Rakyat Argentina Protes Monopoli Media

Bagaimana bila korporasi tertentu memonopoli media? Bisa dipastikan, masyarakat hanya mendapatkan informasi yang itu-itu saja, dan banyak hal yang seharusnya diketahui oleh rakyat justru tidak dipublikasikan. Sedikit banyak Indonesia sudah mengalami hal ini dengan dominasi media massa di tangan beberapa gelintir elit.

Situasi ini lah yang coba diubah oleh pemerintahan Christina Fernandez di Argentina pada tahun 2009. Peraturan ini membatasi lisensi kepemilikan media, sehingga sebagian frekuensi dan kepemilikan media massa dapat dibagi ke kalangan komunitas. Dengan demikian diharapkan akan tampak variasi dalam keberadaan media. Aturan ini sempat digugat oleh perusahaan media terbesar di Argentina, Clarin Group.Gugatan ini ditolak oleh pengadilan tinggi di tahun 2013.

Akan tetapi,belum satu bulan berkuasa, pemerintahan sayap kanan,Mauricio Marci, menandatangani dektrit yang mengijinkan kembali monopoli atas media. Menteri Komunikasi dalam pemerintahan Marci, Oscar Aguad, mengatakan bahwa pengaturan Undang-Undang Media tidak dapat berjalan. “Media akan berkompetisi secara bebas dalam pasar, dan (media) yang lebih kecil akan dibantu.”

Dekrit presiden Marci mengalihkan otoritas perijinan media dari dua lembaga otonom ke tangan Menteri Komunikasi, Oscar Aguad, semata.

Tak pelak, dektrit ini segera menuai protes dari rakyat maupun kalangan oposisi. Hari senin lalu (14/12) ribuan orang turun ke jalan menuntut penarikan kembali dekrit tersebut. Kemarin (17/12) protes serupa kembali di adakan di ibukota Buenos Aires.

“Para politisi neoliberal.. mereka membutuhkan impunitas total dari media massa, sehingga tidak akan ada suara oposisi terhadap pemerintah,” kata legislator sayap Kiri, Eduardo de Pedro, kepada teleSUR di Buenos Aires.

Mantan Menteri Luar Negeri, Jorge Taiana, kepa Reuters mengatakan bahwa Undang-Undang Media sangat penting bagi demokrasi di Argentina.

“Kami merasakan bahwa kami harus mempertahankan sejumlah besar capaian yang telah dihasilkan dalam beberapa tahun terakhir, seperti yang berhubungan dengan kemerdekaan, demokrasi, dan pluralisme. Kami merasa bahwa ini semuda sedang terancam. Contoh jelasnya adalah yang berhubungan dengan undang-undang media ini,” Kata Taiana.

(TeleSUR/The Argentina Independent)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid