Pemerintah Kolombia dan FARC Teken Kesepakatan Damai

Pemerintah Kolombia dan gerilyawan marxis Angkatan Perang Revolusioner Kolombia (FARC) sepakat mengakhiri konflik bersenjata yang sudah berlangsung 50 tahun di negeri itu.

Kesepakatan itu terjadi setelah kedua belah pihak setuju meneken kesepakatan gencatan senjata bilateral di kota Havana, Kuba, Rabu (23/6/2016). Pihak pemerintah Kolombia diwakili oleh Presiden Juan Manuel Santos, sedangkan FARC diwakili oleh pimpinan mereka Timoleon Jimenez.

“Hari ini lembaran baru dibuka, yang membawa kembali kedamaian dan memberi anak-anak kami untuk tidak hidup dalam sejarah yang sama,” kata Santos.

Santos mengatakan, kendati dirinya tidak setuju dengan FARC, apalagi visi ekonomi dan politiknya, tetapi setuju perjuangan dilanjutkan melalui sarana politik legal.

“Sebagai Kepala Negara dan orang Kolombia, saya menjamin hak mereka untuk berekspresi dan melanjutkan perjuangan politik mereka dengan sarana legal,” ujarnya.

Dalam kesepakatan gencatan senjata disebutkan tentang pelucutan senjata pemberontak dan demobilisasi. Untuk itu, pemerintah Kolombia akan menyediakan 22 zona demobilisasi. Sebaliknya, FARC wajib meletakkan senjata di bawah pengawasan PBB dalam 6 bulan kedepan.

PBB akan memainkan peran vital sebagai pemantau sekaligus verifikator implementasi kesepakatan ini oleh kedua belah pihak. Termasuk memonitor gencata senjata dan mengawasi proses demobilisasi bekas gerilyawan.

Presiden Santos sendiri ingin ada plebisit untuk mendapatkan persetujuan rakyatnya atas kesepakatan ini. Namun, rencananya ini pasti akan berhadapan dengan penentangan rival politik.

Konflik antara pemerintah Kolombia dan FARC telah menyebabkan 250 ribu orang tewas dan lebih 6 juta orang terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon, yang turut menyaksikan penandatangan kesepakatan itu, mengapresiasi keputusan berdamai dari kedua belah pihak.

“Aku punya rasa kagum yang besar pada pemerintah Kolombia dan FARC, yang menunjukkan ke dunia bahwa perdamian itu mungkin,” kata Ban Ki Moon.

Presiden Kuba Raul Castro juga mengapresiasi kesepakatan gencatan senjata tersebut. Kata Castro, perdamaian bukan hanya kemenangan Kolombia, tetapi juga kemenangan Amerika Latin.

“Kita sudah mendekati akhir dari konflik bersenjata yang sudah lebih dari lima dekade,” kata adik dari pemimpin revolusi Kuba Fidel Castro ini.

Kuba adalah negara yang berjasa mengantarkan Kolombia dan FARC ke meja perundingan.

FARC adalah kelompok gerilyawan kiri yang terbesar dan tersisa di Amerika Latin saat ini. Gerilyawan kiri beraliran marxis ini berdiri pada bulan Mei 1964. FARC lahir sebagai reaksi atas represi rezim kanan Kolombia terhadap petani dan buruh.

Sejak itu FARC melancarkan perjuangan bersenjata melawan pemerintahan Kolombia. Sejak itu hingga 2004, FARC telah memperluas pengaruh teritorialnya di 1050 kota/kabupaten di Kolombia.

Menghadapi FARC, yang mayoritas anggotanya adalah petani, pemerintah Kolombia mengerahkan militer. Tentu saja, dengan dukungan latihan dan senjata dari Amerika Serikat.

Selain FARC, di kolombia masih ada gerilyawan kiri lain, yaitu ELN (Tentara Pembebasan Nasional). ELN sangat terinspirasi oleh Che Guevara. ELN juga tengah melakukan dialog dengan pemerintah Kolombia.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid