Pakar UGM: Gempa Pidie Dampak Pergeseran Sesar Aktif

Pakar gempa Universitas Gajah Mada (UGM) Dr. Gayatri Indah Marliyani berpendapat, gempa berkekuatan 6,5 skala richter yang mengguncang daerah Pidie Jaya, Aceh, pada Rabu (7/12), merupakan dampak sesar aktif di wilayah tersebut.

“Gempa Pidie Jaya ini disebabkan oleh pergerakan sesar aktif di kawasan tersebut. Pergeseran sesar aktif di wilayah tersebut bersifat mendatar dan dekstral (menganan),” ujar Gayatri seperti dikutip ugm.ac.id, Rabu (7/12).

Menurut dia,  sesar aktif yang bergerak di Pidie Jaya ini merupakan cabang dari sesar Sumatera di bagian utara. Sesar ini berorientasi barat laut-tenggara.

“Gempa ini terjadi karena pengaruh dari pergerakan sesar yang sudah ada tapi belum terpetakan sebelumnya,” jelas ahli geologi UGM ini.

Dia melanjutkan, adanya tekanan dari zona subduksi atau penunjaman di selatan Sumatera memberikan gaya tekan yang kuat ke daerah permukaan.  Akibatnya, terbentuk sesar-sesar yang aktif dan pergerakannya menyebabkan gempa.

Mengenai goncangan gempa yang sangat kuat, Gayatri menjelaskan, wilayah dekat pusat gempa tersusun oleh batuan yang tidak kompak. Gelombang gempa merambat lebih cepat pada batuan kompak dan melambat ketika melewati batuan yang lepas-lepas.

“Ketika melewati daerah dengan batuan yang lepas-lepas, amplitudo gelombang gempa akan membesar untuk bisa merambatkan energi yang sama, sehingga getaran yang dirasakan pada daerah ini lebih kuat,” jelasnya.

Berdasarkan analisa Gayatri, gempa di Pidie memang tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Sebab, pergerakan sesar yang terjadi bersifat mendatar dan terjadi di kedalaman yang dangkal.

Namun demikian, ujar dia, daya rusak dari gempa ini besar karena kedalamannya dangkal dan terjadi di daerah pemukiman padat penduduk.

“Banyaknya kerusakan disebabkan karena jarak antara pusat gempa dengan permukaan sangat dekat dan energi yang dilepaskan besar, sehingga ketika mencapai permukaan gelombang dengan energi yang besar ini bersifat merusak,” paparnya.

Kedepan, kata Gayatri, karena Indonesia merupakan wilayah rawan gempa, perlu upaya mitigasi bencana. Misalnya, memetakan jalur sesar atau patahan aktif di seluruh kawasan Indonesia, terutama di kawasan padat penduduk atau perkotaan.

“Indikasi bahwa sesar ini aktif adalah adanya kegempaan di daerah sesar tersebut. Ketika sesar bergerak dan menimbulkan gempa, sesar ini akan cenderung bergerak lagi di masa yang akan datang,” tuturnya.

Disamping pemetaan, tutur dia, perlu juga dilakukan penelitian geologi secara mendalam tentang sejarah kegempaan di sepanjang sesar tersebut. Penelitian itu untuk menyingkap sejarah gempa di masa lalu.

Muhammad Idris

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid