PSI, Metamorfosa Sosialis?

BEBERAPA waktu yang lalu, aku bertemu Sekretaris Jendral Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Nama tokoh muda itu adalah Raja Juli Antoni. Orangnya nampak cerdas dan percaya diri saat bicara. Wajar saja, pria yang akrab disapa Tony itu memang sudah berkecimpung di dunia aktivis sejak lama.

Pria kelahiran 13 Juli 1977 itu bahkan sempat menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Remaja Muhammadiyah (PP IRM). Selain itu, tokoh Ma’arif  Institute ini juga sering menyabet beragam beasiswa yang menghantarkannya mengecap pendidikan ke luar negeri.

Singkat kata, aku akhirnya mengungkapkan rasa penasaranku soal apa itu PSI kepada Tony. Pertama-tama, kita tentu mengapresiasi eksperimen politik PSI ditengah-tengah apatisme yang kian mengerikan hari ini. Setidaknya, PSI berhasil mendobrak budaya apolitis di kepala para pemuda.

Sebab, partai yang didirikan pada 16 November 2014 lalu ini memang menyasar kaum muda dalam aktivitas politiknya. Bahkan, partai ini menargetkan untuk merekrut pemuda yang belum pernah bersentuhan dengan politik sama sekali.

“Kita ingin memotong satu generasi, karena itu kita akan lebih mengutamakan untuk merekrut pemuda yang belum terkontaminasi dengan politik,” ucap Tony.

Lalu apa strateginya? Raja menjelaskan dengan panjang lebar. Namun ada dua hal yang kutangkap dari penjelasannya. Pertama, PSI memaksimalkan penggunaan media sosial dalam menyebarkan fahamnya. Alasannya, generation Y (sebutan untuk generasi masa kini) rata-rata menghabiskan waktunya di depan gadget. Karena itu, kata Tony, kampanye lewat medsos (alias internet) sangat efektif apabila dilakukan.

Kedua, bahasa yang digunakan oleh anggota partai yang diketuai oleh Grace Natalie ini juga ‘sangat muda’. Mereka lebih sering mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa ‘alay’ atau bahasa yang tengah populer saat ini.

Raja beralasan, “di tradisi pesantren itu ada istilah, gunakanlah bahasa sesuai dengan kaumnya.” Karena kaum yang disasar adalah pemuda (Gen Y) maka bahasa yang digunakan adalah bahasa si anak muda. Dengan itu, jangan heran jika para anggota PSI menggunakan kata ‘bro’ untuk memanggil anggota laki-laki dan ‘sist’ untuk si perempuan.

Bahasa-bahasa alay itu tetap akan digunakan bahkan pada acara paling resmi sekalipun.

Tak sampai disitu, dalam penyebutan acara PSI pun, bahasa alay tetap digunakan. Misalnya, partai ini menggunakan istilah ‘Kopdarnas’ atau kopi darat nasional sebagai penganti Kongres (sebagaimana umum digunakan partai lain). Ada juga ‘Kopdarda’ atau kopi darat daerah, dan masih banyak yang lainnya.

Program-program partai yang rencananya akan maju sebagai kontestan pemilu 2019 ini juga dibalut dengan bahasa alay. Contoh: pada momen Pilkada serentak lalu, PSI mencanangkan gerakan #KepoinPilkada.

“Memang bahasanya terlalu Jakarta sentries, tapi kami pikir bahasa ini penting untuk menunjukkan identitas kami,” ujar Tony.

Strategi memperluas partai dengan cara demikian ternyata cukup ampuh. Tony bilang saat ini partainya sudah ada di semua provinsi yang ada di Indonesia. Termasuk di semua kabupaten/kota dan 50% kecamatan yang ada di Indonesia. Artinya, peluang partai ini untuk lolos pemilu sangat besar.

Kendati tidak menyebutkan berapa biaya untuk merealisasikan itu, Tony membocorkan, di rezim administratif seperti saat ini, satu-satunya yang dibutuhkan pemerintah adalah administrasi. Artinya perluasan hanya butuh administrasi.

“Kementrian itu gak akan tanya apa visi misi partaimu. Mereka juga tidak akan bertanya apa yang sudah diadvokasi. Tapi yang ditanya partai ini sudah ada dimana, apa buktinya,” jelas Tony.

Sambil menganggukkan kepala, aku kemudian bertanya tentang logo PSI yang amat sangat mirip sekali dengan logo sosialis internasional atau International Socialist. Kedua partai ini sama-sama menggunakan logo bergambar tangan sedang mengepal bunga mawar.

Apakah PSI ini adalah perpanjangan tangan dari partai sosialis internasional tersebut? Atau apakah PSI ini sebuah metamorfosa dari PSI lama era Soekarno yang sudah mati suri tanpa kabar?

Tony buru-buru membantah hal ini. Meski logonya sama, tapi menurutnya, tak ada hubungan antara PSI-nya Grace sama sosialis-sosialisan. Lambang bunga mawar, kata dia, adalah lambang feminisme.

“Bunga ini untuk menunjukkan jika tak selamanya politik itu keras. Tapi politik juga bisa lembut, feminis,” jelasnya.

Tedi CHO

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid