh kasus yang merupakan pelanggaran HAM berat tersebut adalah Peristiwa tahun 1965, penembakan misterius, kasus Wamena-Wasior, kasus Trisakti, kasus Semanggi I dan Semanggi II, kasus Lampung Talangsari, kasus penghilangan orang pada bulan Mei 1998.

KPK yang merupakan koalisi dan gabungan dari berbagai 51 organisasi maupun perorangan secara intens melibatkan peran serta masyarakat sipil, termasuk keterlibatan anak muda, dalam gerakan melawan lupa sekaligus juga mendorong peran dan tanggung jawab negara untuk melakukan penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu.

Siti Rubaidah

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid