Mengenal Gerakan Boikot Israel (BDS) dan Dampaknya

Israel tak henti-hentinya menuang minyak dalam api konflik dengan Palestina. Sayangnya, resolusi PBB maupun kecaman dunia internasional tak cukup kuat menghentikan agresi militer Israel.

Seperti sekarang ini. Bermula dari dari tindakan Israel mengusir paksa keluarga Palestina di Syeikh Jarrah, Kota Yerusalem Timur. Juga rencana pawai memperingati Hari Yerussalem. Provokasi-provokasi ini memicu reaksi warga Palestina.

Puncaknya, pada Jumat (7/5/2021), saat umat Islam Palestina bersiap menyambut malam Lailatul Qadar, aparat keamanan Israel menyerbu Masjid Al-Aqsa. Serbuan itu menyebabkan ratusan orang Palestina terluka.

Tentu saja, warga Palestina sangat wajar bereaksi. Dunia internasional pun sangat perlu mengecam tindakan keji Israel. Namun, belajar dari lebih 7 dekade konflik Israel-Palestina, cara-cara untuk menekan Israel perlu ditinjau ulang.

Sebagai misal, reaksi Hamas yang membalas dengan serangan roket. Alih-alih membuat Israel tertekan, atau terancam, lalu membuka pintu dialog. Itu mimpi yang jelas-jelas absurd.

Asal tahu saja, sebagai negara dengan kekuatan militer tercanggih di dunia, Israel punya sistem pertahanan anti-rudal yang canggih. Namanya: Kubah besi alias “iron dome”. Seperti diklaim militer Israel, 90 persen roket Hamas berhasil dicegat di udara oleh Kubah Besi.

Tapi, bagi Israel, serangan roket-roket Hamas yang tak efektif itu sudah cukup menjadi dalih untuk menyerang balik wilayah-wilayah Palestina. Tentu saja dengan mobilisasi peralatan perang yang lebih canggih.

Hingga Jumat (14/5) siang, serangan Israel telah menewaskan 109 orang warga Palestina, termasuk 16 anak-anak tak berdosa. Ini belum termasuk 600-an warga Palestina yang terluka.

Resolusi dan kecaman dunia internasional juga tak cukup. Bayangkan, sejak 1948 hingga sekarang, PBB setidaknya sudah mengeluarkan seribuan resolusi untuk urusan Palestina dan Israel. Baik resolusi Majelis Umum, Dewan Keamanan, maupun Dewan HAM PBB.

Sudah saatnya dunia internasional, termasuk Indonesia, memikirkan cara lain untuk menekan Israel. Salah satunya: gerakan boikot, divestasi dan sanksi terhadap Israel. Dalam bahasa Inggris disebut: Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS).

Jadi, gerakan BDS ini muncul di tahun 2015, diisiasi oleh 170 organisasi gerakan sosial, organisasi pengungsi, asosiasi profesional, dan kelompok-kelompok perlawanan di tanah Palestina.

Seperti ditulis di websitenya, BDS terinspirasi oleh gerakan anti-apartheid di Afrika Selatan. Bermula di London, Inggris, pada 1960-an, gerakan anti-apartheid terbilang sukses menekan rezim apartheid di Afrika Selatan.

Gerakannya sederhana, mulai dari tidak membeli produk buatan rezim apartheid di Afsel, memboikot partisipasi rezim apartheid di ajang-ajang olahraga dunia, hingga memboikot kegiatan akademik yang terkait dengan rezim apartheid.

Nah, gerakan BDS mau mengulang kisah sukses dari gerakan apartheid itu. Tanpa harus meneteskan darah, apalagi menembakkan roket yang tak efektif, gerakan BDS berharap bisa menekan Israel.

“BDS menyerukan sebuah aksi untuk menekan Israel agar mematuhi hukum internasional,” tulis BDS di website resminya.

Target gerakan BDS ini adalah melumpuhkan ekonomi dan dukungan dana yang menyokong kebijakan Israel terhadap Palestina. Juga mengisolir dan menghilangkan dukungan internasional terhadap Israel.

Apa tujuan gerakan BDS?

Yang pertama, BDS bertekad mengakhir pendudukan Israel terhadap wilayah Palestina dan penghancuran semua tembok-tembok yang mengurung Palestina.

BDS mendesak Israel untuk mengakui wilayah Palestina yang meliputi Tepi Barat, Yerussalem timur, dan Gaza. Termasuk mengembalikan daratan tinggi Golan (yang dicaplok Israel pada 1967) kepada Suriah.

Yang kedua, Israel harus mengakui hak warga Arab-Palestina yang bermukim di wilayah Israel sejak 1948. Untuk diketahui, seperlima warga Israel adalah keturunan Arab-Palestina. Selama ini, mereka mengalami perlakuan tidak adil dari pemerintah Israel.

Yang ketiga, mendesak Israel mengakui dan menghormati hak-hak pengungsi Palestina untuk kembali ke rumah mereka dan harta-bendanya sesuai resolusi PBB nomor 194.

Terlepas dari tiga tuntutan ini, gerakan BDS mengklaim tidak bersikap terkait solusi jangka panjang atas persoalan Palestina-Israel, entah solusi satu negara maupun solusi dua negara.

Lalu, apa esensi gerakan BDS?

Pertama, gerakan boikot, yaitu memboikot atau mencabut dukungan terhadap segala hal yang berkaitan dengan rezim apartheid Israel, dari pemerintahan, kegiatan olahraga, kegiatan seni-budaya, hingga semua produk dan perusahaan Israel yang terkait langsung dengan pelanggaran HAM di Palestina.

Dalam sejarahnya, gerakan boikot bukan hal-hal baru dalam sejarah perjuangan bangsa-bangsa Arab menentang Israel. Sepanjang 1948 hingga 1994, gerakan boikot bangsa-bangsa Arab merugikan Israel sebesar $40 miliar.

Yang kedua, gerakan divestasi, yaitu kampanye mendesak bank, dewan-dewan lokal, gereja, pemilik dana pensiun, maupun universitas untuk menarik dana investasinya dari perusahaan-perusahaan Israel.

Di AS, pada 2015, gereja yang bernaung di bawah Gereja Kristus Bersatu (United Church of Christ), yang menaungi 4800-an gereja dan 800 ribu jemaah, sudah menyerukan divestasi terhadap perusahaan-perusahaan yang mengambil untung atas kejahatan Israel di Palestina.

Yang terakhir, gerakan memberi sanksi, yaitu kampanye menekan pemerintah masing-masing untuk mengambil tindakan terhadap Israel.

Bentuknya bisa beragam, mulai dari melarang bisnis dengan pemukiman ilegal Israel, mengakhiri kerjasama militer dan perdagangan dengan Israel, hingga mendesak badan-badan internasional, seperti PBB dan FIFA, untuk menendang keluar Israel. 

Logikanya sederhana saja. Kalau Israel tak pernah mendengar resolusi PBB dan kecaman dunia internasional, kenapa dunia harus memberi tempat kepada negara apartheid itu.

Faktanya, kendati gerakan BDS tak menembatkan roket sebutir pun, tetapi dampaknya membuat Israel dan penyokongnya ketar-ketir.

Laporan PBB 2014 menyebut gerakan BDS berada di balik anjloknya investasi asing ke Israel (turun 46 persen). Studi dari Rand Corporation menyebut gerakan BDS berpotensi menggerus 1-2 persen PDB Israel per tahunnya. 

Perusahaan raksasa dari Perancis, Veolia, juga sudah menghentikan bisnisnya di Israel, gara-gara terusik oleh kampanye BDS. Perusahaan raksasa lain, seperti Orange, G4S dan Unilever, juga menyusul.

Ada ribuan artis ternama, seperti Roger Waters (Pink Floyd), Faithless, Lauryn Hill, Brian Eno dan Elvis Costello, juga menyatakan tak mau tampil di tanah Israel.

Sejumlah nama besar, seperti Stephen Hawking, Adolfo Pérez Esquivel (peraih Nobel), Ken Loach (sutradara film), Evo Morales (mantan Presiden Bolivia), Manuel Zelaya (mantan Presiden Honduras), hingga Desmond Tutu, juga mendukung gerakan ini.

Israel terpaksa mengerahkan anggaran besar untuk menghalau kampanye BDS. Sheldon Adelson, seorang pengusaha kaya Israel, sampai menggelontorkan jutaan dollar uang pribadinya untuk menghalau kampanye BDS di kampus-kampus Amerika.

Selain itu, di AS, ada yang namanya Canary Mission, yang mengumpulkan data mahasiswa, tenaga pengajar, professor, maupun organisasi yang yang dianggap anti-Israel.

Amerika Serikat, sekutu paling loyal Israel, sudah mengeluarkan cap yang menyebut gerakan BDS sebagai gerakan anti-semit atau anti-Yahudi.

BDS sendiri menolak disebut sebagai gerakan anti-Yahudi. Mereka hanya membela hak-hak warga Palestina sebagai manusia yang punya hak untuk diperlakukan sama dengan manusia atau bangsa-bangsa lain.

“BDS berpijak pada tiga nilai: kemerdekaan, keadilan, dan kesetaraan,” tulis BDS di websitenya.

BDS terbuka pada partisipasi warga Israel maupun orang-orang Yahudi di berbagai belahan dunia yang bersedia untuk memperjuangkan perdamaian Palestina di atas prinsip kemerdekaan, kesetaraan, dan keadilan.

Nah, bayangkan saja kalau BDS mendapat dukungan luas secara internasional, ekonomi Israel akan rontok dan dukungan internasionalnya akan hilang. 

Ketika ekonomi Israel rontok, masihkah ia sanggup menciptakan dan membiayai mesin-mesin perangnya?

Tentu saja, gerakan BDS harus disandingkan dengan metode perjuangan sipil lainnya, dari aksi massa, mogok kerja, pembangkangan sipil, hingga perjuangan diplomasi.

RAYMOND SAMUEL

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid